Kebun Raya Bogor rupanya menyimpan sejarah panjang. Tempat ini tidak seperti anggapan banyak orang. Banyak yang mengira Kebun Raya Bogor pertama ada pada zaman kolonial Belanda. Akan tetapi hutan buatan ini sudah eksis sejak zaman kejayaan Prabu Siliwangi (1474-1513).
Pernyataan tersebut sebagaimana isi dari prasasti Batu Tulis di Bogor, Jawa Barat. Prasasti kuno tersebut menyebutkan Samida atau hutan buatan itu sudah ada sejak zaman kejayaan Raja Pajajaran.
Adapun pada zaman Prabu Siliwangi, Samida atau hutan buatan ini berfungsi untuk menyimpan berbagai jenis dari benih kayu yang langka.
Barangkali ini merupakan upaya sang raja dalam memilih jenis kayu yang berkualitas untuk membangun sebuah istana yang kokoh.
Baca Juga: Uyeng Suwargana: Tokoh Pendidikan Pangandaran, Intel Kepercayaan AH Nasution
Tafsiran ini mengingat kerajaan Pajajaran yang tidak meninggalkan petilasan istana, karena istana kerajaan mereka didirikan dari material kayu sehingga tidak meninggalkan jejak sebagaimana bangunan batu yang tidak mengubah bentuk.
Ketika kejayaan Prabu Siliwangi meredup akibat dominasi Kesultanan Banten 1513, Kebun Raya Bogor ini terbengkalai.
Hingga pada masa pemerintahan kolonial Belanda di abad ke-18 Masehi, hutan buatan ini kembali dilestarikan sebagaimana yang dilakukan Prabu Siliwangi dahulu.
Penguasa pertama kolonial Belanda di Buitenzorg ini bernama Gubernur Jenderal G.A.G.P Baron van der Capellen.
Gubernur Jenderal Hindia pada abad ke-18 ini menyukai hutan buatan Kebun Raya Bogor ini sepenuh hati. Sampai-sampai Ia mendirikan sebuah tempat tinggal Gubernur Jenderal di dekat kawasan tersebut yang mana saat ini kita kenal dengan nama Istana Bogor.
Sebelum membahas lebih jauh lagi, dalam artikel ini penulis bermaksud untuk menjelaskan sejarah Kebun Raya Bogor dari zaman Pajajaran hingga masuknya pengaruh kolonial Belanda di Buitenzorg.
Sejarah Kebun Raya Bogor Bermula dari Hutan Buatan Prabu Siliwangi
Setelah dikuasai oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda, tepatnya oleh Gubernur Jenderal Baron van der Capellen, hutan buatan (Samida) yang sudah lama ditinggalkan pemiliknya ini kemudian direnovasi ulang dengan hasil yang baik luar biasa.
Baca Juga: Bupati Sosroningrat, Pemimpin Jepara yang Utamakan Pendidikan Barat
Proyek renovasi ini dipimpin oleh ahli biologi Belanda bernama Tuan Abner. Ia merupakan ahli biologi tumbuh-tumbuhan yang meneliti ribuan jenis pohon yang tumbuh di permukaan tanah Asia.
Selain dipercaya sebagai penyelenggara renovasi Samida bekas Prabu Siliwangi, Tuan Abner juga mengusulkan pada Gubernur Jenderal akan adanya ruang serbaguna di tengah pembangunan Kebun Raya Bogor.
Ruang serbaguna ini antara lain terdiri dari, Ruang Pendidikan Guru, dan ruang koleksi jenis tumbuhan langka untuk melestarikan kekayaan flora endemik Asia khususnya yang ada di Nusantara.
Menurut buku yang ditulis oleh Tim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan berjudul, “Sejarah 5 Taman Nasional Pertama”, (Kehutanan, 2018: 8), usulan Tuan Abner untuk membangun ruang serbaguna pun disetujui Gubernur Jenderal.
