Keteladanan Nabi Zakaria tercermin dari berbagai sifat terpujinya. Seperti kepatuhan, kesabaran serta doa-doa Nabi Zakaria yang begitu tulus kepada Allah SWT. Dengan meneladani sifat-sifat tersebut, kita dapat menjalani kehidupan yang lebih bermakna.
Baca juga: Keteladanan Nabi Musa dan Kisahnya Melawan Fir’aun
Dalam kitab suci Al Quran sendiri, nama Zakaria tertulis sampai tujuh kali yang tersebar di sejumlah surat. Sementara kisah-kisahnya telah Allah jelaskan pada Surah Ali ‘Imran, Maryam dan Al-Anbiya.
Lantas apa saja pelajaran yang dapat kita ambil dari kehidupan seorang Zakaria? Mari sama-sama kita ulas kisah lengkapnya dalam artikel berikut ini.
Keteladanan Nabi Zakaria yang Sangat Patuh Kepada Allah SWT
Seperti umat Muslim ketahui, Zakaria AS adalah satu dari total 25 nabi yang wajib kita imani. Ia merupakan kaum Bani Israil yang lahir pada tahun 91 Sebelum Masehi dan hidup di Kota Palestina.
Saat beranjak dewasa, Allah SWT memerintahkan kepadanya untuk mengembalikan akhlak kaum Bani Israil yang melenceng jauh. Mereka banyak melakukan dosa besar, berbuat zalim, bahkan mengubah agama yang pernah Musa AS ajarkan.
Dalam dakwahnya, Nabi Zakaria AS menyeru kepada kaum Bani Israil untuk bertobat. Ia juga menegaskan kepada para umat bahwa Allah satu-satunya Tuhan yang harus mereka sembah. Namun sayang, upaya Zakaria selalu mendapat penolakan.
Dari sekian banyak orang yang berhasil luluh dengan ajaran Zakaria, ternyata tak sedikit pula kaum penentangnya. Kendati demikian, Zakaria AS tetap percaya bahwa Allah senantiasa membantunya berjuang. Sifat gigih ini menjadi salah satu bentuk keteladanan Nabi Zakaria yang perlu kita contoh.
Sabar dalam Menantikan Buah Hati
Nabi Zakaria merupakan contoh sempurna dalam hal kesabaran berdoa kepada Allah. Di tengah usianya yang semakin tua, ia merasa gusar dan cemas karena tidak kunjung memperoleh buah hati laki-laki. Sosok yang nantinya akan meneruskan kepemimpinan Zakaria untuk kaum Bani Israil.
Baca juga: Keteladanan Siti Maryam, Wanita Terbaik Sepanjang Masa
Pasalnya, sang istri yang bernama Iisya binti Faquuz memiliki masalah dengan kesuburan bahkan diklaim mandul. Terlebih, Maryam, putri angkatnya tidak mungkin melanjutkan kepemimpinan.
Meskipun sudah lanjut usia dan istrinya tidak subur, Zakaria tetap memohon kepada Allah untuk memberikan keturunan yang saleh.
Keteladanan Nabi Zakaria ini tercermin dalam kesabaran dan ketekunan berdoa. Ia tak sekalipun putus asa dan percaya bahwa Allah telah mempersiapkan waktu terbaik untuk memberinya momongan.
Salah satu untaian doa Zakaria AS tertulis dalam QS Ali Imran ayat 38 yang berbunyi:
Hingga tiba suatu hari, tepat ketika Zakaria sedang menyendiri di malam yang sunyi, Jibril datang dan berkata:
“Sesungguhnya Allah SWT menggembirakanmu. Kelak Allah akan mengamanahimu seorang putra, nabi, dari golongan orang-orang yang saleh!”
Baca juga: Keteladanan Nabi Syuaib dan Kisahnya Menghadapi Kaum Madyan
Pasca mendapat bisikan tersebut, Zakaria terkejut, sedikit tidak percaya namun sekujur tubuhnya basah oleh keringat. Ia juga yakin suara lantang itu bukanlah mimpi.
Kelahiran Yahya AS
Tak berselang lama dari pertanda yang Jibril sampaikan, istri Zakaria benar-benar mengandung. Di usianya yang sudah renta, Iisya binti Faquuz tetap sehat mempersiapkan kelahiran sang buah hati ke dunia.
Setelah itu, Yahya hadir di tengah-tengah mereka. Konon katanya, kelahiran Yahya AS tidak jauh berbeda dengan Isa AS, putra Maryam. Menurut beberapa riwayat, kelahiran keduanya hanya berjarak sekitar 3 bulanan.
Ketika Nabi Yahya, lahir, Zakaria sangat bersemangat untuk mendidiknya agar tumbuh menjadi pribadi yang taat kepada Allah. Hal ini mengajarkan keteladanan Nabi Zakaria sebagai orang tua yang sukses mendidik anaknya sesuai ajaran agama.
Pentingnya Meneladani Sifat Nabi Zakaria AS
Dari kisah Zakaria di atas, kita tahu bahwa banyak pelajaran berharga di dalamnya. Salah satunya mengajarkan umat tentang pentingnya meyakini ketetapan Allah dalam berbagai aspek kehidupan. Bahwasannya memang tidak ada yang tidak mungkin bagi-Nya.
Sebagai contoh, jika Anda sudah menikah bertahun-tahun dan belum mendapat momongan, jangan menyerah untuk berdoa. Terus meminta, berdoa dengan sungguh-sungguh, tuntut Allah dengan cara yang baik. Niscaya setiap keajaiban itu akan datang dengan cara yang tak terduga.
Baca juga: Kisah Teladan Nabi Hud, Berakhlak Mulia dan Tidak Sombong
Secara keseluruhan, dengan mengikuti keteladan Nabi Zakaria, kita dapat menjadi pribadi yang lebih baik. Ajaran sabar dalam berdoa membawa kita menjadi lebih dekat dengan Allah. Selain itu, hikmahnya membuat kita hidup dengan penuh keikhlasan dan keyakinan. Sehingga tidak akan mudah putus asa ketika menghadapi cobaan. (R10/HR-Online)