Pemberontakan PKI di Ciamis pernah terjadi pada tahun 1926 zaman kolonial Hindia Belanda. Sejarah PKI mencatat, sebelumnya pemberontakan Partai Komunis Indonesia ini juga terjadi serentak di beberapa daerah. Khususnya pulau Jawa pada tahun 1925.
Untuk pertama kalinya PKI merealisasikan perjuangan ajaran komunisme dunia, yang mendukung terjadinya revolusi dari kaum buruh, petani, dan nelayan.
Revolusi ini terjadi akibat beberapa tuntutan penting di belakangnya. PKI menuntut kemerdekaan, meruntuhkan sistem aristokrasi kedaerahan, dan menyingkirkan pemerintahan imperialis-kolonial Hindia Belanda.
Adapun pemberontakan ini pertama kali terjadi yaitu pada tahun 1925. Lebih tepatnya ketika PKI melangsungkan kongres di Prambanan pada 25 Desember 1925.
Kesepakatan kongres tersebut antara lain, bakal mengadakan pemberontakan secara serentak di seluruh daerah Hindia Belanda. Tidak terbatas pada Jawa, akan tetapi juga hingga ke Sumatera.
Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI 1926, Pelakunya Digantung di Alun-alun Ciamis
Pemberontakan pun meletus di beberapa daerah, akan tetapi pusatnya berawal di Batavia. Pemberontakan tersebut juga menjalar hingga ke Jawa Barat. Salah satunya ke daerah Ciamis.
Di Ciamis sendiri pemberontakan PKI terjadi pada tahun 1926. Tujuannya meruntuhkan sistem feodalisme dalam struktur pemerintahan Regent (Kabupaten) pimpinan seorang “Menak” yaitu Bupati Sastrawinata.
Ketika kerusuhan meletus di Ciamis pada tahun 1926, tidak banyak korban yang melibatkan pribumi. Sebab menurut Koran Belanda “De Locomotief”, tanggal 05 Oktober 1925, sebelum tahun 1926, banyak orang Ciamis yang mengungsi ke Tjigoegoer, Pangandaran.
Pengungsian tersebut akibat terjadinya perpecahan Syarikat Islam di Ciamis yang memunculkan dugaan kerusuhan. Betul saja, kerusuhan menjadi kekhawatiran masyarakat Ciamis bakal terjadi pada tahun 1925, ternyata jadi kenyataan setahun kemudian.
Berikut ini akan sejarah pengungsi orang Ciamis ke Tjigoegoer Pangandaran, akibat menghindari kerusuhan PKI pada tahun 1926.
Awal Pemberontakan PKI di Ciamis Tahun 1926
Sejarah kolonial Belanda mencatat, awal terjadinya pemberontakan PKI tahun 1926 di Ciamis akibat realisasi kongres Prambanan pada 25 Desember 1925.
Akan tetapi di balik kerusuhan yang serentak akibat realisasi kongres Prambanan, ada hal yang melatarbelakangi perpecahan itu terjadi.
Orang-orang PKI di Ciamis melakukan pemberontakan pada pemerintahan kolonial Hindia Belanda karena menginginkan daerah yang “Mardika”, bebas dari genggaman Belanda.
Selain itu, pemberontakan PKI 1926 di Ciamis ini juga untuk merealisasikan persetujuan kaum proletar di seluruh Indonesia, agar terbebas dari tekanan kemiskinan dan kekhawatiran akan kehidupan mendatang.
Sementara yang paling penting untuk merealisasikan itu semua, PKI memilih langkah utamanya dengan terlebih dahulu menculik pemimpin daerah Ciamis, yaitu seorang Regent “Menak” Bupati Sastrawinata.
Baca Juga: Pengkhianatan PKI dan Fakta-faktanya Sejak Tahun 1924
PKI mencurigai Bupati Sastrawinata sebagai seorang pemimpin daerah yang dekat dengan kolonial Belanda. Tak heran dalam kebijakannya kerap merugikan kaum buruh dan tani.
Akibat rencana penculikan Bupati Sastrawinata ini, beberapa opas penjaga kantor Regent Ciamis mengalami luka-luka akibat perkelahian yang membabi buta dari PKI.
Kantor Bupati Ciamis mengalami kekacauan, sementara kegiatan memporak-porandakan kantor Regent bertujuan membuat kepanikan Belanda.
