Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruHaji Agus Salim, Siswa HBS Tolak Beasiswa Kartini ke Belanda

Haji Agus Salim, Siswa HBS Tolak Beasiswa Kartini ke Belanda

Haji Agus Salim, namanya saat ini tercatat menjadi pahlawan Nasional. Namun apakah Anda tahu jika sebelum menjadi Pahlawan Nasional, nama Haji Agus Salim sudah terkenal menjadi murid Hogere Burgerschool (HBS) yang berprestasi di Batavia?

Bahkan gurunya pernah mengusulkan Haji Agus Salim untuk mendapatkan beasiswa pemerintah kolonial, namun usahanya gagal karena usulah tersebut ditolak tanpa alasan oleh Belanda.

Penolakan beasiswa Haji Agus Salim oleh Belanda saat itu terdengar oleh khalayak umum melalui surat kabar. Informasi ini juga terdengar hingga ke R.A. Kartini.

Saat itu R.A. Kartini memiliki beasiswa dari kolonial untuk belajar ke Belanda. Namun karena orang tuanya tidak mengizinkan karena sebentar lagi Kartini akan menikah, maka beasiswa tersebut diberikan pada murid HBS berprestasi tersebut.

Baca Juga: Profil Mohammad Natsir, Politikus Islam Lawan Debat DN. Aidit

Namun Haji Agus Salim pemberian beasiswa R.A. Kartini. Ia berpendirian bahwa pemberian beasiswa dari Kartini itu bukan keinginan pemerintah kolonial Belanda yang sesungguhnya.

Oleh sebab itu Haji Agus Salim menolak pemberian beasiswa. Ia memilih tinggal di Batavia untuk mencari pengalaman lain, serta tidak berangkat studi ke Belanda sebagaimana yang Kartini harapkan.

Pada kesempatan kali ini, penulis bermaksud untuk membahas sejarah hidup Haji Agus Salim. Seorang Pahlawan Nasional yang pernah menolak beasiswa Kartini ke Belanda.

Profil Hidup Haji Agus Salim

Agus Salim lahir pada tanggal 8 Oktober 1884 dengan nama kecil Mashudul Haq. Ia lahir di tanah leluhur orang tuanya yaitu di Kota Gadang IV Bukittinggi, Sumatera Barat.

Agus Salim yang kerap dikenal Belanda dengan sebutan The Grand Old Man of Indonesia ini lahir di keluarga yang cukup berada.

Ayahnya seorang pegawai pemerintah Hindia Belanda berpangkat Jaksa Kepala di Riau. Sementara kakaknya juga sama menjadi pegawai pemerintah Hindia Belanda di bawah urusan administrator Kejaksaan.

Ibunya keturunan ningrat Sumatera Barat dan memiliki kedudukan yang tinggi, serta dihormati di Bukittinggi.

Dengan demikian Haji Agus Salim kecil tumbuh menjadi anak yang cerdas dan disegani oleh semua orang, termasuk anak-anak, serta keluarga Belanda di Bukittinggi.

Masa Sekolah Haji Agus Salim

Sejak umur tujuh tahun Agus Salim sekolah di Europeesche Logere School (ELS). Sekolah tingkat dasar khusus untuk orang-orang Belanda.

Masuknya Agus Salim kecil ke ELS akibat dari kedudukan mentereng sang Ayah (Sutan Mohammad Salim) sebagai Jaksa Kepala yang disegani pemerintah kolonial Bukittinggi.

Terlepas dari itu, Agus Salim juga merupakan anak yang cerdas. Kecerdasannya bahkan mengalahkan rata-rata prestasi anak Belanda setingkat diatasnya tatkala sekolah di ELS.

Setamat dari ELS pada tahun 1898, Agus Salim meneruskan sekolahnya ke Hogere Burgerschool (HBS) di Batavia.

Ini kali pertama Agus Salim berpisah dengan keluarga akibat merantau untuk sekolah ke Batavia (Jakarta). Di sana Agus Salim dititipkan pada kerabat yaitu paman dari ayahnya.

Baca Juga: Profil Soedjatmoko, Anggota Konstituante yang Bikin Jengkel Sukarno

Satu semester di HBS terlewati, kecerdasan Agus Salim semakin terbukti jelas. Ia memperoleh nilai tertinggi se-HBS dari hasil ujian akhir sekolah.

Namanya semakin dikenal di dalam maupun luar sekolah HBS. Anak-anak Belanda mendekatinya karena Agus Salim sangat pintar, dan berprestasi.

Selain didekati teman-teman Belanda, Agus Salim juga disukai oleh para guru Belanda. Bahkan dari sini awal mula Ia diajukan untuk mendapatkan beasiswa studinya ke Belanda.

Pernyataan ini sebagaimana mengutip Mukayat dalam buku berjudul “Haji Agus Salim, Karya dan Pengabdiannya”, (Mukayat, 1985: 4).

