Sistem saraf otonom sangat penting. Tubuh manusia membutuhkan sistem yang ada pada saraf otonom ini karena memiliki keunikan tersendiri. Adapun saraf otonom ini merupakan anatomi tubuh yang ada di bagian otak manusia.
Baca Juga: 12 Saraf Kranial yang Berperan Penting dalam Berbagai Fungsi Tubuh
Semua makhluk hidup yang ada di dunia ini pastinya memiliki sistem tubuh yang berbeda-beda. Manusia menjadi makhluk hidup yang memiliki sistem tubuh terbaik.
Sistem pusat dari tubuh manusia adalah otak. Di dalam organ ini terdapat berbagai sistem saraf, salah satunya adalah saraf otonom.
Sistem Saraf Otonom pada Tubuh Manusia
Bagian paling vital di dalam anatomi tubuh manusia dan makhluk hidup lainnya adalah otak. Organ ini memiliki fungsi untuk mengontrol setiap aktivitas atau gerakan yang akan manusia lakukan.
Berada di dalam tengkorak, otak terdiri dari berbagai macam saraf yang mengatur setiap gerakan. Setiap saraf di otak memiliki tugas dan fungsi yang pastinya juga berbeda.
Salah satu jenis saraf yang ada di otak adalah saraf otonom. Saraf ini tentunya memiliki peran tersendiri.
Apa yang Dimaksud Saraf Otonom?
Melansir dari Wikipedia, saraf otonom adalah suatu sistem saraf yang mewakili beberapa sistem saraf lainnya yang ada di motorik otot polos, otot jantung, dan juga sel-sel kelenjar di dalam tubuh.
Kehadiran sistem saraf otonom ini sangatlah penting. Itu karena sistem saraf ini berfungsi untuk mengontrol aktivitas tubuh manusia yang terjadi secara tidak sadar.
Baca Juga: Pengertian Sistem Saraf Tepi dan Fungsinya dalam Pergerakan Tubuh
Sistem saraf satu ini terjadi dari 12 pasang saraf yang berupa kranial. Serta yang lainnya terdiri atas 31 pasang saraf spinal atau sumsum tulang belakang.
Saraf otonom juga akan terkena pengaruh dari hipotalamus yang berada pada otak. Hipotalamus akan dapat terangsang dan juga bisa berpengaruh terhadap gerakan otonom.
Bagaimana Sistem dari Saraf Otonom Bekerja?
Tahukah Anda bahwa saraf otonom juga terkenal sebagai sistem saraf tidak sadar. Hal itu karena saraf otonom bekerja di bawah kesadaran tubuh manusia.
Sistem saraf ini akan bekerja dengan berdasarkan perintah ataupun tanpa kita sadari. Saraf otonom juga bergerak dengan cara otomatis yang tidak kita kehendaki melalui saraf pusat (otak) terlebih dahulu.
Dengan kata lain, kita bahkan tidak akan merasakan ketika sistem saraf otonom bekerja. Beberapa contoh dari kerja sistem saraf ini adalah seperti perubahan pada pupil mata, mengeluarkan keringat, gerakan pencernaan, denyut pada jantung, dan masih banyak lagi.
Baca Juga: Perbedaan Sistem Saraf Simpatis dan Parasimpatis, Simak di Sini!
Perlu Anda ketahui juga bahwa sistem saraf tak sadar ini adalah gabungan antara saraf motorik dengan saraf sensorik.
Apa Itu Sistem Saraf Simpatik dan Parasimpatik?
Ketika mempelajari mengenai saraf otonom, maka Anda pasti akan bertemu dengan sistem saraf simpatik dan juga parasimpatik. Kenapa demikian?
Saraf simpatik dan parasimpatik merupakan jenis dari saraf otonom. Keduanya memiliki fungsi yang berbeda juga. Berikut penjelasannya.
Sistem Saraf Simpatik
Pertama ada sistem saraf simpatik. Sistem saraf ini berada di depan tulang rusuk bagian belakang, tepatnya ada di pangkal sumsum tulang belakang.
Saraf simpatik ini berupa medula spinalis yang ada di bagian dada dan juga pinggang. Selain nama simpatik, sistem saraf ini juga terkenal dengan sebutan torakolumbar.
Hal tersebut karena saraf preganglion keluar berasal dari tulang belakang pada otak dari pertama hingga yang ke-12. Dalam sistem saraf simpatik ini terdapat 25 pasang ganglion atau simpul sumsum tulang belakang..
Umumnya sistem saraf ini berfungsi untuk memacu kerja organ dalam tubuh manusia. Namun, ada juga saraf simpatik yang dapat menghambat kerja dari organ tersebut.
Beberapa fungsinya yaitu memperbesar pupil mata, memperbesar bronkus, menghambat ereksi, mempercepat detak jantung, menghambat sekresi dari kantung kemih, dan lain sebagainya.
Sistem Saraf Parasimpatik
Jenis sistem saraf otonom selanjutnya adalah saraf parasimpatik. Ini merupakan sistem saraf yang memiliki pangkal di bagian medula oblongata atau sumsum tulang belakang lanjutan.
Sistem ini juga terkenal dengan nama sistem saraf kranosakral karena preganglionnya keluar dari sakral dan juga otak.
Saraf parasimpatik ini terdiri atas jaringan yang terhubung dengan ganglion yang tersebar ke seluruh tubuh. Adapun fungsi sistem saraf ini sangat berbeda dari saraf simpatik.
Sebab, sistem saraf parasimpatik ini berfungsi untuk memperlambat kerja organ. Beberapa di antaranya seperti meningkatkan tekanan darah, menghambat sekresi dari adrenalin, memperkecil bronkus, dan lainnya.
Kehadiran dari simpatik dan parasimpatik pada sistem saraf otonom ini saling melengkapi. Alhasil, keduanya akan membuat kinerja tubuh menjadi stabil. (R10/HR-Online)