Berita Banjar (harapanrakyat.com),- Korban dugaan manipulasi data vaksinasi Covid-19 di Kota Banjar, Jawa Barat, bertambah banyak.
Diberitakan sebelumnya, kasus dugaan manipulasi tersebut hanya terjadi pada dua orang pelajar yang tidak diizinkan untuk divaksin oleh orang tuanya.
Baca Juga: Dugaan Manipulasi Data Vaksin, Polres Banjar Akui Ada Salah Input
Salah seorang orang tua, Zaenal Arifin mengatakan, setelah anaknya masuk sebagai korban kasus tersebut banyak informasi yang masuk mengenai hal tersebut.
“Setelah berita itu menyebar banyak informasi yang masuk ke saya ternyata mengalami hal yang sama juga,” kata Zaenal, Selasa (12/4/2022).
Ia menjelaskan, dari informasi yang didapat kebanyakan korban terjadi pada anak pelajar yang belum diizinkan oleh orang tuanya untuk divaksin.
“Itu rata-rata anak pelajar yang belum diizinkan orang tuanya untuk divaksin. Tapi setelah dicek ternyata datanya sudah masuk ke Peduli Lindungi sebagai penerima vaksin dosis pertama di Klinik Polres Banjar,” jelasnya.
Saat ini, jumlah korban dugaan manipulasi data vaksinasi Covid-19 tersebut jumlahnya mencapai 29. Satu diantaranya orang dewasa yang terdata sebagai penerima vaksin booster.
“Sekarang yang saya dapat informasinya 28 orang pelajar dan satu orang dewasa yang menerima vaksin booster padahal belum divaksin,” terangnya.
Baca Juga: Dinkes Kota Banjar Belum Ketahui Jumlah Data Vaksinasi yang Tidak Valid
Pengakuan Korban Dugaan Manipulasi Data Vaksinasi Covid-19
Dikonfirmasi terpisah, Aris salah seorang kader Posyandu mengaku sudah terdaftar sebagai penerima vaksin booster dengan jenis vaksin AstraZeneca.
Aris mengetahui hal tersebut saat hendak melakukan vaksinasi di salah satu Klinik. Padahal ia belum menerima vaksin booster. Kedatangannya ke klinik tersebut justru untuk disuntik vaksin booster.
“Saya belum cek di Peduli Lindungi, cuma pas mau vaksin booster di Klinik dokternya bilang udah terdata divaksin AstraZeneca,” kata Aris.
Karena sudah terdata sebagai penerima vaksin booster jenis AstraZeneca, ia pun harus divaksin dengan jenis yang sama.
“Tapi saya bilang ke dokternya nggak mau kalau jenis vaksinnya AstraZeneca mah,” tandas Aris.
Selain itu, Aris menyampaikan, selain dirinya ada juga orang lain yang mengalami hal sama seperti.
“Kader Posyandu yang lain juga sama seperti saya, ada empat orang. Belum divaksin booster tapi sudah ada datanya,” paparnya.
Oleh karena itu, karena merasa dirinya telah terdata sebagai penerima vaksin booster, ia tidak berniat untuk disuntik kembali.
“Ya sudah aja nggak mau divaksin lagi, udah terdata dan ada sertifikatnya juga,” pungkasnya. (Sandi/R7/HR-Online/Editor-Ndu)