Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruProfil Njono Prawiro, Gembong PKI Asal Cilacap yang Divonis Mati

Profil Njono Prawiro, Gembong PKI Asal Cilacap yang Divonis Mati

Njono Prawiro, merupakan salah satu profil nama paling beken dalam sejarah PKI tahun 1965. Pria asal Cilacap Jawa Tengah ini kemudian mendapat vonis mati dari pengadilan Mahkamah Militer Luar Biasa karena terlibat dalam peristiwa G30S/PKI 1965.

Nama Njono terbukti sebagai tokoh penting dalam peristiwa G30S/PKI. Ia merupakan Ketua Komite PKI di Jakarta yang bertugas mengerahkan 2.000 anggota Pemuda Rakjat untuk menghabisi nyawa para Jendral kontra revolusi.

Pernyataan ini sebagaimana mengutip pendapat Victor M. Fic dalam buku ”Kudeta 1 Oktober 1965: Sebuah Studi tentang Konspirasi” (2005).

Victor M. Fic juga menyebut Njono sebagai tokoh PKI yang terkenal santai. Kendati diinterogasi oleh militer dengan represif tak membuat keteguhan hati seorang Njono runtuh dalam pengakuan yang pasti.

Baca Juga: Sejarah Gedung Bappenas, Tempat Mengadili Gembong PKI

Pengalaman serupa diungkapkan oleh Sutradara Lesbumi, Misbach Yusa Biran dalam bukunya ”Kenang-kenangan Orang Bandel” (2009). Misbach menyebut Njono sebagai Gembong PKI yang paling sulit diterka gerak-geriknya.

Selama persidangan berjalan Njono seperti orang yang tidak bersalah. Tenang, santai, bahkan melontarkan candaan pada Misbach dengan meminta honor akibat di-shooting oleh sutradara Lesbumi itu saat pengadilan berlangsung.

Kehidupannya juga cukup misterius. Apakah Njono sudah tahu apabila rencana kup gagal, ia akan berakhir pada kematian, sehingga tenang dan tidak gugup sama sekali meskipun divonis mati oleh pengadilan? Berikut ulasan lengkap tentang siapakah sebenarnya Njono.

Profil Njono Prawiro, Anak Seorang Buruh Kereta Api di Cilacap

Menurut Nugroho Notosusanto dalam ”Tragedi Nasional Percobaan Kup G30S/PKI di Indonesia” (1989), Njono merupakan orang Cilacap anak dari seorang buruh rendahan Kereta Api di Yogyakarta.

Sejak kecil keluarga Njono menilai anaknya sebagai pribadi yang pendiam. Tidak seperti anak-anak lainnya Njono cenderung menutup diri dari teman-temannya.

Oleh sebab itu, kebiasaan sebagai pendiam tercermin ketika Njono disidang pengadilan Mahmilub dan divonis hukuman mati akibat terlibat dengan peristiwa G30S/PKI.

Pria asal Cilacap yang tak pernah gugup dalam menghadapi situasi segenting apapun, memiliki nama lengkap Njono Prawiro. Ia lahir di Cilacap, Jawa Tengah pada tanggal 28 Agustus 1925.

Sebagai anak dari pensiunan buruh rendahan kereta api di Yogyakarta, profil Njono Prawiro dikenal kerap bergaul dengan kelompok buruh. Melihat kondisi ekonomi buruh yang sengsara membuat hati Njono iba dan berkeinginan menolong mereka di masa depan.

Baca Juga: Sejarah PKI Bela Kulit Hitam hingga Demo Kedubes AS di Jakarta

Ketika Njono berada pada usia pemuda, dan memilih tidak menamatkan sekolah guru, Ia aktif dalam organisasi Barisan Buruh Indonesia (BBI). Cita-citanya menolong kaum buruh kereta api teman ayahnya semakin dekat dengan kenyataan.

Tokoh PKI yang pernah bekerja menjadi wartawan di Kantor Berita zaman Jepang ini semakin dekat dengan PKI tatkala jabatannya dalam (BBI) naik menjadi Ketua Partai Buruh Indonesia (PBI) pada tanggal 8 Nopember 1945.

Sejarah Karir Politik Njono Jadi Gembong PKI

Karir politik Njono dalam (PBI) membuatnya semakin dekat dengan PKI yang lebih radikal dari partainya. Rekam jejak politik Njono diperhatikan oleh petinggi PKI kala itu dan memilih namanya sebagai pejabat Sekretaris Jenderal II PKI pada tahun 1953.

