Investasi energi bersih menjadi salah satu yang Presiden Jokowi usung ketika Konferensi Tingkat Tinggi atau KTT. Jokowi mengajak berbagai negara maju untuk bergabung dalam G7 investasi di Indonesia.
Khususnya pada jenis investasi, baik pangan maupun yang satu ini. Keputusan terhadap investasi ini pada KTT G7 yang ke-48. G7 atau kelompok anggota negara-negara maju terdiri dari 7 negara.
Mulai dari Kanada, Inggris, Italia, Jepang, Amerika Serikat, dan Perancis. Ketujuh negara tersebut bukanlah negara yang royal dalam berinvestasi di Indonesia. Termasuk dalam prospek energi bersih.
Presiden Jokowi memberikan pengertian pada negara-negara lain bahwa Indonesia adalah negara dengan tujuan penanaman modal dalam investasi bidang energi bersih.
Jumlah penduduk Indonesia sebanyak 237,4 juta jiwa. Sedangkan untuk pertumbuhan ekonominya konsisten rata-rata 5% per tahunnya. Selain itu, Indonesia masuk dalam pasar pangan dan EBT potensial.
Baca Juga: Investasi Dana Pensiun Swasta Memenuhi Kebutuhan di Hari Tua
Investasi Energi Bersih Dipilih oleh Jokowi
Selain dengan investasi yang ditawarkan, Jokowi juga menerangkan tentang banyak hal. Terutama penggunaan AS dalam dunia investasi.
Indonesia juga menjadi pasar pangan dan terbarukan. Cara ini untuk dapat mempercepat transaksi energi dan ramah lingkungan.
Harga pangan dan energi yang terus meningkat ternyata berpengaruh terhadap negara dengan perekonomian rendah.
Gejolak harga terus terjadi hingga saat ini. Termasuk energi saat Rusia dan Ukraina mengalami penyerangan.
Harga energi yang melambung ini akibat terjadi lockdown yang semakin sulit dengan adanya cuaca ekstrim. Misalnya berhadapan dengan cuaca ekstrim, logistik, dan harga yang terus naik.
Gejolak harga inilah yang menjadi sumber stagflasi produksi energi terpenuhi. Indonesia sendiri tetap berkomitmen untuk mendorong penggunaan energi, baik untuk investasi maupun yang lainnya, termasuk penggunaan energi bersih dalam dunia investasi.
Baca Juga: Cara Investasi di SimInvest Mudah, Aman, dan Terpercaya
Penggunaan Energi Bersih
Investasi energi bersih justru akan ditekankan mundur oleh beberapa negara G7. Di mana adanya konflik Ukraina dan Rusia yang membuat hal ini terjadi. Komitmen beberapa negara maju ini untuk mundur dari energi bersih.
Cara ini terjadi karena harga minyak bumi yang terus naik. Hal ini juga membuat negara-negara maju tersebut berinisiatif dalam penggunaan batubara untuk dapat memenuhi kebutuhan energinya.
Intisari ajakan Presiden RI ini menjadi sebuah usaha memaksimalkan potensi masyarakat. Sehingga negara berkembang tersebutlah yang akan mengatasi krisis global dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Sehingga masyarakat lebih hidup sejahtera dengan investasi energi bersih. Selain itu, dengan adanya energi bersih juga berpengaruh terhadap pangan.
Dalam meningkatkan perekonomian, tentunya penggunaan perekonomian jauh lebih membaik. Indonesia pun berhasil dan mampu ikut mengatasi krisis ekonomi, pangan, dan energi yang telah terjadi secara global.
Baca Juga: Strategi Investasi ESG di Pasar Modal, Lengkap dengan Pengertiannya
Memikirkan pergerakan dunia investasi dunia semakin sulit. Bahkan kini penggunaan berbagai akses internet melalui media sosial semakin maju.
Hal ini dapat terlihat tandanya dengan munculnya ide investasi energi bersih oleh presiden Jokowi dalam G7. (R10/HR-Online)