Sejarah tambang timah di pulau Bangka merupakan salah satu sejarah yang wajib diketahui. Pasalnya Pulau Bangka menjadi salah satu penyumbang terbesar produksi timah di dunia.
Pernyataan ini berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Sulista pada tahun 2019 berjudul, “Keterkaitan Lapangan Pekerjaan Pertanian dan Pertambangan serta Pengaruhnya terhadap Persentase Tingkat Pengangguran Terbuka di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung”.
Baca Juga: Sejarah Tanaman Lada di Bangka, Benih Awalnya Berasal dari India
Timah di Pulau Bangka juga merupakan timah dengan kualitas terbaik di dunia. Sehingga banyak produsen handphone di dunia yang sangat bergantung pada produksi timah tersebut.
Saat ini pengelolaan Tambang Timah di Pulau Bangka menjadi tanggung jawab langsung dari PT Timah TBK yang bergerak di bidang pertambangan dan eksplorasi bahan tambang.
Namun, dibalik perjalanan sejarah tambang timah di Pulau Bangka berkaitan erat dengan penyebaran orang-orang Tionghoa di Pulau Bangka.
Sejarah Awal Tambang Timah di Pulau Bangka
Pulau Bangka terletak di sebelah timur Pulau Sumatera. Pulau Bangka masuk ke dalam wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
Terdapat banyak versi mengenai asal usul penamaan Pulau Bangka. Menurut Anastasia Wiwik Swastiwi dalam Lintas Sejarah Perdagangan Timah di Bangka Belitung Abad 19-20(2017), setidaknya ada empat versi penamaan Pulau Bangka.
Salah satu asal usul penamaan yang cukup terkenal adalah Pulau Bangka berasal dari kata Wangka (Vanca) yang berasal dari bahasa Sansekerta.
Kara Wangka sendiri berarti Timah yang muncul dalam Kitab Milindrapantha dari India.
Memang penamaan ini sejalan dengan Pulau Bangka yang menghasilkan barang tambang berupa timah.
Menurut Erwiza Erman dalam Menguak Sejarah Timah Bangka Belitung (2009), studi awal yang menjelaskan mengenai praktek penambangan di Bangka terjadi pada tahun 1710.
Namun, menurutnya bisa jadi angka ini agak keliru. Timah di Pulau Bangka mungkin saja sudah dikelola jauh ketika Kerajaan Sriwijaya masih Berjaya.
Pendapat ini berdasarkan pada penemuan Prasasti Kota Kapur yang menjelaskan Pulau Bangka sebagai bagian dari wilayah Kerajaan Sriwijaya.
Kedatangan Orang-Orang Tionghoa
Orang-orang Tionghoa yang datang ke Pulau Bangka sebenarnya sudah bisa dilacak sejak Masa Kesultanan Palembang yang dipimpin oleh Sultan Mahmud Badarudin I.
Kedatangan orang-orang Tionghoa ini tidak lain adalah sebagai pekerja-pekerja tambang di Pulau Bangka.
Orang-orang Tionghoa yang datang ke Pulau Bangka kebanyakan berasal dari suku Hakka (Khek) dan Hokkian (Hoklo).
Mereka sengaja didatangkan oleh Sultan Palembang untuk membantu produksi timah yang waktu itu sudah menembus pasar luar negeri.
Mengingat orang-orang pribumi di Pulau Bangka kebanyakan tinggal di kebun-kebun dan bercocok tanam di kebun-kebun mereka.
Baca Juga: Seniman pada Era Revolusi Fisik, Pasukan Perang yang Nyentrik
Menurut Agung Purnama dalam Kelekak Sejarah Bangka (2015), setidaknya terdapat dua cara kedatangan orang-orang Tionghoa ke Tanah Bangka.
Kedatangan pertama dilakukan oleh mereka yang sudah sangat miskin dengan menggadaikan kemerdekaan dirinya pada calo kerja atau kentou yang akan membawa mereka berlayar ke selatan.
Kedatangan kedua dilakukan oleh mereka yang memang sudah memiliki uang dan terbuai impian untuk menemukan tambang emas di negeri Nanyang.
Orang-orang Tionghoa ini memang terkenal dengan keuletannya dan kerja keras mereka. Di sela-sela kegiatan pertambangan yang dilakukan mereka biasanya melakukan kegiatan berladang berupa lada atau sahang.
Untuk mengurusi perladangan ini biasanya mereka mengupah orang-orang pribumi untuk merawat ladang lada mereka.
Akulturasi Kebudayaan Lokal dan Tionghoa
Orang-orang pribumi atau Melayu dan Tionghoa berinteraksi sudah sangat lama sekali. Bahkan interaksi ini terjadi sudah berabad-abad lamanya sejak awal kedatangan mereka ke Pulau Bangka.
Menurut Dra. Evawarni, M.Ag, dalam Hubungan Antar Suku Bangka di Kota Pangkalpinang (2009), akulturasi antara dua kebudayaan tidak bisa dihindari.
Baca Juga: Sejarah Kecelakaan Pertama di Pekalongan, Satu Keluarga Tewas
Banyak kebudayaan Tionghoa yang berakulturasi dengan kebudayaan setempat, baik dalam hal kuliner, teknik penambangan, perkebunan, hingga perkawinan antar etnis.
Orang-orang Tionghoa banyak yang melakukan perkawinan dengan penduduk-penduduk lokal, terutama di daerah kota seperti Pangkalpinang.
Beberapa makanan khas Bangka yang mendapatkan pengaruh dari kebudayaan Tionghoa adalah seperti Pantiaw, Mie Bangka, Otak-otak panggang, hingga Martabak Bangka atau Halopan (Hok Lo Pan).
Selain dari kuliner ada banyak lagi adat istiadat di Pulau Bangka yang sangat erat dengan kebudayaan Tionghoa.
Bahkan hasil kebudayaan hari ini merupakan akulturasi orang-orang Melayu dengan Tionghoa yang terjadi berabad-abad lamanya. (Azi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)