Peristiwa Cimareme 1919 merupakan sejarah kelam yang mengisahkan pembantaian petani di Garut. Tragedi berdarah itu dilakukan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda kepada kelompok petani Garut pimpinan Haji Hasan.
Kejadian ini disebabkan oleh Haji Hasan tidak ingin menyebabkan kesengsaraan akibat mematuhi peraturan baru pemerintah kolonial. Sebab dalam peraturan itu Belanda memaksa para petani di Garut untuk menyetorkan 4 pikul padi setiap panen.
Pemaksaan ini dianggap memberatkan sesama petani di Cimareme, Garut, Jawa Barat. Haji Hasan yang tidak tega melihat para petani kecil sengsara akhirnya mengadakan perlawanan kepada pemerintah kolonial. Mereka mengangkat senjata dan memberontak Belanda namun gugur tak tersisa.
Baca Juga: Sejarah Rijsttafel, Kuliner Hasil Asimilasi Eropa dan Pribumi
Meskipun Haji Hasan dan beberapa petani lainnya gugur dalam peristiwa ini, sejarah mencatat perlawanan Haji Hasan di Cimareme Garut membawa dampak yang luas bagi pemberontakan-pemberontakan di masa mendatang.
Bagaimana sejarah Haji Hasan bisa menginspirasi generasi penerus untuk melakukan pemberontakan pada Belanda? Berikut penjelasannya.
Sejarah Terjadinya Peristiwa Cimareme 1919
Awal terjadinya peristiwa Cimareme 1919 disebabkan oleh krisis pangan yang menimpa Hindia pada tahun 1910. Kala itu dunia sedang dilanda peperangan yang mengakibatkan kesulitan sumber pangan dan ekonomi daerah. Karena Perang Dunia I yang terjadi dari tahun 1914 -1918 Hindia Belanda menderita.
Penderitaan ini disebabkan oleh mahalnya harga bahan pokok yang dibutuhkan untuk kehidupan sehari-hari. Terutama beras yang menjadi sumber makanan orang-orang Asia layaknya pribumi Hindia Belanda.
Menurut Robert van Niel dalam bukunya berjudul, ”Munculnya Elite Modern Indonesia” (1984), karena kesulitan sumber makanan (beras) Syarikat Islam pernah mengusulkan agar ladang tebu sementara dijadikan untuk persawahan. Namun usulan ini ditolak karena Tebu masih menjadi komoditas termahal Hindia Belanda di pasaran dunia.
Pemerintah kolonial tidak memikirkan kepentingan hidup bersama, mereka memilih kemenangan negara memperoleh ekonomi dari penjualan tebu daripada harus mengorbankan ladang gula emas ini untuk memberikan makan orang-orang pribumi.
Lebih miris lagi pemerintah kolonial memanfaatkan para petani pribumi untuk memberikan jatah beras setiap panen. Para petani yang memiliki sawah di seluruh Jawa wajib untuk menyetorkan penjualan beras pada pemerintah kolonial sebanyak 4-5 pikul. Beras itu dihargai secara murah dengan uang sejumlah 4,5 gulden.
Baca Juga: Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Pertama yang Melawan Portugis
Kebijakan paksa ini pun muncul menjadi masalah. Banyak para petani yang mengeluh kesulitan dan kelaparan akibat hasil panennya tidak mencukupi kebutuhan pangan keluarga mereka. Haji Hasan sebagai petani kaya di Cimareme mengusulkan agar kebijakan itu diubah.
Bahkan Haji Hasan mempelopori penolakan penyetoran padi 4-5 pikul untuk Belanda. Penolakan ini bermaksud untuk mengagitasi semangat rakyat Cimareme Garut untuk mengadakan perlawanan pada Belanda. Selain itu perlawanan ini juga merupakan upaya Haji Hasan melindungi keluarganya agar terhindar dari wabah kelaparan.
