Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX sangat besar bagi rakyat. Dalam catatan sejarah Indonesia, Sri Sultan mampu menyelamatkan rakyatnya dari kerja paksa saat Jepang masuk ke Indonesia.
Pada bulan Oktober merupakan hari-hari memperingati wafatnya Hamengkubuwono IX. Ia adalah seorang Raja pewaris kejayaan Mataram Islam di Kesultanan Hadiningrat Keraton Yogyakarta yang paling dicintai rakyatnya.
Berbagai sejarah yang menyeret nama Hamengkubuwono ke sembilan (HB IX) selalu ada akhir kisah yang mengagumkan.
Salah satunya tentang kisah satu-satunya raja di Jawa pasca kemerdekaan Republik Indonesia yang masih mendapatkan izin menjabat sebagai kepala pemerintahan daerahnya sesuai dengan adat, dan tradisi feodalisme Jawa.
Selain itu, figur HB IX yang patut kita contoh, baik perilaku maupun kedisiplinannya.
Potret Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX
Sebelum membahas lebih jauh perjuangannya, kita akan mengenal bagaimana potret Sri Sultan kecil.
Hamengkubuwono IX lahir pada tanggal 12 April 1912 di lingkungan Keraton Yogyakarta, tepatnya di jalan Ngasem, Sompilan, Kota Yogyakarta.
Baca juga: Sejarah Jalan Malioboro, Jalur Sakral Mataram Jadi Pertokoan
Sejak kecil, ia memiliki nama asli Gusti Raden Mas Dorodjatun. Kemudian pada umur empat tahun hidup terpisah dengan keluarga ningratnya di Kraton akibat ditipkan pada keluarga Belanda kolega sang ayah.
Ayahnya yakni Sri Sultan Hamengkubuwono VIII berpesan agar Raden Mas Dorodjatun dipersiapkan untuk menjadi pemimpin kerajaan di masa yang akan datang.
Oleh sebab itu Ia perlu bekal pendidikan Barat supaya bisa menghadapi Belanda dengan cara yang lebih bijak.
Semenjak itulah, amanat HB VIII mendapat dukungan keluarga besarnya dan memutuskan Raden Mas Dorodjatun kecil dititipkan pada keluarga Belanda.
Kehidupan di Lingkungan Belanda
Kehidupan di lingkungan orang Belanda membuat HB IX mendapat pendidikan formal standar orang-orang Eropa di Hindia Belanda.
Raden Mas Dorodjatun mengawali sekolahnya di Taman Kanak-kanak khusus Belanda Frobel School. Kemudian setelah itu melanjutkan pendidikan tingkat dasarnya di Eerste Europese Lagere School (ELS).
Setelah tamat di ELS, Raden Mas Dorodjatun yang beranjak dewasa ini melanjutkan formilnya di Neutral Europese Lagere School. Kemudian pindah ke Hogere Burger School (HBS) Semarang, dan Bandung.
Baca juga: Korte Verklaring, Perjanjian Raja Jawa dengan Belanda yang Merugikan
Kemudian ketika lulus dari (HBS) Bandung, calon raja Yogyakarta kesembilan ini memilih kuliah di Eropa. Ia memilih studi Indologi di Leiden Universteit Belanda.
Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX untuk mendapatkan ilmu di bangu kuliah terhenti. Sebab, Ia mendapat surat untuk pulang karena sang ayah sedang sakit. Kemudian pada tanggal 22 Oktober 1939 HB VIII meninggal dunia.
Raden Mas Dorodjatun pun pulang dan kembali ke Kraton. Sepeninggal ayahnya Ia mendapatkan kepercayaan dari keluarga besarnya untuk memimpin Yogyakarta alias penerus tongkat estafet kepemimpinan dari ayahnya (HB VIII).
Karena atas dasar kesepakatan bersama yang matang itu, pada tanggal 18 Maret 1940 Gusti Raden Mas Dorodjatun secara resmi menjadi Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Dengan gelar panjang di depannya, yakni Sampeyan Dalem Ingkang Sinuwun Kanjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Ngalaga Abdurrahman Sayidin Panatagama Khalifatullah Ingkang Jumeneng Kaping Sanga.
