Masyarakat Kuningan, Jawa Barat pada tahun 1940-1950 masih mempercayai sebuah aliran kepercayaan buhun melalui tradisi Hajat Tutulak.
Menurut berbagai kesaksian, tradisi ini berguna untuk menolak bala sebagaimana perlindungan gaib yang tak terlihat.
Masyarakat desa Karangtawang, Kuningan, Jawa Barat percaya Hajat Tutulak merupakan perlindungan dari serangan DI/TII pimpinan Kartosuwirjo yang sedang berkecamuk.
Sebab saat itu di desa Karangtawang sudah banyak korban penculikan hingga sampai detik ini tidak ada yang tahu korban berada di mana.
Selain penculikan masyarakat desa, gerombolan pemberontak tersebut juga kerap mengacaukan pemukiman dengan cara membakar rumah milik warga desa yang tidak mau menyerahkan upeti.
Biasanya para gerombolan ini meminta logistik pada penduduk desa, namun mereka tidak memberikan bahan pokok makanan tersebut untuk bekal gerombolan bergerilya di Pegunungan Galunggung.
Baca Juga: H.O.S Tjokroaminoto, Guru Sukarno dan Tokoh Bangsa Lainnya
Adapun selain menolak bala yang terlihat, Hajat Tutulak juga bertujuan menghindari roh jahat yang mengintai desa Karangtawang.
Roh jahat tersebut berasal dari jasad gentayangan pemimpin DI/TII bernama Arsjad yang saat itu tertembak oleh TNI pada tahun 1956. Hingga saat ini nama Arsjad masih menjadi misteri di desa Karangtawang, Kuningan, Jawa Barat.
Hajat Tutulak di Kuningan dan Kematian Arsjad Tahun 1956
Arsjad terkenal sebagai pemimpin DI/TII di wilayah Kuningan. Menurut catatan sejarah Indonesia, namanya termasuk dalam jajaran tokoh DI/TII yang bengis.
Kebengisan Arsjad tercermin dari sikapnya yang berani membumihanguskan sebagian perkampungan di desa Karangtawang, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.
Selain bengis dan pemberani, Arsjad juga terkenal di kalangan masyarakat Kuningan sebagai sosok yang sakti mandraguna.
Kesaktian Arsjad untuk menakut-nakuti warga desa Karangtawang. Pernah suatu ketika Ia mengancam akan menghancurkan seluruh penduduk desa Karangtawang apabila kepala desanya tidak memberikan logistik untuk gerombolan.
Karena ketakutan yang luar biasa, kepala desa akhirnya menyerahkan logistik kepada gerombolan melalui Arsjad.
Warga desa banyak yang terpaksa memberi kebutuhan pokoknya seperti beras, hasil perkebunan, dan ternaknya pada gerombolan tersebut.
Seiring dengan lebih beraninya gerombolan DI/TII dalam bertindak, akhirnya TNI mengadakan serangan balik untuk kelompok separatis ini dengan taktik, dan strategi luar biasa bernama Pagar Betis.
Dari operasi militer TNI untuk menghabisi gerombolan pun mendapat sambutan baik dari seluruh masyarakat Kuningan, khususnya warga desa Karangtawang.
Tak lama sejak operasi tersebut berjalan. TNI kemudian berhasil menangkap Arsjad dalam keadaan tak bernyawa. Konon Arsjad melawan saat TNI akan menangkapnya.
Baku tembak tak terhindarkan, menurut berbagai kesaksian, Arsjad yang mengaku sakti itu benar ternyata kebal peluru.
Namun karena kejadian baku tembak ini berada di kawasan pemakaman keramat, ilmu kebal Arsjad mendadak luntur dan peluru pun tepat menembus jantung pemimpin gerombolan yang bengis tersebut.
Baca Juga: Kisah Bung Karno Pernah Satu Kos dengan Pendiri PKI
Menggelar Tradisi Tolak Bala: Hajat Tutulak
Ketika Arsjad tewas akibat baku tembak dengan TNI, masyarakat di desa Karangtawang kemudian menggelar tradisi tolak bala yakni, Hajat Tutulak.
