Menteri Keuangan Nazi (Adolf Hitler) bernama Hjalmar Schacht pernah menggegerkan rakyat Jakarta. Sebab ternyata diktator ekonomi fasisme Jerman tersebut diundang datang ke Indonesia untuk kepentingan berbagi pengetahuan ekonomi Jerman-Indonesia.
Peristiwa ini terjadi tatkala Indonesia baru lahir menjadi negara yang sah secara Internasional “Merdeka” dari tangan Belanda.
Kala itu Sukarno-Hatta mengalami kesulitan membangun ekonomi negaranya akibat perang, dan menghadapi gerakan separatis di berbagai wilayah Indonesia.
Baca Juga: Hattanomics, Widjojonomics, dan Habibienomics: Tokoh Penting dalam Sejarah Pembangunan Nasional
Setelah berdiskusi dengan berbagai kalangan ekonom di Jakarta, Sukarno-Hatta dan beberapa pejabat tinggi negara setuju untuk mendatangkan Menteri Keuangan Hitler sebagai mentor pembangunan ekonomi Nasional yang kacau akibat peristiwa tersebut.
Bagaimana pendapat Menteri Keuangan Hitler tersebut mengenai keterpurukan ekonomi Indonesia akibat perang, dan gerakan separatis yang muncul? Berikut ini penjelasannya.
Menteri Keuangan Hitler Ke Indonesia, Warga Jakarta Geger
Ketika pemerintah Indonesia mendatangkan Menteri Keuangan Hitler, masyarakat Jakarta geger campur senang, marah, dan bingung.
Mengapa ada yang marah? Menurut Jusuf Wibisono selaku Menteri Keuangan RI yang mengundang Hjalmar Schacht (Menteri Keuangan Hitler), kedatangan Schacht memang memicu kontroversi.
Masyarakat mengecam kedatangan Menteri Keuangan Hitler pada tanggal 3 Agustus 1951. Mereka menganggap Schacht akan membawa dampak buruk pada pemerintah RI. Salah satu masyarakat Jakarta yang menolak Schacht adalah massa yang berada dalam kelompok kiri Partai Komunis Indonesia (PKI).
Propaganda PKI terhadap penolakan Schacht datang ke Indonesia berlangsung gencar di Jakarta. Partai kiri berlambang palu dan arit ini menuduh kedatangan Schacht ke Indonesia bermaksud untuk mempengaruhi Indonesia untuk terlibat dalam fasisme.
Selain itu, Schacht membuat rancangan ekonomi untuk mengatasi inflasi besar-besaran di Indonesia hanya menyebabkan keuntungan sepihak. PKI menuduh Schacht telah merancang pembangunan ekonomi Indonesia menjadi sumber utama pendapatan kaum borjuis.
Artinya tidak memperhatikan rakyat kecil, sehingga masyarakat akan jatuh miskin dalam waktu dekat. Propaganda politik ini direspon baik oleh sebagian massa simpatisan PKI di Jakarta. Akibatnya mereka mengecam para pejabat yang hadir dan menyambut Schacht di Hotel Des Indes Jakarta bersama istri dan anaknya.
Mengundang Schacht ke Indonesia juga dianggap telah menyianyiakan modal untuk pembangunan Indonesia. Sebab selama tiga bulan lamanya Schacht bersama istri dan anak-anaknya dibiayai oleh pemerintah sepenuhnya.
Baca Juga: Sejarah Gedung Bappenas, Tempat Mengadili Gembong PKI
Merancang Pembangunan Ekonomi Nasional
Dibalik penolakan berbagai kubu politik di Indonesia, Hjalmar Schacht tetap meladeni pejabat RI yang mengundangnya datang ke Indonesia untuk membantu merancang pembangunan ekonomi nasional yang kacau.
Ikhtiar pemerintah Indonesia pun berbuah manis. Pasalnya Hjalmar Schacht merupakan ekonom sejati berhasil membuat ekonomi Indonesia yang sekarat menjadi hidup kembali.
Menurut R. H. Jackson dalam buku berjudul “Nazi Conspiracy and Aggression Volume II” (1955), keberhasilan Schacht mengurus pembangunan ekonomi di Indonesia bercermin dari pengalamannya membangun saat membangun ekonomi Jerman pasca perang.
Adapun penemuan Schacht saat meneliti rancangan pembangunan ekonomi Indonesia terdiri dari beberapa hal.
Pertama, untuk membangun kekuatan ekonomi Indonesia, seluruh pejabat perlu memperketat penjagaan mengenai keuangan rakyat.
Sebab dugaan sementara ekonom Hitler ini, banyak pejabat tinggi negara yang boros, dan membuang dana modal pembangunan secara sia-sia. Parahnya banyak korupsi yang tidak terlihat akibat tidak ada pengamanan khusus yang menyoroti aliran keluar masuknya uang negara.
Kedua, pemerintah perlu menggenjot rakyat untuk produktif. Setidaknya bisa menghasilkan produksi bahan mentah yang kemudian dijual ke berbagai negara di dunia (Eksportir).
Terakhir, ketiga untuk mewujudkan Indonesia sebagai eksportir hebat, maka para pejabat negaranya perlu menjalin kerja sama dengan negara-negara besar di luar negeri. Jangan alergi asing, dan wajib melakukan koalisi dengan blok Barat-Timur.
Schacht menganggap Indonesia sebagai negara yang sombong. Karena baru saja merdeka sudah berupaya menciptakan kekuatan baru yang berusaha menandingi Blok Barat dan Blok Timur.
Baca Juga: Sejarah PKI Bela Kulit Hitam hingga Demo Kedubes AS di Jakarta
Namun pemerintah tidak menyetujui saran ketiga dari Schacht. Sebab Indonesia punya ambisi mengutamakan perdamaian. Hal ini terbukti ketika Indonesia menggelar KTT Asia Afrika di Bandung pada tahun 1955.
Meluangkan Waktu di Indonesia
Selepas menyelesaikan hasil penelitiannya dalam bentuk laporan resmi negara kurang lebih tiga bulan lamanya, Hjalmar Schacht kemudian memanfaatkan sisa waktu di Indonesia untuk berlibur bersama Istri dan anak-anaknya.
Menurut catatan wartawan yang sempat mewawancarai Hjalmar di Hotel Des Indes, Jakarta, menteri kesayangan Hitler ini mengaku betah di Indonesia. “Bersama anak-anak dan istri, Indonesia rasanya aman ditempati,” ungkapnya.
Adapun salah satu alasan Schacht merasa nyaman tinggal di Indonesia karena negeri ini minim konflik. Meskipun ada gerakan separatis di Indonesia bagian Timur, hal itu bukanlah gerakan militer yang parah sebagaimana konflik di negara fasis, Jerman.
Selain untuk berlibur ke beberapa daerah di Indonesia, Schacht memanfaatkan sisa waktu yang tersedia untuk mengisi kuliah umum di berbagai perguruan tinggi terkemuka Indonesia, khususnya yang ada di pulau Jawa. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)