Sejarah kolonial Belanda mencatat nama Bupati Tjiamis (Ciamis) Raden Adipati Aria (RAA) Sastrawinata sebagai bupati kharismatik dan berwibawa, Ia juga sangat mendukung segala keputusan Belanda.
Karena itu, RAA Sastrawinata kemudian dinobatkan sebagai satu-satunya Bupati di Priangan, khususnya di daerah Ciamis yang paling dihormati oleh pejabat kolonial Belanda.
Perilaku yang mendukung Belanda dalam berbagai keputusan tercermin dari sikap Bupati Ciamis RAA Sastrawinata yang mudah bergaul. Ia juga fasih berbahasa Belanda.
Baca Juga: Pemberontakan PKI di Ciamis 1926, 130 Orang Mengungsi ke Tjigoegoer
Sebagian orang waktu itu menyebut sang Bupati sebagai pribumi yang ke-Belanda-Belanda-an. Tidak tahu diri, intelektualitas RAA Sastrawinata yang fasih berbahasa Belanda dipakai untuk menjilat pemerintah kolonial dan menelantarkan suara rakyat.
Meskipun rakyat Ciamis membencinya, pejabat kolonial Belanda justru sangat menghargai RAA Sastrawinata. Hal ini terlihat ketika Ratu Wihelmina kembali mengangkatnya sebagai Bupati untuk ketiga kali. Saat itu, RAA Sastrawinata mendapat ucapan selamat dari petinggi militer kolonial yang setara dengan jabatan Panglima.
Bahkan saat RAA Sastrawinata ini diangkat menjadi Regent, upacara simbolis dari Ratu Belanda langsung diperagakan oleh perwakilan administrasi wilayah Priangan. Perwakilan tersebut mengiringi acara pengangkatan RAA Sastrawinata menjadi Bupati.
Mengapa pejabat kolonial Belanda begitu menghormati RAA Sastrawinata? Berikut ini sejarah pengangkatan kembali RAA Sastrawinata menjadi seorang Regent (Bupati) Ciamis pada tahun 1927.
Bupati Ciamis RAA Sastrawinata Dapat Ucapan Selamat dari Panglima Militer Hindia Belanda
Koran Belanda “Algemeen Handelsblad: De Onderscheiding Tjiamis Regent” tanggal 10 Agustus 1927, menyebut R.A.A Sastrawinata merupakan satu-satunya Bupati Ciamis yang mendapat ucapan selamat dari Panglima Militer Kolonial Hindia Belanda bernama William.
Ucapan selamat dari Ordo Ksatria Militer Kolonial, “William” ini dikirim melalui telegraf untuk memperingati hari pengangkatan kembali RAA Sastrawinata sebagai bupati Ciamis yang ketiga kalinya.
Dalam surat ucapan terima kasih yang dikirim oleh William melalui Telegraf dari kantor Panglima Militer Kolonial di Batavia, berisi pujian untuk sang bupati.
William menginginkan bupati RAA Sastrawinata di hari pengangkatannya menjadi Regent kembali, agar menjadi pribadi yang lebih loyal lagi dengan pergaulan orang Eropa.
Sebab William sendiri merasa nyaman saat bergaul dengan RAA Sastrawinata. Entah kenapa Panglima Militer Kolonial Belanda terasa imbang apabila berdiskusi dengan orang pribumi asal Ciamis ini.
Baca Juga: Sejarah Pemberontakan PKI 1926, Pelakunya Digantung di Alun-alun Ciamis
Mungkin karena RAA Sastrawinata merupakan figur pribumi yang cerdas dan bisa mengimbangi segala keinginan orang-orang Eropa di wilayah Priangan. Khususnya daerah kekuasaan Regent Ciamis.
Penutup surat William yang berisi pujian tersebut adalah ucapan bangga yang tak terhingga. Hal ini karena kawan pribuminya yang memihak kolonial ini telah mendapatkan hati Ratu Belanda, hingga RAA Sastrawinata bisa menjadi bupati Ciamis untuk ketiga kalinya.
Jadi Sasaran Pemberontakan PKI 1926
Kedekatannya dengan Belanda dan kebijakannya yang menindas kaum buruh dan tani membuat RAA Sastrawinata jadi sasaran pemberontakan PKI tahun 1926.
