Berita Ciamis, (harapanrakyat.com),- Aktifitas home industri atau industri rumah tangga di wilayah Desa Wanasigra, Kecamatan Sindangkasih, Kabupaten Ciamis, ternyata cukup menjanjikan.
Pasalnya, banyak warga di Desa Wanasigra yang menggeluti usaha skala rumahan di bidang makanan ringan seperti pakset, kerupuk, seblak, dan lainnya.
Hal itu terungkap saat tim dosen dari Universitas Galuh (Unigal) melaksanakan program pengabdian masyarakat di Desa Wanasigra.
Ketua tim pelaksana, Ahmad Juliarso, kepada HarapanRakyat.com, Senin (05/04/2022), membenarkan kondisi tersebut.
Ahmad Juliarso mengungkapkan, secara geografis Desa Wanasigra merupakan salah satu desa yang lokasinya cukup strategis.
Selain berbatasan langsung dengan Kota Tasikmalaya, wilayah tersebut juga dekat dengan destinasi wisata alam dan wisata sejarah.
Terlebih, banyak ragam kuliner khas industri rumahan yang bisa berkembang dari sisi bisnis, seperti pakset, kerupuk, seblak dan lain sebagainya.
Apa Potensi Home Industri di Wanasigra Sindangkasih?
Menurut Ahmad Juliarso, lapangan usaha yang berkembang di Desa Wanasigra adalah sektor industri makanan dan perdagangan.
Kondisi itulah, lanjut Ahmad Juliarso, yang mendasari timnya melaksanakan pengabdian di wilayah Desa Wanasigra.
Ahmad Juliarso mengaku, pihaknya menyoroti pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) yang ada di desa setempat.
Pada kesempatan itu, Ahmad Juliarso menjelaskan, pemberdayaan UMKM memiliki peranan penting dalam perekonomian.
Hal itu terlihat dari kemampuan UMKM dalam menyerap tenaga kerja dan menciptakan produk yang memiliki nilai jual.
“Setiap UMKM memiliki karakteristik berbeda-beda, baik dari jenis produk, media promosi, nilai aset, bahkan tingkat keuntungan,” katanya.
Ahmad Juliarso menilai, untuk menjaga performa tetap stabil dan terus berkembang, perlu ada strategi, baik dari internal UMKM itu sendiri maupun pihak luar yang berkepentingan.
Salah satu caranya yaitu mengelompokan UMKM yang memiliki kecendrungan atau bersifat homogeny dari sisi kinerja dan daya saingnya.
Tujuan klasterisasi UMKM ini, kata Ahmad Juliarso, untuk menentukan rumusan strategi yang tepat sesuai dengan karakteristik UMKM.
Kendala Home Industri di Wanasigra Sindangkasih
Masalahnya, kata Ahmad Juliarso, dari hasil penelitan pihaknya, UMKM di Desa Wanasigra memiliki beberapa kendala.
Antaralain, masih rendahnya pemahaman berkaitan dengan arus kas keuangan dari hasil produksi sampai dengan pemasaran.
Rendahnya latar belakang pendidikan, sehingga menyebabkan rendahnya pengetahuan dalam bidang pemasaran modern.
Packaging (kemasan) hasil produksi mengandalkan kantong plastik dan hanya menggunakan label seadanya, sehingga menyebabkan kurang menariknya kemasan.
Minimnya aksesibilitas pemasaran dan pangsa pasar skala Nasional, sehingga pangsa pasar hasil produk UMKM ini masih dalam skala lokal.
Rendahnya aksesibilitas jaringan informasi dan telekomunikasi berbasis internet, sehingga informasi yang pelaku UMKM dapatkan masih terbatas pada kewilayahan perdesaan.
Kurangnya modal untuk pengembangan usaha bidang pengolahan home industri dan kurangnya pembinaan serta pendampingan dari pemerintah.
Solusi untuk Mengatasi Kendala Home Industri di Wanasigra Sindangkasih
Untuk mengatasi kendala tersebut, Ahmad Juliarso menyebutkan, tim dosen pengabdi berupaya memberikan solusi bagi pelaku UMKM.
Antaralain, menumbuhkan semangat berwirausaha bagi masyarakat pra-sejahtera melalui pembentukan kelompok usaha bersama.
Memberdayakan potensi masyarakat prasejahtera dalam meningkatkan pendapatan keluarga melalui peningkatan usaha ekonomi produktif.
Memberikan pelatihan kewirausahaan dan manajemen UMKM serta pengolahan berbagai produk makanan ringan.
Memberikan pelatihan inovasi, desain, dan pemasaran online dan off-line serta pelatihan manajemen usaha bagi pelaku UMKM.
Ahmad Juliarso menambahkan, proses pelaksanaan pengabdian kepada masyarakat di Desa Wanasigra berlangsung selama lima bulan, dari Desember 2021 sampai April 2022.
Kegiatan pengabdian ini dikemas dalam Progam Kemitraan Masyarakat (PKM) tahun akademik 2021/2022 dan dibiayai oleh kampus Universitas Galuh. (Deni/R4/HR-Online)