Siapa yang tidak tahu dengan profil Benyamin Sueb seniman Betawi yang multitalenta. Namanya sudah populer sejak tahun 1970-1990-an.
Beliau merupakan aktor sekaligus seorang lelaki yang tangguh karena sebelum menjadi terkenal sebagai artis, Benyamin Sueb merupakan mantan kondektur bus perkotaan di Jakarta.
Sejarah Benyamin sebagai seorang kondektur bus nampaknya belum banyak diketahui oleh masyarakat luas. Hal ini yang menjadi keunikan tersendiri dari profil kehidupan Benyamin Sueb yang patut kita teladani.
Baca Juga: Profil Widayat, Maestro Lukis yang Pernah Masuk Militer
Perjuangannya sebagai seniman Betawi menjadi catatan penting sejarah Indonesia. Sebab pola-pola perjuangan Benyamin dalam memperjuangkan kehidupan tak diragukan lagi. Artinya sebelum menjadi sukses, Benyamin sudah merasakan kesulitan terlebih dahulu.
Perjuangan Benyamin Sueb yang awalnya seorang kondektur bus telah membuktikan kepada semua pihak bahwa kesuksesan hidupnya Ia peroleh dengan cara mandiri.
Tidak menggunakan bantuan orang dalam, apalagi relasi intrik yang menjanjikan kesuksesan tanpa memiliki kemampuan berprestasi.
Benyamin justru menunjukan bakat terlebih dahulu untuk memperoleh kesuksesan yang bisa membawa nama harumnya hingga mencapai kancah perfilman Nasional dari tahun 1970-1990 an.
Berikut adalah deskripsi mengenai profil, dan sejarah hidup Benyamin Sueb.
Profil Kehidupan Benyamin Sueb
Seniman sukses asal betawi yang terkenal karena perannya yang jenaka ini lahir di Kemayoran Jakarta pada tanggal 5 Maret 1939.
Benyamin Sueb merupakan anak yang malang, sebab di umur 2 tahun, sang ayah sudah meninggalkannya. Ayah Benyamin meninggal pada tahun 1942 akibat sakit.
Benyamin tumbuh dewasa menjadi seorang anak tanpa figur seorang ayah. Oleh sebab itu, Ia selalu merindukan sosok ayah yang mana hanya ia temukan dari figur seorang kakak.
Kendati demikian Benyamin tetap hidup menjadi pribadi yang baik, segan terhadap orang di atasnya, jujur, dan bertanggung jawab.
Semenjak kecil hingga remaja, Benyamin Sueb tetap menjaga kualitas pribadinya dengan bersekolah. Meskipun hidup dalam kendala ekonomi, akan tetapi tidak membuat keluarganya menelantarkan anak-anak mereka termasuk Benyamin Sueb.
Ibu Benyamin selalu mendukung anaknya selalu sekolah, dengan kata lain Ia tak ingin anaknya tidak punya bekal pendidikan yang mumpuni.
Tercatat dalam beberapa referensi, Benyamin pernah sekolah di SD Bendungan Jago, Jakarta. Dulu namanya bukan Sekolah Dasar melainkan SR (Sekolah Rakyat).
Setelah tamat Sekolah Rakyat, kemudian Ia melanjutkan ke tahap Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Taman Madya Cikini, Jakarta tahun 1955.
Kemudian setelah tamat SMP, Benyamin kemudian melanjutkan studinya ke jenjang pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) Tamansiswa, Jakarta dan lulus pada tahun 1958.
Karena dulu Benyamin beranggapan bahwa pegawai kantoran itu adalah pekerjaan yang paling beken di Jakarta.
Akhirnya Ia mendaftarkan diri ke sekolah tinggi Akademi Bank Jakarta tahun 1960.
Akan tetapi karena jiwa seninya yang bergejolak, membuat Benyamin Sueb tak kuat menahan diri.
Hingga pada akhirnya Ia memilih untuk tidak menamatkan kuliahnya dan memilih jalan berkesenian dengan bergabung bersama grup kesenian bernama Naga Mustika.
Baca Juga: Profil Bagong Kussudiardja, Seniman Peraih Emas Paus Paulus
Antusias dengan Dunia Seni Sejak Kecil
Benyamin Sueb sejak kecil ternyata sudah antusias dengan dunia seni. Terutama seni musik, dan seni akting. Beberapa temannya mengingat Benyamin sebagai anak yang kreatif.