Tujuan dari Hajat Tutulak ini untuk menghindarkan masyarakat desa Karangtawang dari teror roh jahat Arsjad. Masyarakat percaya Arsjad belum sepenuhnya mati.
Sebab menurut tetua masyarakat di sana, roh jahat sang pemimpin gerombolan ini masih kuat dan besar kemungkinan akan membalaskan dendamnya melalui berbagai teror yang mematikan.
Alasan tetua ini mengatakan demikian karena saat Ia melihat Arsjad yang telah masuk karung jenazah milik TNI, badannya masih segar, dan tidak terlihat pucat. Selain itu, yang lebih menakutkan badan Arsjad penuh bentol, hal ini konon karena Arsjad kebal dan tak tertembus peluru.
Maka dari itu masyarakat desa Karangtawang mengadakan Hajat Tutulak karena merasa khawatir jika roh jahat menyerang desa mereka.
Sementara menurut Edi S Ekadjati dalam buku berjudul “Tulak Bala: Sistem Pertahanan Tradisional Masyarakat Sunda dan Kajian Lahirnya Mengenai Budaya Sunda”, (Ekadjati, 2003: 32), beberapa kelompok masyarakat desa (RT) mengadakan tradisi Hajat Tutulak.
Hajat Tutulak biasa digelar di area terbuka seperti di halaman rumah salah seorang penduduk terkemuka (tetua), setiap menjelang malam Jum’at Kliwon dari pukul 17.30 WIB – 18.00 WIB.
Dalam pagelaran Hajat Tutulak tuan rumah akan menyediakan sesaji komplit yang terdiri dari, Nasi Tumpeng, Rokok Cerutu, Gula Batu, Tangkueh, Kemenyan, Bara Api (Parukuyan), dan Hayam Bakakak (Ingkung Ayam).
TNI Larang Hajat Tutulak di Kuningan
Masih menurut Edi S Ekadjati, di tengah kepercayaan masyarakat desa Karangtawang di Kabupaten Kuningan akan sebuah tradisi Hajat Tutulak (Tolak bala), TNI hadir dan membubarkan kepercayaan mereka dengan alasan menghindari kemusyrikan.
Tekad TNI menghilangkan tradisi ini awalnya menuai kecaman dari sebagian penduduk desa Karangtawang, Kuningan Jawa Barat.
Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat di sana sadar jika larangan TNI tersebut bertujuan untuk kebaikan bersama.
Masyarakat Karangtawang belajar supaya tidak menggunakan Jin sebagai pembantu keamanan desa mereka. Sebab di zaman modern saat ini, ada yang lebih berwenang menjaga keamanan secara nyata (real) yakni TNI.
Baca Juga: Bandit Era Kolonial Paling Sakti Berasal dari Banten, Disegani Belanda
Dengan kata lain TNI memperkenalkan diri pada masyarakat desa sebagai satu-satunya lembaga keamanan pemerintah Republik Indonesia yang terpercaya. TNI ingin mengubah stigma masyarakat bahwa kelompok bersenjata itu tidak semuanya jahat seperti gerombolan DI/TII.
TNI berupaya menghilangkan jejak traumatis masyarakat Karangtawang akibat gerombolan bengis pimpinan Arsjad.
Selain menghapuskan tradisi Hajat Tutulak, TNI juga mengajak seluruh masyarakat di desa Karangtawang kembali ke ajaran murni umat Islam.
TNI juga mengajak seluruh lapisan masyarakat Kuningan untuk melibatkan perempuan dalam upacara keagamaan. Seperti mengadakan pengajian rutin ibu-ibu, supaya keimanan masyarakat di Karangtawang terus terjaga dengan baik.
Alhasil masyarakat Karangtawang pun melakukan seluruh imbauan TNI. Maka hingga saat ini masyarakat Karangtawang Kuningan tidak lagi mengadakan Hajat Tutulak, dan hampir seluruh penduduknya taat mengaji dan terus berusaha untuk menjalankan ajaran agamanya dengan benar. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)