Pemberontakan Ciomas 1886 merupakan gerakan petani di Bogor yang menolak pajak tinggi kolonial. Penguasa Belanda mewajibkan masyarakat Ciomas untuk membayar pajak dengan menggunakan hasil perkebunan secara eksploitatif.
Pemberlakuan pajak yang tinggi akibat tanah Ciomas seluas 9000 bau ini merupakan wilayah perkebunan milik swasta dan tuan tanah Eropa secara perorangan. Awal mula kepemilikan ini berasal dari zaman pendudukan VOC.
Orang-orang Belanda yang saat itu tergabung dalam VOC menjual tanah Ciomas pada swasta (partikelir) untuk menutupi kerugian perkongsian akibat korupsi.
Baca Juga: Sejarah Perang Kedondong, Rakyat Cirebon Menggempur Belanda
Tanah itupun dijual dengan murah dan mudah dibeli oleh para tuan tanah yang berasal dari Eropa, namun kebanyakan tanah di sana dibeli oleh orang-orang Belanda non-VOC.
Di atas tanah seluas 9000 baru itu ada 15.000 penduduk yang menempati Ciomas. Mereka berasal dari orang pribumi yang berprofesi sebagai petani.
Hidupnya sederhana dan tidak memiliki tabungan untuk menimbun harta kekayaan. Para petani di Ciomas hanya berbekal perkakas dan benih tumbuhan untuk menghidupi keluarga sehari-hari.
Karena penetapan pajak yang tinggi oleh kolonial, para petani merasa tertekan. Kehidupan yang tadinya tentram mendadak berubah jadi runyam. Hingga akhirnya para petani memutuskan untuk memberontak menolak pajak tinggi yang merugikan.
Sejarah Pemberontakan Ciomas 1886
Menurut Amiruddin H dalam Skripsi sejarah kebudayaan Islam, UIN Sunan Kalijaga berjudul,”Agama dalam Pemberontakan Petani di Ciomas Bogor 1886” (2004), penyebab meletusnya pemberontakan petani di Ciomas adalah kenaikan pajak tanah yang tinggi dan memaksa.
Adapun peristiwa ini terjadi sejak tanggal 19 Mei-20 Mei 1886 di desa Ciomas bagian selatan, yang sekarang letaknya tidak jauh dari Kota Bogor, Jawa Barat.
Meskipun latar belakang utama peristiwa ini terjadi karena kenaikan pajak kolonial, beberapa pendapat mengatakan ada unsur lain di balik peristiwa ini berkecamuk.
Antara lain seperti kebencian yang muncul dari keturunan petani Ciomas terhadap pemerintah kolonial dan antek-antek perkebunan pribumi yang khianat.
Menurut Nina H. Lubis dalam buku berjudul, ”Sejarah Provinsi Jawa Barat: Jilid 1” (2013), penyebab kebencian petani juga karena pengerahan tenaga buruh yang eksploitir dan adanya peraturan mengikat.
Baca Juga: Peristiwa Cimareme 1919, Pembantaian Petani Garut Zaman Belanda
Seperti wajib menyetorkan hasil panen lumbung untuk keperluan tuan tanah. Petani Ciomas harus mengantarkan hasil panen tersebut menggunakan pedati tenaga manusia, dengan jarak tempuh yang sangat jauh yakni, 15-18 kilometer dari perkebunan.
Setelah sampai mengantarkan hasil panen kepada tuan tanah, mereka tak lantas pulang. Para tuan tanah akan mempekerjakan petani tersebut 2 sampai 3 hari untuk membersihkan halaman rumah mereka yang luas.
Artinya para petani yang sudah dibebani oleh pajak tinggi ini dijadikan budak layaknya pembantu tanpa dibayar.
Oleh sebab itu, para petani menyimpan dendam yang tidak berkesudahan. Apalagi ada sebagian orang pribumi kaya yang jadi tangan kanan orang Belanda di Ciomas yang memperlakukan mereka sama seperti pembantu. Para petani di Ciomas kemudian bertekad menghabisi mereka pada waktu yang tepat nanti.
Menutup Aktivitas Petani Ciomas
Selain menarik pajak tinggi, memeras keringat dengan menyetor hasil panen untuk persediaan lumbung tuan tanah, orang-orang Eropa di Ciomas juga menekan petani di sana dengan cara menutup segala aktivitasnya.
