Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruSerat Jatipusaka Makutharaja, Sastra Jawa Pedoman Jadi Raja

Serat Jatipusaka Makutharaja, Sastra Jawa Pedoman Jadi Raja

Serat Jatipusaka Makutharaja merupakan karya sastra Jawa yang berisi tentang pedoman menjadi pemimpin sesuai dengan ajaran Islam. Penulisnya adalah Hamengkubuwono V.

Selain berisi pedoman menjadi pemimpin yang religius, serat ini juga berisi refleksi kehidupan dari falsafah orang Jawa kuno.

Falsafah tersebut berisi tentang kisah orang Jawa sebelum mengenal Islam hingga mengenal Islam dan menjadikan agama tersebut sebagai pedoman yang mengajarkan kepemimpinan, keadilan, dan kesejahteraan dalam kehidupan.

Serat Jatipusaka Makutharaja juga dipercaya sebagai satu-satunya sastra kerajaan Mataram yang berisi kiat-kiat untuk menjadi raja berdasarkan ajaran Islam.

Baca Juga: Korte Verklaring, Perjanjian Raja Jawa dengan Belanda yang Merugikan

Karya sastra ini juga mengajarkan keteladanan dan kepemimpinan yang diimplementasikan dalam kehidupan berbagai golongan, yang hidup di atas tanah Jawa.

Serat ini juga merupakan salah satu karya sastra yang sakral di kalangan keluarga raja, sebab siapa pun generasi penerus tahta diwajibkan untuk mempelajari ini sepanjang hidupnya.

Serat Jatipusaka Makutharaja Lahir dari Tangan Seorang Raja Pecinta Sastra

Selain menjadi bacaan wajib di lingkungan kerajaan, Serat Jatipusaka Makutharaja ini juga memiliki sejarah penting dalam perkembangannya.

Serat Jatipusaka Makutharaja ini lahir dari tangan seorang raja Mataram di Yogyakarta yang mencintai sastra yakni, Hamengkubuwono V.

Ada yang unik di balik sejarah pengangkatan Hamengkubuwono V yang saat itu menggantikan ayahnya yang wafat. Hamengkubuwono V ternyata diangkat sebagai raja Mataram Yogyakarta pada umur tiga tahun.

Dari umur tiga tahun itu Hamengkubuwono V di istananya sering mendengarkan karya sastra klasik berbentuk tembang. Maka pada usia remaja ia semakin tertarik dengan sastra dan mencoba membuat tulisan mengenai kepemimpinan.

Hamengkubuwono V juga terkenal sebagai seorang raja yang religius. Setiap perbuatannya selalu berdasarkan dalil-dalil keagamaan. Tak heran dalam Serat Jatipusaka Makutharaja juga religius.

Menurut Purwodiningrat dalam buku berjudul “Benda Pusaka dan Alat-alat Upacara di Keraton Yogyakarta”, (Purwodiningrat, 2009: 255), HB V dewasa telah menghasilkan lebih dari 120 karya sastra.

HB V juga terkenal sebagai figur raja yang peduli dengan perkembangan kebudayaan Jawa. Ia berupaya merawat dan melestarikan budaya Jawa dengan terus memproduksi sastra.

Sementara menurut Dwiyanto dalam penelitiannya berjudul “Atribut Kepemimpinan pada Artefak-artefak Hamengkubuwono V: Sebuah Kajian Arkeologi Sosial”, (Dwiyanto, 2016: 9) menyebut bahwa HB V juga tertarik pada bentuk kesenian lain selain sastra.

Kesenian yang menjadi daya tarik HB V adalah, seni pewayangan, seni pakuwo, cerita kenabian, bahasa, dan seni tari.

Karya Sastra Khusus Pedoman untuk Raja

Adapun Serat Jatipusaka Makutharaja ini merupakan pedoman khusus yang biasa dibaca oleh para calon generasi raja di Kasultanan Mataram Yogyakarta.

Baca Juga: Pesantren Batuhampar, Pusat Pendidikan Islam se-Sumatera Sejak Zaman Kolonial

Lantas apa isi dari serat tersebut, ternyata isinya yaitu terdiri dari berbagai wejangan. Salah satunya adalah pedoman hidup yang diorientasikan pada nilai-nilai Islam.