Akan tetapi Belanda bisa mengatasi kerusuhan ini dengan singkat. Belanda menumpas PKI dan PKI pun kalah. Kekalahan ini disinyalir oleh kurangnya konsolidasi massa aksi, sebagaimana Tan Malaka mengatakan dalam tulisannya ‘Madilog’, hal tersebut sebagai kegagalan revolusi.
Mengungsi ke Tjigoegoer Pangandaran
Masyarakat Ciamis sudah menduga bakal ada pemberontakan PKI di daerahnya. Hal ini terjadi menimbang peristiwa pecahnya Syarikat Islam menjadi dua. Ada Syarikat Islam “Putih” pimpinan H.O.S. Tjokroaminoto, dan ada Syarikat Islam “Merah” yang identik dengan ajaran komunisme pimpinan Semaoen.
Menimbang perpecahan itu, masyarakat Ciamis sangat peka pada dampak yang akan terjadi. Mereka menduga akan ada kerugian besar apabila tetap tinggal di Ciamis, seban bisa saja terjadi kerusuhan yang memporak-porandakan seluruh sudut desa dan kota Ciamis.
Sedangkan menurut Koran Belanda, “De Locomotief” tanggal 05 Oktober 1925, sebagian penduduk Ciamis “Netral” tidak memihak Kolonial atau PKI. Mereka akhirnya memilih pergi mengungsi ke dataran tinggi di pesisir Pangandaran yaitu, daerah Tjigoegoer.
Berdasarkan sumber yang sama, ada sekitar 130 orang Ciamis yang mengungsi ke Tjigoegoer, Pangandaran akibat isu akan terjadinya pemberontakan secara serempak oleh PKI pada tahun 1926.
Terbukti pemberontakan pun terjadi pada awal tahun 1926. Strategi mengungsi yang dilakukan sebagian penduduk Ciamis ke Tjigoegoer, terbukti berhasil mengamankan masyarakat yang netral.
Mereka selamat dari berbagai risiko yang ditimbulkan oleh peristiwa pemberontakan PKI 1926 di Ciamis. Seperti risiko terkena hukum pidana: “penjara seumur hidup” maupun “eksekusi mati”.
Pengungsi dari Ciamis ke Tjogoegoer Capai 130 Orang, Bukti Kekalahan PKI
Adanya masyarakat Ciamis yang mengungsi ke Tjigogoer sebelum meletusnya pemberontakan PKI tahun 1926, secara sederhana telah membuktikan kekalahan PKI dari rencana “Revolusi”.
Fenomena mengungsi lebih awal, dan munculnya kelompok netral di Ciamis menandakan bahwa revolusi PKI kurang konsolidasi massa aksi.
Tidak ada anggota yang loyal dan militan sebagaimana yang telah disinggung oleh Tan Malaka sebelumnya. Revolusi PKI yang merupakan kesepakatan kongres Prambanan pada 1925 telah gagal, selamanya akan gagal karena tidak ada persiapan yang matang.
Akibatnya hanya akan menimbulkan korban, pengurangan angka kepadatan penduduk pribumi, dan keresahan serta kegelisahan dalam kehidupan berorganisasi bagi kalangan pribumi.
Baca Juga: Pengaruh Komunisme di Jawa Barat serta Fakta Kongres PKI dan SI Merah
Hal ini terbukti dengan adanya sejumlah korban terluka, tewas, mendekam di penjara, bahkan terkena hukuman gantung di depan alun-alun Ciamis.
Menurut Koran Belanda “Bataviaasch Nieuwsblad”, tanggal 05 Februari 1927, telah ada 4 orang komunis pertama yang mendapat tuduhan melakukan pembunuhan di Ciamis.
Koran tersebut juga menyebut mereka akan diadili pada tanggal 14 Februari 1927 mendatang di Pengadilan “Landraad” Ciamis.
Sementara dari putusan terakhir sidang “Landraad” 3 orang jadi tersangka Pemberontakan PKI Ciamis 1926 yaitu, Egom, Hasan, dan Dirdja. Belanda mengeksekusi Egom, Hasan, dan Dirdja dengan cara menggantung ketiganya di Alun-alun Ciamis pada 12-13 November 1927. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)