Etnis Tionghoa di Batavia, Hindia Belanda ternyata sudah lama ada. Bahkan jauh sebelum orang-orang Belanda datang dan mendirikan VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie) pada tahun 1602.
Kedatangan etnis Tionghoa ke Nusantara tak lepas dari kebiasaan orang Cina yang hobi berdiaspora. Mereka memilih untuk merantau ke berbagai belahan dunia termasuk ke Asia Tenggara karena berbagai alasan.
Salah satu alasan mereka menjadi bangsa perantau antara lain yakni, ingin menjadikan negaranya sebagai negara yang bisa menguasai dunia.
Baca Juga: Sejarah Diskriminasi Tionghoa di Indonesia yang Dianggap Selalu Mujur
Oleh sebab itu orang-orang Tionghoa perlu berada dan tinggal di berbagai negara yang ada di dunia. Terutama negara-negara besar yang berpotensi mendominasi perekonomian dunia.
Di Nusantara sendiri orang Tionghoa sudah banyak menjadi bahan perbincangan masyarakat pribumi sejak tahun 1596. Pertama kali mereka datang (mendarat) di pelabuhan Batavia (sekarang Jakarta).
Ketika mereka berdatangan ke Batavia, awalnya etnis Tionghoa ini menjadi bangsa yang rukun dengan orang-orang pribumi.
Akan tetapi seiring dengan kedatangan orang Belanda, mereka dijadikan kelompok yang menjalankan politik adu domba dengan pribumi oleh orang-orang VOC.
Pada kesempatan kali ini penulis akan mengajak pembaca untuk membahas kehidupan sehari-hari etnis Tionghoa di Batavia. Dari awal kedatangannya tahun 1596 sampai dengan era kolonial masa pemerintahan Hindia Belanda awal abad ke 20 masehi. Berikut ulasan lengkapnya di bawah ini.
Asal-usul Tionghoa di Batavia Tahun 1956
Vandenbosch dalam Jurnal Internasional berjudul “The Chinese in Southeast Asia” (Vandenbosch, 1944: 90), mengatakan, orang Tionghoa yang datang ke Batavia tahun 1596 itu berasal dari berbagai daerah di Tiongkok.
Orang-orang Tiongkok itu datang dari Provinsi Kwangtung dan Fukien. Mereka kebanyakan berlogat Cina Hokkien (dari Fukien) dan Cina Hakka (daeri Kwangtung).
Berbeda dengan Vandenbosch, sejarawan senior dari Universitas Indonesia Mona Lohanda dalam bukunya berjudul “Sejarah Para Pembesar Mengatur Batavia”, (Lohanda, 2007: 10) menyebut kebanyakan orang Tionghoa di Batavia itu berasal dari 5 daerah di Tiongkok.
Daerah-daerah yang dimaksud Mona tersebut adalah daerah Kanton, Hoklo, Swatow, Haifoeng, dan Pulau Hainan.
Adapun umur orang Tionghoa yang merupakan kelompok perantau ke Batavia pada tahun 1596, didominasi oleh para pemuda berumur 25 – 45 tahun paling tua.
Sejarawan Mona Lohanda menyebut alasan etnis Tionghoa bermigrasi ke Batavia karena dua pola kehidupan yang tidak sehat di Hindia Belanda dan Tiongkok.
Pola pertama (huagong) yakni, pola migrasi yang terbentuk oleh jalur perdagangan maritim. Saat itu di Tiongkok orang sulit mencari pekerjaan sehingga kerap mengalami kelaparan.
Baca Juga: Sejarah Tionghoa di Indonesia, Gemar Beramal Sampai Ketagihan Berjudi
Sedangkan pola kedua (huashang) yaitu, pola migrasi yang dilakukan karena tekanan kebijakan kolonial di Hindia Belanda. Terutama untuk mencari kebutuhan tenaga kerja.
Kebiasaan Orang Tionghoa di Batavia
Tidak hanya saat ini, ternyata mitos orang Tionghoa yang hobi berdagang itu sudah sejak lama terbentuk. Bahkan sejak era pemerintahan kolonial Belanda.
Hal ini tercermin dari etnis Tionghoa di Batavia yang mendirikan pabrik arak (minuman alkohol) yang ada di luar dinding kota sebelah utara dari benteng Batavia (ommenlanden).
Pabrik arak itu tercatat sebagai perusahaan orang Tionghoa di Batavia yang paling sukses, dan meraup keuntungan dari hasil penjualan yang fantastis. Pernyataan ini sebagaimana dikatakan oleh Jean Gelman Taylor dalam buku “Kehidupan Sosial di Batavia”, (Taylor, 2009: 1).
Selain dikenal sebagai etnis asing yang gemar berdagang, rupa-rupanya orang Cina di Indonesia sejak zaman Belanda juga terkenal sebagai pekerja keras yang sukses.
Mereka memiliki etos kerja yang tinggi sehingga mampu memperoleh kesuksesan dalam berbagai bidang, salah satunya sukses mendirikan pabrik gula.
Karena menjadi kelompok minoritas di tengah lautan pribumi Batavia, akhirnya orang-orang Tionghoa yang sukses ini memilih tinggal di perkampungan khusus orang Cina di luar benteng Batavia, dan jauh dari penduduk masyarakat pribumi.
Orang-orang etnis Tionghoa memilih tinggal di perkampungan Cina juga disinyalir sebagai akibat posisi mereka yang menjadi golongan nomor dua setelah orang-orang Barat. Oleh karena itu orang Tionghoa memiliki rasa waspada karena takut oleh orang pribumi yang ada di bawahnya.
