Catatan sejarah Indonesia pernah merekam tragedi berdarah yang menewaskan Gubernur Suryo di hutan belantara Ngawi, Jawa Timur.
Kisah tewasnya Gubernur Suryo dilatarbelakangi dendam Partai Komunis Indonesia (PKI). Organisasi berlambang palu dan arit ini menyimpan dendam pada para penguasa karena mereka dianggap sebagai kaum “Kabir” (Kapitalis Birokrat).
Pembunuhan Gubernur Suryo oleh PKI terjadi tepat di titik hutan sepi daerah Ngawi bernama Hutan Walikukun. Letaknya di sebuah desa terpencil kecamatan Widodaren, Kabupaten Ngawi, Jawa Timur.
Menurut Jon Monfries dalam bukunya berjudul ”A Prince in a Republic: The Life of Sultan Hamengkubuwono IX of Yogyakarta” (2003), jasad Gubernur Suryo ditemukan tergeletak bersama dua ajudan yang tak jauh dari jalan raya yang dilewatinya.
Baca Juga: Profil Sudisman, Petinggi PKI Satu-satunya yang Diadili Mahmilub
Berikut ini kisah tragedi berdarah yang menimpa Gubernur pertama di Jawa Timur bernama RMT. Ario Soerjo.
Profil Gubernur Soerjo, Terbunuh dalam Tragedi Berdarah di Ngawi
RMT. Ario Soerjo lahir pada tanggal 9 Juli 1898 di Magetan, Karesidenan Madiun, Jawa Timur. Ia berasal dari keluarga ningrat tercermin dari gelar Raden Mas Tumenggung (KMT) di awal namanya.
Selain keturunan ningrat beliau juga tercatat sebagai Gubernur pertama Jawa Timur yang menjabat dari tahun 1945-1947.
Sebagian masyarakat Surabaya mengenalnya sebagai pahlawan sejati pembela bangsa, sebab beliau merupakan sosok penting dibalik peristiwa 10 November 1945.
Gubernur Soerjo adalah tokoh Nasional penggerak Arek-Arek Suroboyo agar tidak menyerah meskipun sudah diultimatum Sekutu akan diserang habis-habisan. Peristiwa ini kelak terkenal sampai saat ini dengan momentum Hari Pahlawan Nasional.
Selama hidupnya Gubernur Soerjo terkenal sebagai pahlawan sejati. Beliau merupakan pemimpin yang bertanggung jawab dan selalu membela hak-hak kaum tertindas.
Namun kiprah tersebut jarang diketahui banyak orang, sebab Gubernur Soerjo merupakan pemimpin yang tidak ingin niat baiknya diketahui oleh siapapun. Para ahli sejarah menyamakan gerakan ini dengan aktor imajinasi Robinhood.
Bersitegang dengan PKI
Karena menjadi pemimpin yang Anti Komunis dan berpegang teguh pada Pancasila, Gubernur Suryo masuk dalam daftar incaran PKI untuk dimusnahkan alias dibunuh.
Pencarian Gubernur Suryo sudah dilakukan PKI semenjak Ia aktif menjabat sebagai Gubernur. Namun karena kekuasaan Suryo masih kuat akibat jadi Gubernur Jawa Timur, PKI mengundurkan sementara niat tersebut.
Mereka menunggu sampai Gubernur Suryo tidak punya lagi kekuasaan, PKI menunggu momen di mana namanya tinggal menjadi mantan Gubernur yang tidak berarti.
Perselisihan Gubernur Suryo dengan PKI pernah terjadi akibat PKI membenci para pejabat di Surabaya. Menurut orang-orang Komunis para pejabat seperti Gubernur Suryo adalah sekelompok orang tak berguna yang hanya bisa makan enak dan tidur enak.
Baca Juga: Profil Njoto, Wakil Ketua PKI yang Dipecat Akibat Perselingkuhan
Gubernur Suryo membantah ini semua, Ia tak rela dirinya dan bawahannya difitnah tidak bekerja dan hanya memakan gaji buta. Ia pun melawan seluruh fitnahan itu dengan menantang PKI berhadapan langsung di Surabaya.
Sebagai mantan kombatan perang 10 November 1945, Gubernur Suryo tidak gentar, apalagi khawatir dan takut gugur melawan PKI.
Sebab Ia memegang teguh kepercayaan jika dirinya gugur akibat bangsa sendiri, maka kebenaran yang sesungguhnya sedang diperjuangkan sudah selesai dan terealisasi.
Ketika bersitegang antara Gubernur Suryo dengan PKI reda, tak serta merta membuat anggota partai palu arit ini berhenti.
Mereka menyimpan dendam besar pada Gubernur Suryo. Mereka sedang mengatur waktu untuk bisa membunuh Gubernur Suryo dalam waktu dekat.
Terbunuh PKI, Jasad Gubernur Suryo Ditemukan Setelah 4 Hari
Peristiwa perencanaan pembunuhan Gubernur Suryo tersebut berawal dari tanggal 10 November 1948. Saat itu beliau sudah tidak menjabat sebagai Gubernur Jawa Timur sedang menghadiri peringatan Hari Pahlawan Nasional di Yogyakarta.
Selesai acara Gubernur Suryo pamit undur diri dan kembali ke rumahnya di Jawa Timur. Namun Hamengkubuwono IX sempat melarangnya karena Madiun dan Jawa Timur sedang tidak baik-baik saja. PKI di sana kerap melakukan aksi penculikan dan pembunuhan pada para pejabat daerah.
Namun Gubernur Suryo tetap pamit pulang. Ia juga sempat mampir ke rumah Residen Sudiro di Solo Jawa Tengah pada tanggal 11 November 1945. Di sana berbagai kendala teknis seperti mobil mogok dan ban mobil pecah terjadi.
Seperti firasat buruk yang menandakan Gubernur Suryo bersama rombongannya agar tidak pulang.
Baca Juga: Sejarah PKI Bela Kulit Hitam hingga Demo Kedubes AS di Jakarta
Bahkan sebagaimana Sri Sultan Hamengkubuwono, Residen Sudiro juga sempat melarang Gubernur Suryo pulang dan menginap barang 2 atau 3 hari di rumahnya.
Namun jawaban sang mantan Gubernur pertama Jawa Timur itu sama, Ia tetap ingin pulang meskipun ditemani dua ajudan yang berasal dari anggota militer.
Semua dugaan negatif itu ternyata benar, Gubernur Suryo kena musibah yang berakhir pada tragedi berdarah di hutan belantara Ngawi. Rombongan mobil Suryo yang berisi tiga orang itu dicegat segerombolan orang tak dikenal.
Sebagian dari mereka menggunakan atribut PKI, namun ada juga yang hanya menggunakan baju hitam pekat. Setelah bersitegang melawan PKI, Gubernur Suryo dibawa ke hutan dan meninggalkan mobilnya yang terparkir di pinggir jalan raya Ngawi-Surabaya.
PKI membunuh Gubernur Suryo karena Ia kerap melawan pernyataan gerombolan PKI. Adapun pembunuhan ini dilakukan oleh pemimpin PKI di Madiun bernama Maladi Yusuf.
Untuk mengenang jasa-jasa Gubernur Suryo, pemerintah membangun tugu peringatan. Hingga saat ini tempat kejadian pembunuhan tersebut diabadikan menjadi lokasi bersejarah bernama Monumen Suryo. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)