Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) mengadakan seminar sejarah membahas tiga nama tokoh penting dalam dinamika Pembangunan Nasional di Gedung Bappenas RI, Jakarta Pusat, Kamis (10/11/2022).
Tiga nama tokoh penting dalam sejarah pembangunan nasional adalah Moh. Hatta, Widjojo Nitisastro, dan B.J. Habibie.
Sistem pembangunan nasional dari ketiga tokoh tersebut dikenal juga dengan istilah Hattanomics, Widjojonomics, dan Habibienomics.
Diskusi sejarah berjudul “Ruang Bincang #2: Merayakan Indonesia Kulik Sejarah Pemikiran Hattanomics, bersama Widjojonomics, & Habibienomics” diisi langsung oleh Begawan Bappenas, Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa.
Baca Juga: Profil Chaerul Saleh, Mantan Ketua MPRS yang Dipenjara Orde Baru
Pemaparan lain yang menyangkut sejarah pemikiran ketiga tokoh ini juga disampaikan oleh para ahli ekonomi, Prof. Emil Salim, Mantan Wakil Presiden Boediono, Prof. Sri Edi Swasono, Aris Ananta, Daniel M. Rosyid, Prijono Tjiproherjanto, dan Ilmuwan Richard Calproth.
Diskusi menarik disampaikan oleh Richard Claproth. Profesor ini berbicara sejarah awal pembangunan Nasional pada masa Hatta hingga Habibie. Menurutnya salah seorang paling berpengaruh dalam arsitek pembangunan Nasional di Indonesia yakni Bung Hatta.
Mengapa bisa demikian, apakah karena Hatta merupakan tokoh pertama dalam Perencanaan Pembangunan Nasional atau karena ia mendiang wakil presiden pertama RI?
Tiga Tokoh Penting Sejarah Pembangunan Nasional dan Sistem Ekonomi yang Digagasnya
Tiga tokoh penting pembangunan nasional adalah Moh Hatta dengan sistem yang disebut Hattanomics, Widjojo Nitisastro dengan sistem Widjojonomics, dan B.J. Habibie dengan sistem Habibienomics.
Hattanomics Sistem Pembangunan Nasional Pertama yang Religius
Menurut Deputi Bidang Ekonomi Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti, Hattanomics merupakan sistem Pembangunan Nasional pertama di Indonesia yang bersifat religius.
Salah satu sifat-sifat religius Bung Hatta yang diaplikasikan dalam Pembangunan Nasional terletak pada gaya kepemimpinannya yang memikirkan kepemilikan relatif, keadilan, kebersamaan, dan persaudaraan.
Berbeda dengan pendapat Amalia, Prof. Richard Claproth mengaku gaya pembangunan Nasional Hatta juga sempat terpengaruh oleh sistem pembangunan di Jerman.
Saat itu mantan wakil Presiden RI pertama Drs. Mohammad Hatta pernah mengundang Menteri Keuangan Adolf Hitler bernama Hjalmar Horace Greeley Schacht (1935-1937).
Menurut Richard undangan tersebut bertujuan untuk merencanakan Pembangunan Nasional di Indonesia agar cepat seperti Jerman yang pernah terpuruk dan bangkit kembali hanya dalam waktu lima tahun.
Baca Juga: H. Salahuddin bin Talabuddin, Haji Merah yang Dapat Gelar Pahlawan Nasional 2022
Bung Hatta sangat optimis bisa secepat mungkin membangun Indonesia menjadi negara besar meskipun baru merdeka pada 17 Agustus 1945. Salah satu optimisme Hatta didukung oleh keadaan Sumber Daya Alam Indonesia yang berlimpah ruah.
Keinginan Bung Hatta memperoleh negara yang besar ini bertujuan untuk mengantarkan rakyat Indonesia secara keseluruhan, agar dapat merasakan kemakmuran, dan kesejahteraan bersama seutuhnya.
Widjojonomics, Ekonom Sejati yang Luas Relasi
Jika Richard menyebut Hatta pernah mengundang ahli keuangan dari Jerman pada zaman Hitler, Widjojo Nitisastro pun merupakan seorang ekonom sejati memiliki relasi luas, di antaranya dengan para arsitek pembangunan dunia.
Widjojonomics, merupakan istilah untuk menyebut masa kepemimpinan Widjojo Nitisastro sebagai menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dari tahun 1967-1983.
Dalam masa kepemimpinannya itu, Widjojo Nitisastro terkenal sebagai seorang ekonom sejati dan memiliki relasi yang luas. Relasi itu dimanfaatkan oleh Widjojo sebagai awal kerja sama antar negara dalam rangka Pembangunan Nasional.
Menteri Kepala Bappenas, Suharso Monoarfa mengungkapkan Widjojonomics merupakan sistem ekonomi pembangunan yang modern. Widjojo Nitisastro terkenal sebagai tokoh perombak ekonomi Indonesia yang melahirkan teori Trickel Down Effect.
Adapun arti dari teori tersebut kurang lebih ditampilkan seperti berikut, ”Jika Kaum Kaya diberikan kebijakan yang menguntungkan. Maka keuntungan tersebut akan turun pada kepentingan rakyat miskin melalui perluasan kesempatan kerja, distribusi pendapatan, dan perluasan pasar.”
Selain menteri Bappenas yang memiliki teori Trickel Down Effect, Widjojo Nitisastro juga dikenal sebagai Kepala Bappenas terlama yang memerintah pada masa Orde Baru.
Menurut Amalia Adininggar Widyasanti, Widjojo Nitisastro memimpin Bappenas selama enam belas tahun (1967-1983). Berbagai literasi mengenal Widjojo sebagai figure Kepala Bappenas yang dekat dengan Presiden Suharto.
Habibienomics, Teknokrat Pembangunan yang Ambisius
Prof. Richard Claproth mengungkapkan Habibienomics sebagai istilah untuk menyebut Presiden Habibie sebagai seorang teknokrat pembangunan Nasional yang ambisius.
Habibie merupakan lulusan Universitas di Jerman yang ahli menguasai ilmu teknologi modern. Terutama teknologi pesawat terbang. Semasa hidupnya Habibie ingin membangun Indonesia sebagai negara penghasil barang jadi.
Artinya pembangunan Nasional bisa digerakkan sama seperti pembangunan negara-negara besar di dunia. Saat ini Indonesia hanya mengandalkan ekspor bahan mentah karena kurangnya basis teknologi.
Baca Juga: Haji Ahmad Sanusi, Pahlawan Nasional 2022 dari Sukabumi
Maka kerugian menjual barang mentah menjadi berlipat ganda. Selain mengurangi harga jual, menjual barang mentah akan membuat Sumber Daya Alam Indonesia terkuras habis.
Dengan demikian Habibienomics optimis untuk membangun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) guna menciptakan Pembangunan Nasional di Indonesia yang maju. Teknologi merupakan sumber kemajuan dari setiap negara maju.
Prof. Richard Claproth menegaskan, apabila Indonesia ingin kembali menjadi macan Asia kuasailah Teknologi.
Diskusi ditutup oleh pemateri akhir oleh ekonom dari Universitas Indonesia Aris Ananta. Aris merefleksikan dinamika pembangunan Nasional dari zaman Hatta, Widjojo, dan Habibie sebagai proses kemajuan Indonesia.
Dengan diskusi tersebut Bappenas sebagai Badan Perencana Pembangunan Nasional optimis bisa menemukan strategi jitu dalam menciptakan Indonesia Maju pada tahun 2045 mendatang. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)