Kendati demikian, banyak laki-laki Tionghoa di Batavia yang menikah dengan wanita pribumi. Akan tetapi mereka lebih memilih wanita asal Bali untuk diperistri, hal ini karena mereka tidak pantang memakan daging babi.
Selain itu, wanita pribumi asal Bali juga terkenal paras yang rupawan dan pintar mengurus rumah tangga, hal inilah yang menjadi daya tarik laki-laki Tionghoa untuk menikah dengan wanita lokal.
Pernyataan diatas sebagaimana yang dikutip dari pendapat Ong Hok Ham dalam bukunya berjudul “Riwayat Tionghoa Peranakan di Jawa”, (Ong Hok Ham, 2009: 3).
Membangun Rumah Sakit Khusus Orang Tionghoa
Keberhasilan etnis Tionghoa di Batavia juga melahirkan para pengusaha simpati terhadap kondisi kesehatan etnis mereka yang terlihat sakit dan lemah.
Baca Juga: Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah
Pada tahun 1640, sebagian para pengusaha kaya Tionghoa di Batavia meminta izin pada pemerintah VOC untuk mendirikan sebuah rumah sakit khusus orang Tionghoa bernama Yangji Yuan.
Karena orang etnis Tionghoa sangat loyal pada Belanda, akhirnya permintaan izin mendirikan rumah sakit itu terlaksana dengan lancar.
Pembangunan rumah sakit pun dilakukan. Rumah sakit khusus orang Tionghoa itu berdiri sederhana untuk pertama kalinya dari struktur bambu dan tembok batu yang berjejer seadanya.
Catatan kolonial menyebut rumah sakit itu dikerjakan oleh kontraktor terkenal yang juga merupakan orang Tionghoa bernama Jancon dan Bingham.
Meskipun rumah sakit itu tidak semegah rumah sakit milik orang-orang Belanda, sebagian sejarawan justru melihat peristiwa ini sebagai salah satu dukungan untuk menciptakan sanitasi kesehatan yang lebih baik lagi di Batavia.
Hal ini disebabkan oleh karena rumah sakit yang tadinya hanya untuk orang Tionghoa, lambat laun rumah sakit ini justru menampung beberapa pasien pribumi yang miskin.
Dengan demikian pemerintah VOC kala itu juga merasa terbantu untuk mencegah penyakit menular yang diakibatkan oleh virus di Batavia, terutama wabah pes, kolera, dan malaria.
Kehidupan Menjadi Petani Sukses
Orang Tionghoa di Batavia juga terkenal sebagai petani yang sukses. Hal ini sebagaimana diketahui oleh berbagai kalangan sejarawan yang menyebut orang Cina sudah kenal pertanian modern di Batavia sejak abad ke 17.
Catatan Van Riebeck bahkan mengatakan terdapat 25-30 orang Tionghoa yang memiliki pengetahuan modern dalam mengelola pertanian di Batavia.
Dari 25-30 orang Tionghoa yang berprestasi itu menyebabkan pemerintah Belanda bergantung pada mereka terutama dalam bidang pangan layaknya pertanian.
Orang-orang Tionghoa yang menjadi petani di Batavia secara tidak langsung telah membantu lahirnya swasembada pangan untuk pulau Jawa. Banyak beras hasil para petani Cina yang disalurkan ke beberapa daerah di Pulau Jawa tak terkecuali daerah Jawa Tengah.
Oleh sebab itu tak heran pemerintah Belanda menjadikan orang Tionghoa sebagai golongan sosial kelas dua setelah bangsa Barat. Hal ini diberikan seiring dengan sumbangsih mereka yang telah mengolah lahan di Batavia sebagai ladang beras yang berlimpah.
Budidaya Tumbuhan Tebu
Selain terkenal menjadi petani tebu, etnis Tionghoa di Batavia juga pernah tersohor sebagai petani tebu yang sukses. Bahkan kesuksesan mereka mengantarkan pada pembangunan 79 pabrik gula milik orang Tionghoa di Jawa dan Batavia.
Baca Juga: Sejarah BAPERKI, Organisasi Sosial Tionghoa yang Dicap Identik dengan PKI
Budidaya tebu saat itu menjadi tulang punggung ekonomi Batavia yang sedang krisis akibat wabah pes dan kolera. Orang Tionghoa membantu pemasukan keuangan VOC dengan cara mendirikan usaha pabrik gula.
Sebelum mereka memiliki pabrik gula yang banyak, sebagian orang Tionghoa yang tinggal di perkotaan memilih untuk mendirikan gubuk dekat dengan ladang tebu mereka.
Setiap hari mereka mengontrol perkembangan tebu, terutama mengontrol dari serangan hama dan para centeng setempat yang suka berbuat rusuh.
Karena kegigihan mereka dalam menanam tebu membuat orang Tionghoa ini sukses mendirikan pabrik gula. Awalnya berdiri sebagai pabrik yang juga menjadi rumah tempat tinggal mereka.
Akan tetapi seiring dengan kondisi keuangan mereka dari hasil penjualan gula yang meningkat, pendirian pabrik gula pun berdiri dengan megah di berbagai titik di Batavia.
Pemerintah Belanda mencatat pada tahun 1710 orang Tionghoa memiliki pabrik gula sebanyak 79 bangunan. Sementara orang Belanda hanya 4 dan sisanya orang Jawa 1 pabrik gula. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)