Persetujuan ini terbit pada tanggal 18 Mei 1817, yang kemudian dibarengi dengan proses pembangunan renovasi. Selanjutnya adalah pemberian nama baru pada hutan buatan ini menjadi S’land Plantentuin te Buitenzorg – Kebun Raya Bogor.
Jika dihitung secara keseluruhan S’land Plantentuin te Buitenzorg ini memiliki luas 47 hektar. Posisinya berbatasan persis dengan istana Gubernur Jenderal Hindia Belanda, atau yang kini kita lihat sebagai Istana Bogor.
Istana Bogor Zaman Raffles: Megah dan Cantik
Setelah Van der Capellen hengkang dari Hindia Belanda, Gubernur Jenderal yang menggantikan posisi kosongnya yaitu, Sir Thomas Stamford Raffles. Seorang tokoh politik, sekaligus militer yang berasal dari negara Inggris.
Pada zaman Raffles Kebun Raya Bogor yang sudah direnovasi oleh Van der Capellen kembali diubah konsepnya menjadi lebih megah menawan, dan cantik.
Pertama yang dilakukan Raffles untuk mengubah hutan buatan ini agar terlihat lebih baik yaitu, menambahkan taman botani dengan gaya tata ruang yang sama dengan taman Richmond di Inggris.
Renovasi ulang yang dilakukan Raffles terhadap Kebun Raya Bogor setelah Van der Capellen ini dipersembahkan untuk istrinya yang menyukai taman Richmond.
Raffles mempersembahkan Kebun Raya Bogor untuk sang istri bernama Lady Olivia Mariamne yang sudah meninggal lebih dulu pada tahun 1814.
Setelah Kebun Raya Bogor hasil renovasi Raffles ini selesai, para ahli botani membuat katalog tumbuhan guna mempertahankan aneka flora yang berkembang di tempat tersebut.
Katalog tumbuhan ini terbit pada tahun 1823 dan dipublikasikan ke beberapa media massa, dan jurnal Internasional bergengsi.
Sebagian ahli botani di Eropa pun memberikan penghargaan yang tinggi untuk Raffles. Karena Raffles telah membangun hutan buatan demi melestarikan kekayaan flora-fauna di negeri jajahannya.
Raffles Mempercayakan Kebun Raya Bogor pada Johanes Elias Teysman
Raffles mempercayakan Kebun Raya Bogor pada seorang ahli botani Belanda bernama Johanes Elias Teysman.
Penyerahan Kebun Raya Bogor pada Teysman oleh Raffles terjadi sebelum Raffles meninggal dunia pada tahun 1826.
Teysman memberikan perawatan sungguh-sungguh pada hutan buatan pemberian Raffles. Bahkan loyalitas Teysman sebagai ahli botani yang cinta tumbuhan ini rela mengabdikan dirinya mengembangkan Kebun Raya Bogor selama 50 tahun.
Baca Juga: Hajat Tutulak di Kuningan dan Kisah Pemimpin DI/TII yang Kebal Senjata
Selain merawat tanaman yang sudah tumbuh dewasa, Teysman juga melakukan penanaman ulang pohon berdasarkan family asal tanaman. Tujuannya supaya tidak terjadi kawin silang. Sebab Ia menginginkan Kebun Raya Bogor diisi oleh ribuan jenis tanaman asli, tanpa kawin silang.
Teysman juga menangkarkan Rusa untuk menyeimbangkan alam, supaya Kebun Raya Bogor lebih tampak nyata seperti hutan asli.
Selain Rusa ada beberapa hewan langka lainnya, seperti burung merak, angsa hutan, dan kancil kecil yang mulai punah dari habitatnya.
Adapun penangkaran fauna di Kebun Raya Bogor ini dimaksudkan Teysman untuk melindungi habitat binatang langka. Terutama habitat yang kehidupannya terancam oleh pemburu liar.
Pernyataan berikut sebagaimana mengutip koran Belanda De Locomotief, dengan tajuk Ledeboer’s Ideaal, tanggal 09 Agustus 1939. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)