Hukum Hess termokimia merupakan salah satu hukum kimia yang penting untuk kamu pahami. Fungsi dari hukum satu ini adalah untuk menentukan besaran perubahan entalpi suatu reaksi.
Sedangkan termokimia merupakan ilmu yang mempelajari reaksi kimia dan perubahan energi yang terlibat di dalamnya. Untuk mempelajari termokimia, maka perlu definisi “sistem” dan “lingkungan”.
Sistem merupakan segala sesuatu yang fokus menjadi perhatian. Sedangkan lingkungan adalah segala sesuatu yang tidak termasuk ke dalam sistem.
Baca Juga: Pengertian Kinetika Kimia Laju Reaksi, Apa Faktor Utamanya?
Bunyi Hukum Hess Termokimia
Di dalam ilmu termokimia terdapat hukum Hess yang berguna untuk menentukan besar dari perubahan entalpi atau reaksi. Nilai perubahan entalpi tersebut dinyatakan dalam fungsi keadaan (∆H).
Menurut hukum Hess, perubahan reaksi kimia bernilai sama, meskipun langkah yang diambil untuk memunculkan hasil reaksi berbeda. Itu terjadi karena perubahan entalpi merupakan fungsi keadaan.
Hukum Hess muncul dari sebuah percobaan yang Germain Hess lakukan pada tahun 1840. Adapun bunyi rumus ini, yaitu:
“Jumlah panas yang suatu reaksi kimia butuhkan atau lepaskan tidak tergantung pada jalannya reaksi, melainkan sesuai oleh keadaan awal dan akhir.”
Baca Juga: Contoh Pereaksi Pembatas Dalam Kimia, Ketahui Pembahasannya!
Faktor yang Mempengaruhi Hukum Hess
Terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi hukum kimia satu ini, yaitu:
- Jumlah zat yang bereaksi di dalam kalorimeter akan menentukan panas.
- Suhu atau temperatur, semakin tinggi suhu maka perubahan entalpinya akan semakin meningkat.
- Jenis reaksi yang keluar, apakah endoterm atau eksoterm dapat mempengaruhi entalpi.
- Pelarut, jika memiliki titik didih yang tinggi, berpengaruh pada reaksi yang terjadi di dalam kalorimeter.
- Sifat zat, mencakup mudah tidaknya zat bereaksi ini akan berpengaruh pada kecepatan berlangsungnya reaksi. Hal itu terjadi karena antara ion-ion yang berlawanan ada gaya yang tarik menarik.
- Konsentrasi, di dalam hukum Hess termokimia, semakin besar konsentrasi maka semakin besar pula kemungkinan terjadinya reaksi.
- Perubahan tekanan memiliki pengaruh kecil terhadap kelarutan zat cair atau padat dalam pelarut cair, tetapi pada kelarutan gas akan selalu bertambah.
- Katalisator, zat ini ditambahkan ke dalam reaksi untuk memperbesar kecepatan reaksinya.
- Kalor, merupakan panas yang mempengaruhi hukum Hess.
- Pengadukan dan pengocokan, semakin sering dan cepat maka akan semakin besar pula nilai entalpi baik itu pada arah 1 maupun arah 2.
Baca Juga: Pengertian Fase Terdispersi Koloid Kimia, Ini Jenis-Jenisnya!
Penerapan Hukum Hess
Dalam penerapannya, kita dapat mengkombinasikan beberapa reaksi yang telah terlihat entalpinya untuk memperoleh entalpi lainnya.
Kebalikan dari suatu reaksi akan mengakibatkan perubahan pada tanpa entalpi. Artinya, jika entalpi berjalan secara eksoterm maka akan berkebalikan dengan reaksi endoterm.
Adapun tanda entalpi milik reaksi endoterm akan saling berlawanan dengan tanda entalpi dari reaksi yang berjalan secara eksoterm.
Selain itu, penerapan hukum Hess termokimia lainnya adalah dengan melihat perkalian reaksi dengan suatu bilangan. Hasil yang terlihat nantinya akan tetap dengan bilangan yang sama. (R10/HR-Online)