Teori heliosentris dan geosentris menjadi salah satu hal penting dalam dunia astronomi.
Keduanya sama-sama mengangkat pusat Tata Surya dan benda-benda di dalamnya. Meski demikian, keduanya memiliki pengertian yang amat berbeda.
Geosentris ada terlebih dahulu berasal dari bangsa Yunani. Sedangkan heliosentris muncul setelah terjadinya penemuan-penemuan baru.
Dalam hal ini, maka kita bisa menyebut bahwa heliosentris sebagai pematah argumen geosentris.
Menguak Lebih Jauh Teori Heliosentris dan Geosentris
Ilmu pengetahuan terus berkembang. Pada masa modern ini, tentulah penemuan-penemuan baru semakin mudah.
Hal itu akibat adanya kemajuan teknologi sehingga menjadi alat penelitian konkrit. Sejak dulu, pembahasan mengenai luar angkasa sangat menarik.
Baca Juga: Perbedaan Tata Surya dan Alam Semesta yang Masih Jarang Diketahui
Sejak zaman Mesir Kuno pun sudah ada beberapa kepercayaan terhadap teori luar angkasa. Namun tentu saja hal itu masih belum dapat terkuak kebenarannya hingga masa modern.
Masa di mana hadirnya alat-alat canggih yang menjadi penunjang pencarian bukti. Sejak dahulu para astronom kuno sudah melakukan pengamatan terhadap Bumi.
Mulai dari siang dan malam, apa yang terjadi dengan bintang-bintang di langit dan sebagainya. Sebab itulah muncul teori pembentukan Bumi dan benda di sekitarnya.
Terdapat dua teori yang terkenal di dalam ilmu astronomi. Teori tersebut mempelajari pusat dari Tata Surya tempat Bumi berada, yaitu teori heliosentris dan geosentris.
Teori Geosentrik
Dahulu kala, sebelum adanya benda canggih seperti teleskop luar angkasa. Sehingga, ahli astronomi zaman dulu tidak bisa melihat planet lain selain Bumi.
Mereka hanya bisa melihat matahari, bulan dan bintang yang selalu datang bergantian di langit. Itulah mengapa teori Geosentrik ini muncul.
Seorang ahli astronomi dari Yunani bernama Claudius Ptolomeus adalah orang yang mencetuskan teori satu ini. Geosentris menyatakan bahwa semua objek di Tata Surya kita bergerak relatif terhadap Bumi.
Dengan kata lain, teori ini percaya bahwa Bumi adalah pusat tata surya.
Melalui bukunya yang berjudul Almagest berdasarkan pandangan Pythagoras dan Aristoteles, Ptolemy berpendapat bahwa Bumi adalah pusat alam semesta. Hal itu berdasarkan pengamatan sederhana dengan melihat jumlah bintang.
Teori ini berhasil dipercaya oleh banyak orang selama 1400 tahun sebab memperlihatkan benda-benda langit di sekitar Bumi. Beberapa ilmuwan yang mendukung geosentrik seperti Socrates, Plato, Aristoteles, Thales, Anaximander dan Pythagoras.
Teori Heliosentrik
Semakin modern, pemaham manusia akan alam semesta tentu juga bertambah. Salah satu wujud nyata kemajuan itu adalah teori heliosentris.
Baca Juga: Perbedaan Komet dan Asteroid yang Terlihat Mirip Namun Jauh Berbeda
Teori heliosentris dan geosentris sangat bertentangan, namun masih membahas hal yang sama. Hadirnya teori ini dianggap menjadi penemuan terpenting dan juga titik mula fundamental bagi astronomi dan sains modern.
Copernicus adalah ilmuwan yang berhasil mencetuskan paham heliosentris. Ia memperlihatkan indikasi penyimpangan kecepatan sudut orbit planet, namun mempertahankan orbit lingkaran dengan orbit tidak konsentrik.
Teori ini berada di buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium. Sayangnya, pada saat itu teori ini sempat gereja karena mereka menganggapnya berbahaya.
Gereja menganggap teori Copernicus bertentangan dengan pandangan filsuf sebelumnya. Akhirnya, seorang ilmuwan bernama Galileo Galilei tertarik dengan teori tersebut dan berusaha membuktikannya kebenaran teori heliosentris dan geosentris.
Melalui bukunya yang bertajuk Dialog Astronomi, Galileo berhasil meyakinkan pembaca bahwa Bumi bukanlah pusat tata surya, melainkan matahari.
Galilei berhasil membuktikan teori heliosentris dengan penelitian teleskop. Menurutnya, ia berhasil melihat adanya perubahan pada bintik hitam (black spot) pada matahari, satelit (bulan) yang mengorbit pada Jupiter dan perubahan fasa Venus seperti rembulan.
Venus menunjukkan perubahan fasanya dengan terlihat semakin kecil ketika mendekati bentuk bulat. Hal itu akibat Venus berada di jarak terjauh dengan Bumi ketika Venus, matahari dan Bumi dalam satu garis lurus.
Baca Juga: Planet Berwarna Biru di Tata Surya, Uranus dan Neptunus Si Raksasa Es
Sebaliknya, Venus akan terlihat paling besar saat berbentuk sabit. Perubahan fasa Venus inilah yang kemudian membuktikan bahwa planet Venus berada di depan Bumi bersama mengelilingi matahari.
Pada akhirnya, heliosentris menyatakan bahwa matahari adalah pusat Tata Surya. Para ilmuwan modern dengan alat canggihnya bahkan berhasil memperlihatkan gambaran besar Tata Surya kita bersama dengan planet-planet lainnya.
Meski bagaimanapun, teori heliosentris dan geosentris sangat bermanfaat untuk ilmu pengetahuan manusia. Meski termasuk salah, teori geosentris nyatanya tetap berperan penting dalam munculnya heliosentris. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)