Njono terkenal sebagai sosok politisi yang revolusioner. Seluruh pemikirannya selalu tertuang dalam agenda-agenda pembuka diskusi bersama Aidit.

Karena kecocokan pemikiran dengan Aidit, nama Njono akhirnya masuk dalam daftar nama tokoh Polit Biro C.C. PKI bersama dengan, D.N. Aidit, Sudisman, Njoto, dan Sjam Kamaruzaman.

Ketika peristiwa G30S/PKI meletus pada tahun 1965, nama Njono masuk dalam daftar pencarian orang akibat terlibat dengan tragedi berdarah tersebut.

Mahkamah militer menetapkan Njono sebagai Gembong PKI akibat mengerahkan 2.000 Pemuda Rakjat dalam latihan militer di Lubang Buaya. Nantinya latihan ini juga sebagai persiapan pasukan yang akan menghabisi kelompok kontra revolusi.

Penetapan tersangka pada Njono dalam persidangan tak membuat mantan Sekjend II PKI zaman Aidit ini gentar. Sebab meskipun mendapat vonis mati, Njono tidak mencerminkan raut wajah yang sedih atau bahkan frustasi.

Baca Juga: Profil Djoko Pekik: Terlibat PKI 1965, Lukisannya Laku 1 Miliar

Diadili di Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub)

Njono divonis hukuman mati pada tanggal 21 Februari 1966. Saat itu, Njono tetap tidak menunjukkan rasa sedih, apalagi bersalah atas apa yang telah diperbuatnya.

Gembong PKI asal Cilacap, Jawa Tengah ini justru menunjukkan ekspresi yang tenang. Tidak banyak bicara, dan sesekali bercanda dengan orang-orang yang mengelilinginya di persidangan.

Salah satu saksi yang pernah dibecandain oleh Njono adalah mantan sutradara kondang di Lesbumi, Misbach Yusa Biran. Ia mengaku jika Njono pernah melemparkan pertanyaan menohok padanya “meminta honor”.

Misbach yang sedang meliput suasana persidangan Njono kaget karena khawatir ada prasangka buruk dari orang sekitar. ”Honor Apa? “ Kata Misbach.

Njono yang sedang duduk di tengah persidangan menjawab sambil tersenyum, “honor main film. Kan saya di-shooting Anda”.

Hingga tewasnya Njono karena eksekusi mati, publik yang saat itu menghadiri persidangannya mengenang Gembong PKI ini sebagai seorang komunis sejati. Njono juga sepertinya yakin apa yang telah diperbuatnya tidak meninggalkan penyesalan. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah tuai hujatan pedas dari warganet. Ini merupakan buntut panjang pasca pengakuan Nadin yang menegaskan jika ia menyesal pernah ikut ajang pencarian bakat...
Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

harapanrakyat.com,- Kepadatan arus balik lebaran di jalur selatan Garut, Jawa Barat, kembali terlihat pada Jumat (4/4/2025) pagi ini. Arus balik kendaraan dari arah Tasikmalaya,...
Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Dunia hiburan tanah air kembali berduka, aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada usia 68 tahun. Artis Indonesia legendaris ini, menghembuskan nafas terakhirnya pada...
Pria Disabilitas Asal Grobogan

Pria Disabilitas Asal Grobogan Jadi Korban Curas di Sumedang, Polisi Buru Pelaku

harapanrakyat.com,- Seorang pria disabilitas asal Grobogan, Jawa Tengah, menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas) di Jalan Raya Sumedang-Subang. Tepatnya di Dusun Sela Awi, Desa...
Contraflow dan One Way

Jadwal Contraflow dan One Way Arus Balik Lebaran 2025

harapanrakyat.com,- Korlantas Polri menerapkan sistem contraflow dan one way guna mengantisipasi kepadatan kendaraan tujuan Jakarta pada arus balik Lebaran 2025. Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit...
Layanan libur lebaran

Permudah Urus Dokumen Kependudukan, Disdukcapil Ciamis Buka Layanan saat Libur Lebaran, Catat Waktunya!

harapanrakyat.com,- Permudah masyarakat urus dokumen, Disdukcapil Ciamis menggelar pelayanan khusus di luar jam kerja. Acara ini berlangsung Kamis (3/4/2025) malam. Pelayanan di luar jam kerja...