Menolak Beasiswa dari RA Kartini

Ketika dipromosikan oleh guru-guru HBS untuk memperoleh beasiswa pemerintah Hindia Belanda melanjutkan studi ke sekolah kedokteran Tot Opleiding van Inlandsch Artsen (STOVIA), nama Haji Agus Salim masuk dalam daftar pemohon yang ditolak.

Mendengar kabar ini, ia kecewa. Ia bahkan tidak ingin mengulangi pendaftaran beasiswa ini karena dianggap recruiter (pemilih) calon penerima beasiswanya tidak netral.

Pemerintah Belanda selalu mendiskriminasi pribumi dalam segala hal tak terkecuali penerimaan dana beasiswa belajar. Mereka lebih memilih orang-orang Eropa tak berprestasi untuk mendapat beasiswa.

Peraturan ini jelas tidak fair. Haji Agus Salim menentang kebijakan ini dengan cara mendebat guru-guru HBS supaya tidak mudah percaya dengan omongan pejabat-pejabat kolonial yang licik.

Kabar penolakan beasiswa bagi siswa yang paling berprestasi di HBS ini terbit dalam berbagai majalah, dan surat kabar.

Informasi beritanya sampai ke tangan R.A. Kartini. Seketika ibu emansipasi wanita asal Jepara ini menanggapi kabar tersebut dengan memberikan jatah beasiswa dirinya pergi belajar ke Belanda untuk Haji Agus Salim.

Sebab sebelumnya R.A. Kartini mendapatkan beasiswa belajar ke Belanda dari pemerintah kolonial. Namun Ia tidak direstui oleh orang tuanya untuk pergi studi ke Belanda.

Baca Juga: Kasman Singodimedjo, Jaksa Agung Pertama RI yang Religius

Karena Kartini sudah dijodohkan untuk menikah dengan bupati Rembang. Artinya masa pingit sebentar lagi akan dilakukan, dan tidak seorang pun bisa menemui Kartini, apalagi sampai Kartini disuruh pergi belajar ke Belanda.

Kisah pilu itu didengar oleh Haji Agus Salim. Visa belajarnya ke Belanda dari Kartini akan diberikan secara cuma-cuma. Namun Ia tetap kekeuh dengan pendiriannya tidak menerima dan berangkat ke Belanda.

Alasan Tolak Beasiswa

Haji Agus Salim menolak pemberian beasiswa dari Kartini, karena pemberian beasiswa itu akibat desakan Kartini pada pemerintah kolonial. Bukan karena niat baik pemerintah Belanda sendiri.

Oleh sebab itu, ia memilih untuk tidak berangkat, dan menerima beasiswa pendidikan itu ke Belanda.

Ia lebih memilih mencari pekerjaan di Batavia. Akhirnya Haji Agus Salim ditunjuk sebagai pejabat konselor penerjemah Belanda di Saudi Arabia.

Pengalamannya menjadi konselor penerjemah ini dianggap sebuah capaian yang lebih murni, dan dihargai dirinya sendiri, ketimbang menerima beasiswa yang sebetulnya pemberi dana beasiswa itu sendiri tidak menyetujuinya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Sungai Citalahab di Kertahayu

Sungai Citalahab di Kertahayu Ciamis Meluap, Satu Keluarga Terjebak Banjir

harapanrakyat.com,- Sungai Citalahab di Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap, relawan Sigab Persis Ciamis lakukan evakuasi satu keluarga yang terjebak banjir di...
Kolam Ikan Milik Warga

Hujan Deras di Kota Banjar, Sawah hingga Kolam Ikan Milik Warga Terendam Banjir

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang melanda wilayah Kota Banjar, Jawa Barat, pada Rabu (2/4/2025) sore menyebabkan area persawahan hingga kolam ikan milik warga di Dusun...
Anak Sungai Citalahab Meluap

Hujan Mengguyur Pamarican Ciamis Sebabkan Anak Sungai Citalahab Meluap, 12 Rumah Terendam

harapanrakyat.com,- Curah hujan yang terus mengguyur membuat anak Sungai Citalahab di Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap. Akibatnya 12 rumah di...
Pohon Jati Tumbang

Sejumlah Pohon Jati Tumbang Timpa Rumah Warga dan Tutup Jalan di Pamarican Ciamis

harapanrakyat.com,- Hujan disertai tiupan angin kencang menyebabkan sejumlah pohon jati tumbang menimpa rumah dan menutup akses jalan di wilayah Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa...
Jalan Utama Penghubung Jatiwaras

Longsor di Tasikmalaya Tutup Akses Jalan Utama Penghubung Jatiwaras-Salopa

harapanrakyat com,- Akibat hujan deras, jalan utama penghubung Jatiwaras-Salopa longsor. Tepatnya di Kampung Demunglandung, Desa Papayan, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat, Rabu (2/4/2025)...
Rumah ludes terbakar Ciamis

Rumah di Ciamis Ludes Terbakar, Diduga Ini Penyebabnya!

harapanrakyat.com,- Sebuah rumah di Lingkungan Karangsari, Kelurahan Maleber, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat ludes terbakar. Kebakaran itu terjadi Rabu (2/4/2025) sore sekitar pukul...