harapanrakyat.com,- Leuwi Sipatahunan yang berada di Dusun Burujul, Desa Campaka, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Pangandaran menyimpan sejarah yang melegenda. Terutama di tengah masyarakat Cigugur.
Menurut Budayawan Pangandaran Didin Jentreng, pada abad ke-17 saat kerajaan Mataram masih jaya, ada seorang tokoh ulama dari Banyumas.
Tokoh ulama asal Kedungrandu itu bernama Aki Gede dan Nini Gede. Saat itu raja Mataram berniat meminang anaknya.
Namun, Aki Gede tidak langsung memutuskan karena ia harus menemui Raja Sukapura.
Saat tiba di Dusun Burujul, ia pun berhenti dan bermunajat kepada Allah SWT. Namun, di saat bersamaan terdengar suara gemuruh dari arah sungai.
Baca juga: Body Rafting Ciwayang, Wisata Susur Sungai Alami di Pangandaran
“Ternyata itu suara biduan ikan yang keluar dari dalam air sungai. Kemudian Aki Gede dan Nini Gede menangkapnya dan kemudian memberikan kepada Raja Sukapura sebagai oleh-oleh,” ujarnya, Sabtu (26/11/22).
Suara gemuruh ikan itu, kata Ia, dalam bahasa sunda itu gugur. Hal ini menjadi dasar nama wilayah tersebut yang saat ini terkenal dengan nama blok Cigugur hingga akhirnya menjadi nama kecamatan.
Ketika Nini Gede dan Aki Gede sibuk menangkap ikan, anak perempuannya pun bertanya sudah berapa lama perjalanan dari Kedungrandu menuju ke sungai tersebut.
Kemudian Aki Gede tersebut pun menjawab bahwa perjalanannya sudah bertahun-tahun. Karena peristiwa itu membuat sungai terdalam di Cigugur tersebut terkenal dengan nama Leuwi Sipatahunan.
Didin menjelaskan, cerita tersebut terdapat dalam buku sejarah Purwaning Jagad atau Sejarah Kacijulangan. Bahkan, buku tersebut hingga saat ini masih sering menjadi bacaan tokoh masyarakat setiap tahun.
“Pembacaan itu sebagai salah satu upaya agar masyarakat mengenal asal mula daerah di Pangandaran ini, salah satunya Cigugur,” pungkasnya. (Enceng/R6/HR-Online)