Sultan yang Bijaksana
Semenjak resmi menjadi pemimpin Yogyakarta yang baru, Sri Sultan Hamengkubuwono IX terkenal sebagai Sultan yang bijaksana.
Hal ini terlihat seiring dengan peristiwa-peristiwa besar yang Ia hadapi di masa kepemimpinannya seperti, peristiwa Perang Dunia II pada tahun 1942.
Akibat Perang Dunia II Jepang masuk ke Indonesia lewat Tarakan Kalimantan, hingga menjalar dan menguasai pulau Jawa, termasuk Yogyakarta.
Dalam sejarah penjajahan Jepang, Hamengkubuwono IX turut menyelamatkan rakyatnya dari kerja paksa Jepang (Romusha).
HB IX menyiasati pembangunan kanal irigasi penghubung sungai Progo dan Kali Opak yang kini masyhur dengan sebutan Selokan Mataram, dan yang mengerjakannya adalah rakyat Yogyakarta sendiri.
Proposal dinas ini kemudian dibawa ke para pejabat Jepang terkait, dan mendapatkan persetujuan.
Akibatnya masyarakat Yogyakarta terbebas dari kejaran tentara Jepang untuk menjadi tenaga Romusha.
Sementara itu, pasca pendudukan Jepang berakhir dan kemerdekaan Republik Indonesia berkumandang pada 17 Agustus 1945, dengan cepat Sri Sultan Hamengkubuwono IX bersama wakilnya Paku Alam VIII memberikan ucapan selamat pada Soekarno-Hatta melalui surat kilat.
Selain mengucapkan selamat, dalam surat tersebut Hamengkubuwono IX juga menyatakan untuk bergabung dan mengambil posisi sebagai bagian dari pemerintahan Republik Indonesia.
Tak hanya itu, ia juga menyumbangkan kekayaan Keraton Yogyakarta sebesar enam juta gulden untuk melanjutkan pemerintahan Republik Indonesia di bawah pimpinan Soekarno- Hatta.
Mendengar Perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam negara itu pun membuat Presiden Soekarno pun menangis haru.
Pasalnya, Indonesia yang baru lahir ini mendapatkan dukungan dari penuh dari pemimpin Yogyakarta.
Oleh sebab itu, Keraton Yogyakarta merupakan satu-satunya kerajaan di pulau Jawa yang mendapatkan hak keistimewaan menjadi daerah swapraja hingga saat ini.
Hamengkubuwono IX Wafat
Hamengkubuwono IX wafat di Washington DC, Amerika Serikat setelah mendapat perawatan di rumah sakit akibat serangan jantung, pada senin 2 Oktober 1988 silam.
Koran berbahasa Belanda De Telegraaf bertajuk “Laatste Sultan Van Yogyakarta Overleden” tanggal 04 Oktober 1988 mengungkapkan kepergian HB IX.
Apalagi kepergiannya itu menimbulkan kesedihan yang mendalam dari berbagai kalangan masyarakat dan pejabat di Yogyakarta.
Baca juga: Serat Jatipusaka Makutharaja, Sastra Jawa Pedoman Jadi Raja
Perasaan kehilangan itu akibat ayah dari sembilan belas anak ini banyak yang menganggap sebagai pemimpin yang suci dan mencerminkan kepedulian untuk rakyatnya secara tulus.
Begitupun dengan Presiden Soeharto yang juga orang Yogyakarta.
Mendengar berita lelayu dan Sultan IX ini, kemudian dengan cepat meminta pihak keluarga agar bersedia upacara pemakamannya Presiden Soeharto yang memimpin langsung.
Selain sebagai kolega politiknya, Presiden Suharto juga merasa rendah hati di depan mendiang Hamengkubuwono IX.
Sebab, Sultan merupakan senior sekaligus pemimpin yang pernah mengutusnya menyerang Belanda pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta.
Presiden Soeharto pun dengan tulus memimpin langsung prosesi pemakaman HB IX di komplek pemakaman raja-raja Mataram, yang bertempat di perbukitan Imogiri, Bantul, Yogyakarta.
Demikian potret perjuangan Sri Sultan Hamengkubuwono IX dalam menyelamatkan rakyat. Apalagi ia dalam sejarah Indonesia terkenal sebagai pemimpin yang bijak. (Erik/R6/HR-Online)