Wabah beri-beri pernah menimpa masyarakat Belitung pada zaman kolonial. Sejarah kolonial Belanda tercatat penyebabnya adalah adanya migrasi kuli tambang timah yang kekurangan gizi dari Cina.
Hal ini membawa para sejarawan dalam kesimpulan bahwa wabah beri-beri Belitung juga didukung oleh keberadaan industri timah yang membutuhkan banyak pekerja.
Kedatangan kuli asing yang berasal dari Cina telah membawa dampak perubahan ekosistem yang buruk di Belitung. Selain menyebarnya wabah beri-beri, masyarakat disana juga kerap menderita penyakit lain yang berhubungan dengan galian tambang.
Adapun dokter khusus yang biasa menyelesaikan wabah dari Belanda mengatakan masyarakat Belitung yang menderita berbagai penyakit karena makanan yang terkontaminasi penambangan timah.
Baca Juga: Belanda Hitam yang Malang, Kisah Orang Afrika jadi Serdadu di Jawa
Dalam perkembangannya, sejarah wabah Beri-beri di Belitung ini menarik untuk dibahas. Sebab artikel ini juga akan menjelaskan bagaimana pemerintah kolonial menyelesaikan wabah tersebut.
Wabah dan Faktor Geologis Belitung yang Berisiko Menularkan Penyakit Beri-Beri
Menurut catatan kolonial, daerah Belitung merupakan salah satu kepulauan di Hindia Belanda yang pantas menyandang sebutan Granite Belt (Sabuk Granit).
Artinya daerah Belitung memiliki sejumlah kekayaan mineral yang sifatnya mengikat mineral batuan terutama jenis kasiterit atau timah.
Selain itu para ahli geografi Belanda juga mengatakan jika Belitung memiliki kontur tanah yang banyak tertutupi oleh batuan granit. Dengan demikian apabila Belanda bisa mengeksploitasi ini maka besar kemungkinan bisa mendatangkan kekayaan.
Atas dasar itu kemudian pemerintah kolonial membuka perusahaan yang berkaitan dengan penambangan timah di Belitung.
Dari peristiwa ini membawa Belitung terkenal hingga ke Belanda karena sumber daya mineral timahnya begitu melimpah dan menguntungkan negeri pusat jajahan.
Karena sumber timah yang melimpah akhirnya membuat Belanda membutuhkan jumlah kuli (pekerja) yang lebih banyak dari sebelumnya. Karena saat itu Cina terkenal sebagai daerah penghasil tenaga kerja, akhirnya para kuli pun didatangkan dari sana.
Kedatangan para kuli dari Cina inilah pertama kali penyakit Beri-beri muncul lingkungan penambang timah Belitung. Sebab ternyata banyak para kuli Cina yang sakit Beri-beri sejak mereka masih berada di Cina.
Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Marry Somers Heidhuis dalam Jurnal Indonesia berjudul “Company Island: A Note on The History of Belitung”, (Heidhuis, 1991: 80-81).
Kondisi Belitung Sesudah Ada Tambah Timah
Sebelum ada penambangan timah di Belitung, masyarakat di sana jarang terkena penyakit. Tak ada wabah yang berbahaya terkecuali sakit karena faktor cuaca.
Akan tetapi masyarakat Belitung mengeluh sering sakit setelah tambang timah yang didirikan oleh Belanda pada tahun 1852.
Sebelum kedatangan para kuli dari Cina, masyarakat Belitung sering kena cacar air. Penyakit yang saat itu dipercaya sebagai hukuman dari roh jahat. Namun penelitian ilmiah Belanda mengatakan penyakit ini terjadi akibat tidak sehatnya lingkungan terutama kualitas air.
Selain cacar air, masyarakat Belitung sesudah ada tambang timah juga kerap terserang Malaria. Penyakit ini disebabkan oleh banyaknya lubang bekas galian tambang yang menggenang dan ditempati nyamuk untuk berkembang biak.
Penyakit lain yang paling mengerikan yakni, tercatat ada beberapa pendatang dari luar yang mengalami penyakit kelamin. Hal ini menjadi perhatian serius masyarakat Belitung waktu itu, karena di daerah kaya timah ini jarang ditemukan penyakit kelamin seperti sifilis.
Dari banyaknya penyakit yang ada setelah tambang timah ini didirikan Belanda di Belitung, ternyata hanya wabah beri-beri yang menimbulkan korban meninggal dunia dengan jumlah yang paling banyak.
Baca Juga: Bandit Era Kolonial Paling Sakti Berasal dari Banten, Disegani Belanda
Kasus Beri-Beri Pertama di Belitung Berasal dari 16 Kuli yang Bermigrasi dari Cina Singkek
Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, wabah Beri-beri pertama kali datang ke Belitung karena adanya migrasi besar-besaran para kuli untuk tambang timah yang berasal dari Cina Singkek.
Menurut Dony Agustio Wijaya dalam Jurnal Mozaik berjudul “Pemberantasan Penyakit Beri-beri di Pulau Belitung Tahun 1856-1908”, (Wijaya, 2022: 67), pertama yang menyampaikan kasus Beri-beri ini adalah dokter Belanda bernama Anton Hendrik.
Anton Hendrik selaku dokter yang bertugas di Belitung menyatakan jika kasus pertama kali munculnya Beri-beri ini berasal dari 16 orang kuli Cina Singkek yang datang tahun 1860.