Para petani Ciomas dilarang memiliki jaringan perdagangan menjual hasil panen atau ternak mereka di luar pengawasan orang Belanda. Bahkan mereka tidak memperbolehkan para petani mengakses informasi di luar kabar kabupaten.
Hal ini dilakukan untuk menjaga ketertiban masyarakat Ciomas yang penurut. Mereka tidak ingin ada perubahan sikap dari petani Ciomas.
Padahal petani di sana sudah geram karena perlakuan tuan tanah pada mereka. Namun orang-orang Sunda ini pandai meredam emosi, sekaligus tabah dan sabar menghadapi situasi.
Namun kesabaran mereka mulai runtuh tatkala ada istri dan anak-anak perempuan mereka yang dipekerjakan oleh tuan tanah Belanda.
Eksploitasi wanita ini terjadi selama sembilan hari dalam satu bulan, mereka bekerja sebagai pembantu di rumah-rumah tuan tanah tanpa digaji. Bahkan satu di antara mereka ada yang jadi korban asusila.
Pemerkosaan dan memperistrinya dengan cara memaksa merupakan salah satu lahirnya kisah fenomenal tentang pergundikan di Hindia Belanda.
Mereka yang pernah jadi pembantu tuan tanah dipaksa menikah dengan Belanda serakah. Akhirnya mereka menjadi istri simpanan Belanda yang kemudian disebut dengan istilah “Nyai”.
Selain itu para tuan tanah Eropa juga sering memperlakukan para petani ini dengan kekerasan. Seperti memukul, menampar, dan mempermalukannya di depan keluarga Eropa yang sedang melakukan pesta.
Akibat perasaan yang tersakiti ini emosi para petani Ciomas mulai tak terkendali, hingga datang propagandis pemberontakan Ciomas 1886 bernama Mohammad Idris dan Arpan.
Meletusnya Pemberontakan Ciomas 1886
Kemunculan propragandis dari golongan petani Ciomas bernama Mohammad Idris dan Arpan membuat petani berani untuk melakukan pemberontakan pada tahun 1886 .
Tragedi pembunuhan tuan tanah yang dilakukan petani di Bogor ini terjadi pertama kali pada tanggal 22 Februari 1886.
Salah seorang petani revolusioner bernama Arpan membunuh tuan tanah kepercayaan Belanda dari golongan pribumi bernama Haji Abdurahim.
Baca Juga: Ratu Kalinyamat, Bupati Jepara Pertama yang Melawan Portugis
Saat itu H. Abdurahim menjabat sebagai camat di daerah Ciomas, Ia terkenal sebagai menak yang memihak Belanda.
Karena kepercayaan Belanda itulah, H. Abdurahim bisa kaya dan memiliki titel menak dengan jadi camat, serta punya tanah perkebunan yang luas.
Tak jarang H. Abdurahim juga terlibat cekcok dengan para petani Ciomas. Oleh karena itu kebencian para petani kepada H. Abdurahim begitu kuat.
Hingga pada hari kematiannya, petani Ciomas bersorak bahagia karena berhasil meluapkan kekesalan mereka selama ini.
Kasus pembunuhan H. Abdurahim oleh Arpan berbuntut di tangan polisi kolonial. Opsir desa Ciomas dilibatkan untuk menyusur perkebunan mencari pelaku pembunuhan.
Namun Arpan berhasil melarikan diri dan menyamar di daerah Bogor Utara, tepatnya di desa Pasir Paok. Sampai akhirnya ada mata-mata yang berhasil mencium keberadaan Arpan.
Untuk kedua kalinya kombatan ini lari ke gunung Salak. Tak disangka saat Arpan sedang dalam pelariannya, ia bertemu dengan Mohammad Idris. Mereka pun bersekongkol untuk mengadakan pemberontakan. Dua petani Ciomas ini berhasil mengumpulkan massa untuk mengadakan pemberontakan.
Peristiwa ini mencapai puncaknya pada tanggal 19 -20 Mei 1886. Dengan penyamaran Moh. Idris dan Arpan mengundang para tuan tanah untuk menghadiri acara syukuran bumi.
Acara ini menyuguhkan hiburan rakyat seperti music dan tarian. Mereka pun datang lengkap bersama anggota keluarga. Namun kebanyakan berasal dari tuan tanah pribumi (menak).
Pemberontakan pun meletus di tengah perayaan. Para petani sudah mempersiapkan perkakas dan menyerangnya secara membabi buta. Akibatnya 40 orang tewas dan 70 lainnya luka-luka. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)