Haji Hasan Mengangkat Senjata
Penolakan yang dilakukan oleh Haji Hasan nampaknya tidak direspon baik oleh pemerintah kolonial. Malahan orang-orang Belanda itu mengintimidasi kelompok Haji Hasan agar menyetorkan padi sebanyak yang telah ditentukan di kantor residen secepatnya. Namun intimidasi ini tidak dihiraukan, Haji Hasan justru menantang balik.
Pemimpin petani dalam peristiwa Cimareme 1919 ini kemudian berkirim surat pada Bupati Garut, R.A.A. Suria Kartalegawa yang berisi penentangannya untuk Belanda. Surat belum sampai, namun pemerintah pusat kolonial di Batavia keburu menyuruh Bupati Garut itu mengirim pasukan Marsose ke tempat Haji Hasan.
Mendengar kabar ini Haji Hasan tidak langsung khawatir dan panik. Ia justru mengumpulkan seluruh anggota keluarga untuk mendukung perlawanannya pada Belanda. Karena menyimpan aura kharismatik yang kuat, seluruh petani dan keluarga Haji Hasan ikut dalam pertempuran tersebut.
Mereka mempersiapkan senjata yang berasal dari perkakas pertanian. Tidak ada senapan, apalagi granat yang bisa menyerang musuhnya dari jarak dekat. Pasukan Haji Hasan hanya berbekal tekad bulat dan doa yang kuat.
Pasukan Marsoses yang dikirim Bupati Garut Surya Kartalegawa pun sampai di kediaman Haji Hasan. Massa sudah berkumpul dan siap menyerang Marsose, namun Belanda memberikan usulan agar peperangan tidak terjadi. Bukannya berdamai, kelompok Haji Hasan memilih perang.
Alhasil tembakan peluru pertama Marsose mengenai dada Haji Hasan. Pemimpin tani di Cimareme ini pun gugur dalam perjuangannya.
Anhar Gonggong dalam buku berjudul ”Sejarah Daerah Jawa Barat” (1977), mengatakan ada 7 orang yang tewas dalam peristiwa Cimareme 1919. Sedang 9 orang lainnya luka berat dan dimasukkan dalam penjara.
Baca Juga: Tragedi Berdarah di Ngawi: Gubernur Suryo Dibunuh PKI
Memotivasi Pemberontakan Pribumi Terhadap Belanda
Peristiwa Cimareme 1919 yang dipimpin oleh Haji Hasan ini dipercaya memotivasi terjadinya pemberontakan-pemberontakan pribumi kepada Belanda. Banyak para generasi pejuang yang terilhami oleh keberanian Haji Hasan dalam membela kaum yang lemah.
Adapun salah satu motivasi yang muncul akibat peristiwa Haji Hasan tercermin dari gerakan golongan komunis di Ciamis yang pernah memberontak tahun 1926. Dengan kata lain peristiwa pemberontakan petani di Garut tahun 1919 ini telah membuka celah keberanian pribumi untuk melawan Belanda.
Meskipun memotivasi berkobarnya pemberontakan di berbagai daerah di Priangan Timur, peristiwa Cimareme tersebut juga telah berdampak pada kemunduran Syarikat Islam. Organisasi yang dipimpin oleh H.O.S Cokroaminoto di Surabaya ini ternyata kena getahnya akibat meletus pemberontakan Haji Hasan di Cimareme.
Pemerintah kolonial Belanda mencurigai organisasi tersebut sebagai dalang utama peristiwa Haji Hasan meletus. Sebab Haji Hasan sendiri begitu dekat dengan para pemimpin Syarikat Islam di Jawa Barat, khususnya afdeling Garut.
Akibatnya Syarikat Islam yang telah dibubarkan pada April 1917 yang lalu itu dikecam oleh Belanda. Tidak ada lagi pribumi yang bisa menjadi anggota organisasi Islam terbesar kedua setelah Muhammadiyah. Para pemimpinnya dipenjarakan di sel tahanan khusus orang-orang berbahaya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)