Dia bisa membuat barang asal menjadi sebuah karya seni. Salah satunya ketika Benyamin ingin main musik namun terbatas karena tak punya peralatan musik yang mumpuni.
Ia dan teman-temannya lalu mengumpulkan barang tak terpakai seperti ember plastik, wajan seng, dan tutup kuali untuk dijadikan sebuah drum perkusi.
Kreatifitas ini merupakan salah satu bentuk antusias seorang Benyamin kecil dengan dunia seni. Dari kreatifitas inilah Ia bisa hidup menjadi seniman, meskipun dengan keadaan ekonomi yang terbatas.
Karena kreatifitas yang tinggi, Benyamin juga pernah menyabet berbagai penghargaan di podium Nasional maupun Internasional.
Bahkan majalah Indonesia versi Rolling Stones pun menjadikan namanya terdaftar dalam jajaran artis ternama yang berpengaruh bagi perkembangan dunia seni Indonesia.
Hingga akhir hayatnya, pria yang akrab dikenal dengan babeh Sabeni ini, masih memiliki minat yang tinggi untuk terciptanya sebuah karya seni yang estetik.
Sebab menurut Benyamin sendiri, antusiasme seseorang terhadap bakat yang diminatinya akan membawa pengaruh paling utama pada karir mereka.
Dengan arti lain kesuksesan seorang seniman bisa dilihat dari penguasaan antusiasme yang tinggi sebagaimana yang mereka perjuangkan di masa sebelum-sebelumnya.
Dengan memfokuskan diri pada minat bakat yang dikuasai, maka seseorang tersebut akan sukses sesuai dengan hati yang terasa nyaman, tanpa ada beban, apalagi tekanan.
Pernah Menjadi Kondektur Bus dan Petugas Gudang Amunisi AD
Karena ketekunannya dalam mencari pekerjaan yang begitu tinggi, membuat Benyamin Sueb pernah menjadi kondektur bus, dan petugas urusan gudang amunisi Angkatan Darat di Jakarta.
Kisah Benyamin Sueb menjadi kondektur bus merupakan tekad baik seorang pemuda dewasa untuk mencari pekerjaan yang halal.
Pengalamannya sebagai kondektur bus perkotaan Jakarta juga menandakan bahwa Benyamin Sueb merupakan pribadi yang egaliter. Ramah dengan kemiskinan, dan budaya urban Jakarta.
Sementara menurut Naufal Faris Amal dalam Jurnal Chronologia, berjudul “Peran Benyamin Suaeb dalam Modernisasi Kesenian Gambang Kromong di Jakarta Tahun 1970-1975”, (Vol. 1, No. (5) Maret 2019: 34-48), menyebut faktor keakraban Benyamin dengan budaya urban di Jakarta juga berpengaruh terhadap kreatifitas dalam berkesenianya.
Baca Juga: Sejarah Hendra Gunawan, Seniman Patung Ketua Lekra PKI Jabar
Salah satunya yaitu Budaya Urban Jakarta yang telah memperkenalkan kebiasaan-kebiasaan baru yang sebelumnya tidak ada di Jakarta. Benyamin lantas mengadopsi kebiasaan tersebut untuk bahan-bahan materinya dalam berkesenian. Baik itu dalam seni musik maupun seni akting.
Terakhir, profesi yang juga mempengaruhi Benyamin dalam berkesenian yaitu, saat dirinya ditunjuk menjadi pegawai gudang amunisi Angkatan Darat di Jakarta.
Menurut Benyamin Sueb sendiri, Ia merasa tertantang tatkala menjadi pegawai yang memegang kendali atas persenjataan milik Tentara Angkatan Darat.
Selain itu, ini juga merupakan salah satu penghargaan yang paling berarti bagi Benyamin,. Karena banyak kalangan yang segan terhadap pekerjaannya itu. Terutama bagi orang-orang sipil yang kagum dengan Persenjataan (Alutsista) Nasional.
Demikianlah salah satu penggalan sejarah hidup dan profil tokoh seni Betawi, Benyamin Sueb. Perjuangan hidupnya sangat menginspirasi kaum muda untuk tetap berjuang meraih cita-citanya apapun latar belakang dirinya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)