Profil Umar Kayam terkenal di kalangan para seniman, intelektual, dan pejabat pemerintah sebagai seorang cendikiawan budaya yang mengajar di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM).
Kotakan profesi inilah yang membuat nama Umar Kayam tidak terkenal secara merata di kalangan masyarakat biasa. Padahal kontribusi Uka -sapaan akrabnya- terhadap kemajuan budaya Indonesia begitu besar.
Kendati pun tidak banyak orang yang mengenal nama Umar Kayam, sebagian masyarakat Indonesia mungkin tidak asing dengan penampakan wajahnya.
Baca Juga: Profil Djoko Pekik: Terlibat PKI 1965, Lukisannya Laku 1 Miliar
Sebab wajah Umar Kayam menjadi agenda tontonan tahunan di layar kaca televisi masyarakat Indonesia yaitu di Film Nasional berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI 1965”.
Pak Uka memerankan sosok Bung Karno dalam film tersebut. Perawakan yang mirip, dan bentuk wajah yang persis membuatnya ditunjuk sahabat dalam dunia sutradara film, Arifin C. Noer untuk memerankan Bung Karno.
Meskipun menghayati peran Bung Karno, pak Uka sendiri merupakan intelektual pengkritik Sukarno. Gagasan dan tulisan-tulisannya pedas sekali untuk Bung Karno.
Profil Umar Kayam
Umar Kayam lahir di Ngawi, Jawa Timur pada tanggal 30 April 1932. Ia lahir Ketika Indonesia masih berada dalam penjajahan kolonial Hindia Belanda.
Sejak kecil hingga remaja, ia menyukai karya sastra. Karena kecintaannya terhadap karya sastra Umar Kayam pandai berbahasa asing. Sebab saat itu untuk mengonsumsi bacaan dalam dua bahasa, kalau tidak Belanda pasti Bahasa Inggris.
Kepandaiannya berbahasa mengantarkan nama Umar Kayam sebagai seorang Mahasiswa cerdas lulusan Fakultas Pedagogik pada tahun 1955.
Ketika menjadi Mahasiswa di UGM, Umar Kayam aktif dalam berbagai organisasi seni dan kebudayaan. Salah satunya mempelopori terbentuknya seni pertunjukan modern bernama “Teater Kampus”.
Sesudah lulus dari UGM, Umar Kayam masih tetap aktif berteater di kampus. Salah satu murid Umar Kayam dalam Teater Kampus yakni, Penyair Si Burung Merak: W. S. Rendra.
Menurut Ahmad Nashin Luthfi dalam “Manusia Ulang-Alik: Biografi Umar Kayam” (2007), selepas aktif di kampus, Umar Kayam kemudian bekerja di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI sejak tahun (1956-1959).
Baca Juga: Kisah Dokter Parlindoengan Loebis Ditangkap Nazi saat Makan Siang
Namun karena prestasinya yang tidak terbendung, Umar Kayam dikirim untuk melanjutkan studi doctoral ke Amerika Serikat pada tahun 1966.
Umar Kayam Memerankan Bung Karno
Awal mula Umar Kayam memerankan Bung Karno, terjadi setelah ia menjabat sebagai Dirjen Radio, Televisi, dan Film di Departemen Penerangan RI, Jakarta.
Banyak kolega kerjanya yang melihat mimik muka, perawakan, dan kharismatik sosok Uka sama dengan Presiden RI pertama Bung Karno.
Namun Umar Kayam hanya menganggap itu candaan semata. Tidak lebih dari persepsi orang-orang humoris terhadap dirinya.
Suatu ketika ia berjumpa kawan lamanya yang merupakan sutradara film terkenal bernama Arifin. C. Noer. Kebetulan Arifin sedang menggarap film proyekan pemerintah Orde Baru untuk dokumenter sejarah berjudul “Pengkhianatan G30S/PKI 1965”.
Perjumpaan itu kemudian berakhir pada Umar Kayam yang disuruh memperagakan peran Bung Karno oleh Arifin. C. Noer. Perawakannya sama persis, Umar Kayam tidak perlu tes akting, langsung main saja, ungkap Arifin. C. Noer.
Karena Arifin dianggap Umar Kayam sebagai teman dekat, maka tawaran memerankan Bung Karno ini dilakoni olehnya. Padahal secara politis, Umar Kayam sangat berseberangan dengan Orde Lama Sukarno.
Baca Juga: Uyeng Suwargana: Tokoh Pendidikan Pangandaran, Intel Kepercayaan AH Nasution
Setelah proses syuting berlangsung, Umar Kayam cerita pada wartawan jika Ia merupakan salah seorang yang bisa tidur di ranjang Bung Karno di Istana Bogor.
“Pengalamannya ini tidak akan terlupakan. Historical sekali meskipun berseberangan dengan Bung Karno, saya dianggap seperti Presiden beneran pada waktu itu,” ungkap Umar Kayam.
Jadi peran ini benar-benar membuat Umar Kayam tersanjung. Menurutnya dibalik kekurangan ternyata ada kelebihan, dan dibalik kebencian rupanya ada kenikmatan.
Seorang Cendekiawan Budaya
Hingga akhir hayatnya Umar Kayam terkenal sebagai seorang cendikiawan budaya berpengaruh di Indonesia. Banyak orang yang ingin menjadi Umar Kayam, selain terampil menulis, ia juga seorang budayawan yang egaliter bagi kalangan seniman di Yogyakarta.
Butet Kartaredjasa salah satu saksi kehidupan seorang Umar Kayam yang egaliter. Tidak memandang usia dan kedudukan, Umar Kayam selalu berkelakuan sama untuk keduanya.
Adapun salah satu bukti Umar Kayam pantas disebut sebagai cendekiawan budaya antara lain bisa dilihat dari pengalaman mengajar dan sebagai peneliti di berbagai kampus hingga institusi negara.
Tahun 1972 Umar Kayam menjadi dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara. Sebelumnya juga pernah mengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, mata kuliah Sosiologi Seni di Universitas Indonesia.
Sedangkan pada tahun 1974-1975 menjadi dosen sosiologi kesenian di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia yang terkenal akrab dengan banyak Mahasiswa.
Profil Umar Kayam juga terkenal sebagai Staf Pengajar Fellow di East Center, Honolulu, Hawaii pada tahun 1973.
Terakhir menjadi dosen tamu untuk Studies Summer Institute University of Wisconsin, Madison Amerika Serikat (1977), sebelum akhirnya mengabdi kembali di Indonesia.
Cendekiawan budaya asal Ngawi, Jawa Timur ini meninggal di Rumah Sakit Metropolitan Medical Centre, Kuningan, Jakarta Selatan pada 16 Maret 2022. Setelah sebelumnya dokter memvonis Umar Kayam dengan penyakit pendarahan usus besar. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)