Setiap bab dalam karya sastra ini juga paling banyak disusun pada tahun 1846. Selain itu HB V juga aktif menyelesaikan karya sastra lainnya hingga tahun 1847.

Menurut Dwiyanto, Serat Jatipusaka Makutharaja  ini dibuat pada saat selesai perang Jawa yakni, 1825-1830. Tujuannya untuk melengkapi literasi di Keraton yang hilang dicuri Inggris saat peristiwa Perang Jawa berkecamuk.

Selain melengkapi literasi Keraton, Serat Jatipusaka Makutharaja juga diciptakan untuk menjaga semangat pasukan Diponegoro yang kala itu dijebak oleh Belanda.

Secara tidak langsung, serat ini juga menyimpan kepentingan politis yaitu, mendukung semangat perlawanan pada Perang Jawa agar terus dijaga. Meskipun dijebak dan kalah, serat ini memberikan pilihan lain untuk melawan penjajah.

Selain terkenal sebagai karya sastra Jawa yang mengajarkan kepemimpinan yang berasal dari ajaran Islam, Serat Jatipusaka Makutharaja juga mengajarkan manajemen pemerintahan raja.

Hal ini sebagaimana dikutip dalam Gandes Sekar Putri berjudul “Kesusasteraan: Ajaran Nilai-nilai Moral Masa Hamengkubuwon V” (G.S. Putri, 2020: 3).

Terinspirasi dari Kepemimpinan Raja Yudishtira

Penulisan Serat Jatipusaka Makutharaja ternyata terinspirasi dari kepemimpinan raja Yudishtira. HB V terinspirasi dari sosok raja yang religius dan bijaksana.

Raja Yudhistira digambarkan sebagai figur pemimpin yang selalu tepat mengambil keputusan. Ketepatan itu berasal dari nilai-nilai agamis yang selalu ditonjolkannya.

Kisah Raja Yudhistira ini muncul dari kisah pewayangan. Tak heran HB V terinspirasi oleh Yudhistira sebab sejak umur belia ia cinta dengan kisah-kisah dalam pewayangan.

Adapaun kutipan langsung dari Raja Yudhistira yang kemudian terkandung dalam Serat Jatipusaka Makutharaja antara lain seperti, tidak boleh melupakan “bukari samsi narendra” (asal-usul leluhur raja-raja sebelumnya).

Selain itu, harus memiliki hati yang awas terhadap “Tajali” atau penampakan Tuhan yang menyatu dengan kalbunya. Bergembira mencari nafkah kehidupan, dan percaya pada ilmu pengetahuan.

Menurut HB V dengan mengutip wejangan dari Raja Yudhistira, maka secara tidak langsung kita bisa membawa generasi raja Mataram Yogyakarta pada kemajuan.

Sebab berdasarkan falsafah pewayangan yang sering dipahami masyarakat Jawa Kuno, Raja Yudhistira kerap dilambangkan sebagai figur pewayangan yang modern dan pembaharu.

Tanda Masyarakat dengan Peradaban Tinggi

Endra S dalam bukunya berjudul “Falsafah Hidup Jawa”, (Endra S, 2006: 56), menyebut bahwa kesusasteraan merupakan sebuah tanda dari masyarakat yang berperadaban tinggi.

Salah satu contohnya yaitu tekad HB V dengan Serat Jatipusaka Makutharaja membawa perubahan dalam sistem pemerintahan ke arah yang lebih maju, sebagaimana Raja Yudishtira.

Menurut Endra S perkembangan karya sastra seperti Serat Jatipusaka Makutharaja telah mendorong berkembangnya Ilmu Pengetahuan yang terus maju di kalangan Keraton.

Baca Juga: Pemuda Zaman Orba, Hidup Manja dan Gemar Menghisap Ganja?

Selain tekad HB V yang ingin mewujudkan pemerintahan maju seperti Raja Yudhistira, salah satu bukti bahwa karya sastra itu tanda dari masyarakat yang peradabannya tinggi juga bisa kita lihat dari munculnya tembang-tembang Jawa yang Adiluhung.

Dalam tembang-tembang Jawa yang tercipta dari Serat Jatipusaka Makutharaja juga bertujuan untuk menciptakan posisi Raja Mataram yang lebih tinggi dari orang-orang Belanda.

