harapanrakyat.com,- Agus Sujatno, warga Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Bandung diketahui merupakan bomber atau pelaku pengeboman Polsek Astana Anyar, Bandung, Jawa Barat pada Rabu (7/12/2022).
Agus diketahui merupakan residivis kasus terorisme yang menjalani hukuman di Lapas Nusakambangan selama 4 tahun. Agus kemudian bebas bersyarat pada Maret 2021 lalu.
Bukannya tobat, Agus malah jadi bomber Polsek Astana Anyar. Karena aksinya, seorang polisi meninggal dunia dan 11 lainnya luka-luka. Lantas kenapa residivis kasus terorisme bisa kembali beraksi?
Pengamat terorisme yang juga seorang kriminolog, Dr. Ardi Putra Prasetya, M.Krim mengatakan, pelaku kejahatan biasa biasanya berubah setelah menjalani hukuman pidana.
“Namun ini tidak berlaku dengan kejahatan ideologis seperti terorisme,” ujar Ardi, Rabu (7/12/2022).
Baca Juga: Inilah Sosok Pelaku Bom Astana Anyar Bandung, Eks Napi Terorisme
Sebaliknya, lanjut Ardi, banyak pelaku teror yang menganggap hukuman yang dijalani di Lapas merupakan bagian dari perjuangan suci yang diyakininya.
“Sementara di sisi lain, regulasi dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2018 hanya mengatur tindak pidana terorisme berdasar perbuatannya. Bukan ideologi pro kekerasannya.
Jadi, tidak heran ketika mantan napi terorisme kembali ke masyarakat, dia masih memiliki muatan ideologis ekstremisme,” jelasnya.
Menurut Ardi, ada dua pendekatan untuk menghentikan seseorang melakukan aksi teror, yaitu deradikalisasi dan disengagement (pelepasan).
Jika deradikalisasi fokus untuk mengubah pemikirannya, maka disengagement fokus pada social setting yang berimplikasi pada perubahan perilakunya.
“Saya menggunakan teori desistensi dari terorisme untuk meneliti bagaimana seseorang bisa lepas dari jerat teror dan isme-nya,” jelasnya.
Desistensi, menurut Ardi, memiliki multifaktor yang berkaitan. Mulai dari lingkungan terdekat seperti keluarga hingga kepercayaan terhadap hukum yang berlaku.
Ardi menyebut, pelaku bom Polsek Astana Anyar belum melewati proses desistensi. Sehingga, hanya persoalan waktu sampai pelaku melakukan kembali aksi terornya.
Saya melihat peristiwa ini menjadi titik balik kita untuk lebih aware terhadap aksi terorisme,” katanya. (R7/HR-Online/Editor-Ndu)