harapanrakyat.com,– Memasuki pekan ketiga bulan Oktober 2022 harga sejumlah kebutuhan pokok di pasar tradisional Kota Banjar, Jawa Barat, terpantau stabil. Bahkan, harga untuk komoditas cabai rawit merah di Pasar Kota Banjar turun hanya Rp 37 ribu per kilogram.
Dari data pantauan harga, hanya kebutuhan pokok berupa beras yang cukup tinggi menyentuh kisaran harga Rp 13 ribu untuk beras premium.
Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah dan Perdagangan Kota Banjar, Edi Herdianto, mengatakan, pada awal pekan ini harga cabai rawit merah turun menjadi Rp 37 ribu per kilogram.
Harga cabai rawit merah turun dibandingkan harga cabai rawit satu minggu yang lalu di Pasar Banjar. Saat itu, harganya masih Rp 46 ribu per kilogram dan empat hari yang lalu Rp 37 ribu per kilogram.
Baca Juga: Bappelitbangda Kota Banjar Ungkap Konsep Penataan Jalan Hamara Efendi
Harga Komoditas di Pasar Banjar Cenderung Stabil
Begitu juga, lanjutnya, untuk harga cabai-cabaian dan sejumlah komoditas aneka sayuran terpantau stabil dan tidak terjadi kenaikan harga yang signifikan.
“Dari pemantauan harga di lapangan awal pekan ini harga kebutuhan pokok masih stabil. Hanya kedelai dan beras yang memang cukup tinggi,” kata Edi Herdianto kepada HR Online, Senin (24/10/2022).
Lanjutnya menyebutkan, harga kebutuhan pokok yang lain untuk telor ayam ras Rp 27 ribu per kilogram, daging ayam Rp 28 ribu, minyak curah Rp 14 ribu, minyak kemasan Rp 24 ribu dan gula pasir Rp 13.500 per kilogram.
Meski begitu, kata Edi, untuk harga kebutuhan pokok beras dan kedelai impor masih tinggi. Harga beras premium jenis IR 64 yaitu Rp 13 ribu per kilogram, beras premium Rp 10 ribu dan kedelai impor Rp 15 ribu per kilogram.
Adapun yang menjadi faktor kenaikan harga beras tersebut, kata Edi, menurutnya bisa juga akibat penurunan produksi padi. Hal ini karena beras komoditas lokal gagal panen.
“Harga beras awal pekan ini masih tetap, cuma memang ada kenaikan dibandingkan saat awal bulan Oktober. Untuk faktornya lebih jelasnya ada di Dinas yang membidangi karena untuk beras termasuk komoditas lokal,” katanya. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)