Hal ini dilakukan tatkala tembang Jawa yang disertai oleh tarian di Keraton menjadi daya tarik orang-orang Belanda yang kemudian diolah menjadi media kerja sama yang baik antara HB V dengan pemerintah kolonial Hindia Belanda.

Dengan demikian terbutki bahwa karya sastra seperti Serat Jatipusaka Makutharaja, selain menjadi pedoman kepemimpinan, tetapi juga sebagai lambang kemajuan, dan kesetaraan Jawa.

Memberikan Pengetahuan tentang Batasan Mana yang Halal dan Haram

Serat Jatipusaka Makutharaja dalam perkembangannya telah menjadi pedoman untuk para raja dalam mengambil keputusan.

Pengambilan keputusan raja tersebut berdasarkan pengetahuan yang diajarkan dalam serat tersebut terutama bab tentang batasan mana yang halal (boleh) dan mana yang haram (tidak boleh).

Misalnya raja haram untuk korupsi. Dalam Serat Jatipusaka Makutharaja dijelaskan bagaimana seorang raja dilarang memakan harta yang bukan menjadi haknya.

Selain membatasi diri pada korupsi, serat tersebut juga mengajarkan seorang raja untuk tidak melakukan tindakan diluar moral.

Dengan kata lain jangan melakukan perzinahan, dan mabuk-mabukan. Sebab selain menimbulkan kerugian di dunia, dua hal itu juga dilarang oleh agama.

Ajaran Serat Jatipusaka Matkutharaja juga merupakan serat yang berisi imbauan untuk para raja agar memperkuat keimanan. Sebab hanya dengan cara itulah mereka bisa terlindungi dari segala bahaya yang mungkin mengancam kedaulatan Mataram.

Serat Jatipusaka Makutharaja di kalangan keluarga Keraton terkenal sebagai karya sastra yang suci dan berisi ajaran moral yang relevan hingga saat ini. Tak heran apabila serat tersebut wajib dipelajari oleh setiap calon raja yang nantinya akan naik tahta. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Pria Disabilitas Asal Grobogan

Pria Disabilitas Asal Grobogan Jadi Korban Curas di Sumedang, Polisi Buru Pelaku

harapanrakyat.com,- Seorang pria disabilitas asal Grobogan, Jawa Tengah, menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas) di Jalan Raya Sumedang-Subang. Tepatnya di Dusun Sela Awi, Desa...
Contraflow dan One Way

Jadwal Contraflow dan One Way Arus Balik Lebaran 2025

harapanrakyat.com,- Korlantas Polri menerapkan sistem contraflow dan one way guna mengantisipasi kepadatan kendaraan tujuan Jakarta pada arus balik Lebaran 2025. Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit...
Layanan libur lebaran

Permudah Urus Dokumen Kependudukan, Disdukcapil Ciamis Buka Layanan saat Libur Lebaran, Catat Waktunya!

harapanrakyat.com,- Permudah masyarakat urus dokumen, Disdukcapil Ciamis menggelar pelayanan khusus di luar jam kerja. Acara ini berlangsung Kamis (3/4/2025) malam. Pelayanan di luar jam kerja...
Wisata Tanjung Duriat

Momen Libur Lebaran 2025, Wisata Tanjung Duriat di Sumedang Diserbu Pengunjung

harapanrakyat.com,- Mengisi momen libur panjang lebaran Idul Fitri 1446 Hijriah, ribuan wisatawan memadati wisata Tanjung Duriat yang berada di Pesisir Waduk Jatigede. Tempat ini...
Rainbow Slide Nalisa Cipanten di Majalengka

Menjajal Rainbow Slide Nalisa Cipanten yang Lagi Viral di Majalengka, Favorit Wisatawan saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Rainbow Slide di objek wisata Nalisa Cipanten, Kecamatan Sindang, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat sedang viral dan menjadi buruan wisatawan. Luar biasanya, wahana Rainbow...
Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

Kapan ASN Harus Masuk Kantor Usai Lebaran 2025? Ini Jawaban Wamendagri

harapabrakyat.com,- Seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) harus sudah masuk kantor pada Selasa tanggal 8 April 2025 seusai libur lebaran. Oleh karena itu, ASN tidak...