PKI berusaha menculik RAA Sastrawinata di kantor bupati. Akibatnya sejumlah opas luka-luka terkena hajar PKI. Tokoh utama pemberontakan tersebut adalah Egom, Hasan, dan Dirdja.
Kantor Bupati saat itu sangat kacau akibat pemberontakan PKI. Namun, Belanda dengan mudah menumpas pemberontakan tersebut.
Egom, Hasan, dan Dirdja berakhir di tiang gantungan. Belanda menggantung ketiganya di Alun-alun Ciamis pada tahun 1927.
Pesta Rakyat
Meskipun sebagian masyarakat Ciamis membenci bupati RAA Sastrawinata karena terlalu pro dengan Belanda, namun beberapa kubu pribumi yang memihak kejayaan sang Regent justru ikut merayakan momentum pengangkatan RAA Sastrawinata menjadi bupati Ciamis kembali.
Peristiwa ini terlihat ketika sebagian masyarakat Ciamis yang pro dengan bupati Sastrawinata mengadakan pesta obor. Mengelilingi alun-alun Ciamis dengan pawai obor, memperingati hari pelantikan RAA Sastrawinata menjadi bupati kembali oleh Ratu Belanda.
Kemeriahan pesta rakyat ini tidak hanya pawai obor, akan tetapi ada juga seni pertunjukan tradisional seperti pagelaran wayang.
Gegap gempita pesta rakyat ini mengundang perhatian banyak pihak, termasuk kalangan Eropa yang kala itu berebut undangan kemeriahan pengangkatan kembali RAA Sastrawinata sebagai bupati Ciamis.
Pesta untuk tamu-tamu Eropa digelar terpisah dan berbeda. Jika pesta rakyat mengadakan pawai obor dan pagelaran wayang, orang-orang Belanda mendapatkan makanan dan minuman mewah. Hal itu sebagaimana tradisi perjamuan Barat.
Adapun di sela terselenggaranya pesta, beberapa pejabat kolonial berdiri dan merebut podium untuk mengalihkan perhatian tamu undangan. Mereka mempromosikan RAA Sastrawinata menjadi sosok teladan pribumi yang patut dihargai oleh Belanda.
Baca Juga: Ciamis Lautan Api, Upaya Menahan Laju Agresi Militer Belanda I
Selain karena prestasinya sebagai bupati yang memiliki masa jabatan terlama (1914-1935), RAA Sastrawinata merupakan tokoh pribumi yang pro dengan Belanda.
Mengakhiri Pesta dengan Ucapan Terima Kasih untuk Rakyat Ciamis
Ketika acara perjamuan tamu-tamu Belanda selesai dan acara pesta rakyat juga rampung, RAA Sastrawinata keluar pendopo. Ia pun menyampaikan ucapan terima kasih untuk rakyat Ciamis yang pro terhadap pemerintahannya selama dua tiga tahun kebelakang ini.
Sebab tanpa dukungan rakyat Ciamis yang hingga saat itu tidak mengagungkan RAA Sastrawinata sebagai pemimpinnya, jabatan sebagai bupati teladan dari Ratu Belanda mungkin tidak akan ia peroleh.
Selain menjadi bupati, RAA Sastrawinata oleh Ratu Belanda juga saat itu dipercaya untuk menduduki jabatan urusan pelabuhan. Tujuannya untuk kepentingan perdagangan pribumi dan masyarakat Tionghoa di wilayah Priangan.
Oleh sebab itu, ucapan terima kasih selanjutnya Ia tujukan untuk para pedagang dari Etnis Tionghoa yang ada di Ciamis. RAA Sastrawinata meminta perhatian pedagang pribumi dan Tionghoa agar rukun dalam praktek perdagangan di Pelabuhan.
Terakhir ucapan terima kasih dari RAA Sastrawinata untuk Yang Mulia Ratu Wilhelmina yang berkuasa sejak tahun 1890.
Menurut catatan redaksi koran Belanda, Algemeen Handelsblad: De Onderscheiding Tjiamis Regent, tanpa dukungan Ratu Wilhelmina yang menguasai Hindia Belanda, mustahil RAA Sastrawinata mendapat jabatan sebagai Regent tiga kali pada tahun 1927.
Nama Bupati Ciamis RAA Sastrawinata kini menjadi nama jalan di daerah Bolenglang, Kelurahan Kertasari, Kecamatan Ciamis, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)