Mereka datang dengan keadaan sakit, dan besar kemungkinan sudah terkena riwayat Beri-beri di negeri asalnya. Akan tetapi mereka tidak kena proses karantina yang kemudian menyebabkan penyebarannya meluas sampai ke Belitung.
Dalam catatan harian dr. Hendrik menyebutkan bahwa ia hanya bisa menyembuhkan 12 orang dengan gejala ringan pengidap beri-beri. Selebihnya meninggal dengan cara yang tragis.
Badannya kering dan membiru, dengan kondisi salah satu organ tubuhnya yang membengkak dan bentol-bentol. Hal ini digambarkan oleh dr. Hendrik dalam catatan harian kerjanya selama menuntaskan wabah Beri-beri di Belitung.
Penyakit beri-beri juga merupakan salah satu catatan sejarah wabah yang panjang. Sebab penyakit ini selalu mengalami peningkatan setiap sepuluh tahun sekali.
Beberapa catatan kolonial menyebut penyakit Beri-beri paling meningkat tajam pada puncaknya sekitar tahun 1907 dan 1908.
Penyebab peningkatan yang tiada henti ini seiring dengan masuknya kuli-kuli dari Cina yang terus menerus dilakukan. Padahal waktu itu penduduk Cina kebanyakan berpenyakit karena mengalami krisis kelaparan yang luar biasa.
Beri-Beri Meningkat Terus karena Kualitas Pangan yang Buruk
Beberapa dokter yang ikut menyelesaikan wabah beri-beri di Belitung juga memprediksi jika penyakit berbahaya ini pertama-tama disebabkan oleh kualitas pangan yang buruk.
Selain karena terjadinya migrasi kuli Cina Singkek yang berpenyakit ke pertambangan timah di Belitung, rupanya pola makan mereka yang buruk juga ikut mempengaruhi tumbuh kembangnya wabah tersebut.
Para kuli Cina Singkek yang sakit itu diberikan makanan yang tak layak konsumsi oleh Belanda. Sehingga pola makan mereka tidak sehat dan semakin memperparah penyakit yang dideritanya.
Pernyataan di atas sebagaimana disampaikan oleh Dedo Heerklots dalam “Geneeskundig Topographische Schets van Het Eilanda Billiton”, (Heerklots, 1863: 518-526).
Namun setelah pemerintah kolonial mengetahui wabah Beri-beri di Belitung semakin berbahaya, akhirnya para pekerja tambang diberikan perbaikan gizi untuk mengendalikan rasa sakitnya.
Akan tetapi upaya perbaikan gizi ini belum maksimal dilakukan, sebab perusahaan timah hanya mengandalkan menu daging dan kacang yang saat itu juga sudah kedaluwarsa.
Selain karena penyediaan makanan yang kurang sehat itu, ternyata penyakit Beri-beri juga disebabkan oleh konsumsi beras putih yang berlebihan.
Hal ini baru diketahui setelah dr. Hendrik melakukan penelitian mendalam akan penyembuhan pasien Beri-beri. Akhirnya pasokan beras putih pun dihentikan sementara karena tidak mengandung Vitamin (B1) untuk pengidap beri-beri di Belitung.
Cara Pemerintah Kolonial Menanggulangi Wabah Beri-Beri
Dalam perkembangannya wabah beri-beri tidak saja menyebar di kalangan kuli timah Belitung, melainkan meluas hingga ke beberapa daerah di Hindia Belanda.
Baca Juga: Gundik Era Kolonial: Punya Suami, Jual Diri pada Serdadu di Tangsi Militer
Hal ini yang kemudian menyebabkan para dokter ahli penanggulangan wabah dari Belanda berdatangan. Salah satunya adalah dokter Anton Hendrik yang sudah diulas sebelumnya.
Dokter-dokter ahli khusus menanggulangi wabah beri-beri ini kemudian menemukan langkah untuk memutus mata rantai penularan Beri-beri dengan memperbaiki gizi si pengidap.
Pemberian gizi yang seimbang akan memperkaya kandungan Vitamin (B1) yang minim dalam tubuh seseorang penderita Beri-beri. Namun beberapa oknum Belanda masih memonopoli ini dengan hanya memberikan makanan yang sudah tak layak pangan.
Selain pemberian gizi seimbang, untuk menuntaskan wabah Beri-beri, para dokter ahli termasuk Anton Hendrik menyarankan untuk diadakannya pemisahan ruang pasien yang dirawat karena Beri-beri sesuai dengan gejala yang ada.
Pemisahan ruang perawatan akan meminimalisir penularan yang cepat bagi pasien lain yang lebih parah gejalanya. Selain itu, dokter Anton Hendrik menyarankan pasien dengan gejala yang ringan diwajibkan mandi di laut dua kali dalam sehari.
Mandi dengan air laut bisa meminimalisir hingga menghancurkan mikroorganisme penyebab Beri-beri yang menimbulkan bentol-bentol di seluruh tubuh si pengidap.
Para dokter ahli ini juga menyarankan pemerintah kolonial untuk melarang sementara para kuli yang berasal dari Cina Singkek. Sekaligus memberhentikan pasokan beras putih dan agar digantikan dengan beras merah yang kaya akan Vitamin (B1). (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)