Banyak yang menertawakan Kiai Haji Muhammad Sudjak saat ia berencana membangun Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.
Namun, tidak pernah ada yang menyangka Rumah Sakit PKU Muhammadiyah akan menjadi salah satu lembaga kesehatan yang berkontribusi besar bagi Indonesia.
Padahal ide pembangunan Rumah Sakit PKU pernah dianggap sebagai ide yang gila dan juga aneh untuk direalisasikan.
Dari ide dan pemikiran Kiai Haji Muhammad Sudjak lah lahir sebuah gagasan besar mengenai Rumah Sakit khusus bagi kaum pribumi.
Baca Juga: Masjid Soko Tunggal, Dibangun dari Tanah Bekas Makam Kuda Keraton
Padahal, di zaman tersebut hanya Pemerintah Hindia Belanda yang mendirikan rumah sakit. Jika pun selain rumah sakit Pemerintah Hindia Belanda, biasanya Gerakan Zending yang berbasis keagamaan lah yang membangunnya.
Banyak yang meragukan gagasan tersebut bisa terealisasi apalagi jika melihat kondisi masyarakat saat itu.
Artikel ini akan membahas mengenai peran dari seorang Kiai Haji Muhammad Sudjak dalam memperjuangkan pembangunan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah dan gerakan sosial lainnya.
Generasi Awal Muhammadiyah dan Peran Haji Muhammad Sudjak
Muhammad Sudjak merupakan as-sabiqulnal awwalun atau generasi awal gerakan Muhammadiyah. Istilah ini dapat Anda lihat di dalam buku karya Lassa, dkk. yang berjudul “100 Tokoh yang Menginspirasi” (2014:156).
Bersama dengan saudara-saudaranya seperti H. Fakhruddin, Ki Bagus Hadikusumo, H. Zaini, H. Mukhtar, H.A. Badawi, dan R.H. Hadjid mereka menimba Ilmu kepada KH Ahmad Dahlan.
Mereka juga menjadi murid sekaligus sahabat KH Ahmad Dahlan dalam membangun Muhammadiyah di masa-masa awal.
Sejak kecil Muhammad Sudjak memang sudah berinteraksi dengan Muhammadiyah. Bahkan melalui asuhan KH Ahmad Dahlan langsung, Muhammad Sudjak mewarisi ide-ide sosial KH Ahmad Dahlan.
Haji Muhammad Sudjak memang mengenal Muhammadiyah di usia yang sangat muda, sehingga di awal-awal belum diberikan amanah secara langsung dalam kepengurusan Muhammadiyah.
Barulah pada tahun 1920, Muhammad Sudjak mendapatkan amanah untuk memegang Penolong Kesengsaraan Umum (PKU).
PKU Muhammadiyah ini merupakan bagian khusus yang memegang hal-hal yang berkaitan dengan bidang sosial.
Ditertawakan ketika Mengusulkan Bangun Rumah Sakit
KH Ahmad Dahlan pernah bertanya kepada Muhammad Sudjak tentang program PKU ke depan. Lalu dijawab, hendak membangun hospital untuk menolong kepada umum yang menderita sakit.
Baca Juga: Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920 dan Upaya PKO Membendungnya
Ketika KH Ahmad Dahlan bertanya, Sudjak hendak membangun apalagi? Saat itu Haji Muhammad Sudjak menjawab, hendak membangun Amhuis (Rumah Miskin) dan Weeshuis (Rumah yatim).
Konon, jawaban Muhammad Sudjak ini membuat heran para peserta rapat Muhammadiyah bahkan ada yang mentertawakan.
Pernyataan ini terdapat pada buku karya PP Muhammadiyah “Membangun Titian Menggapai Harapan” (2021:36).
Melihat peserta rapat menertawakan ide dan gagasan Sudjak, KH Ahmad Dahlan merespon dengan bersikap tenang. Sebaliknya, Ia memberikan kesempatan Sudjak untuk mewujudkan gagasannya.
Tertawaan dan respon negatif dari para peserta rapat tersebut membuat Muhammad Sudjak menjadi kecewa. Hal itu lantaran peserta rapat meremehkan idenya.
Berawal dari tertawaan dan respon negatif ini, Muhammad Sudjak berhasil mewujudkan PKU Muhammadiyah menjadi karya nyata amal yang berdampak besar.
Pemikiran yang Melampaui Zamannya
Pendirian Rumah Sakit PKU Muhammadiyah berawal dari sebuah klinik dan poliklinik yang berdiri pada tanggal 15 Februari 1923. Lokasinya di kampung Jagang Notoprajan Nomor 72 Yogyakarta.
Baca Juga: Sejarah Perempuan Muhammadiyah, Pernah Menerbitkan Majalah dan Berideologi Universal
Lokasi klinik PKU Muhammadiyah ini merupakan rumah pribadi Haji Muhammad Sudjak. Sama seperti KH Ahmad Dahlan yang turut menjadikan rumah pribadinya sebagai madrasah awal Muhammadiyah.
Pada awal pendirian, Klinik PKU memang masih memiliki berbagai keterbatasan baik dari sisi fasilitas hingga masalah pengobatan penyakit.
Mulai tahun 1925-1927 PKU mulai mengalami perkembangan dengan adanya perawatan inap yang menampung sekitar 10 pasien.
Sejak saat itu, secara perlahan namun pasti PKU Muhammadiyah berkembang menjadi Rumah Sakit yang cukup populer. Sehingga, pada tahun 1936 lokasi kliniknya pindah ke Jalan. K.H. Dahlan No. 20, Yogyakarta hingga hari ini.
Menurut sebuah artikel Drs. M. Yusron Asrofie, M.A. berjudul “H. Muhammad Soedja: Perumus Gerakan Sosial Muhammadiyah”, Haji Muhammad Sudjak berkeyakinan bahwa, jika umat non-Muslim saja mampu melakukan aksi-aksi sosial, mengapa umat Islam yang mempunyai landasan agama seperti yang tertera dalam Al-Qur’an surah Al Maun, tidak dapat melakukannya?
Muhammad Sudjak juga berprinsip, jika Allah telah menetapkan ketentuannya di dalam Alquran, pasti ketentuan itu dapat dilakukan umat-Nya, karena mustahil Allah membuat ketentuan yang tidak dapat dilakukan kaum-Nya.
Ide dan gagasan Muhammad Sudjak ini ibarat potongan puzzle yang melengkapi gagasan KH Ahmad Dahlan.
Tidak heran jika banyak yang menganggap Haji Muhammad Sudjak sebagai pewaris jiwa sosial KH Ahmad Dahlan.
Hingga hari ini RS PKU Muhammadiyah yang pernah ditertawakan menjadi salah satu rumah sakit yang memberikan kontribusi besar bagi Indonesia. (Aji/R7/HR-Online/Editor-Ndu)