Berita Ciamis (harapanrakyat.com),- Kenaikan harga kedelai yang terus melambung, tentu sangat berdampak pada para perajin tahu. Sehingga, para perajin tahu pun mencari solusi agar tidak merugi dan pelanggan tidak kabur.
Salah satu caranya adalah memperkecil ukuran dari tahu tersebut. Seperti yang Dariyan (54) perajin tahu asal Desa Cisadap, Kecamatan/Kabupaten Ciamis, Jawa Barat lakukan.
Menurutnya, harga kedelai yang terus melambung tinggi sampai Rp 11.500 per kilogram itu, tentu sangat merugikan para perajin tahu.
“Kenaikan harga kedelai ini sangat berdampak pada penjualan tahu di pasaran,” ucapnya kepada HR Online, Jumat (18/2/2022).
Oleh karena itu, perajin tahu asal Cisadap, Ciamis, ini menyiasatinya dengan memperkecil ukuran.
Sebab menurutnya, jika ia menaikkan harga tahu tersebut maka malah pembelinya kabur. “Maka dari itu, lebih baik ukurannya saya perkecil. Ya, meskipun untungnya sedikit,” kata Dariyan.
Ia menuturkan, bahwa kenaikan harga kedelai Rp 11.500 itu sudah sekitar 1 bulanan. Sebelumnya, harga bahan baku tahu dan tempe ini harganya Rp 8.000 per kilogram. Namun kemudian berangsur naik sampai saat ini.
“Saya tidak mengetahui penyebabnya itu apa. Namun bagi kami selaku perajin tahu, dengan harga kedelai naik saat ini membuat produksi menjadi tidak stabil,” tuturnya,
Lebih lanjut Dariyan menambahkan, setiap harinya bisa menghabiskan sekitar 30 kilogram kedelai untuk membuat tahu.
Sehingga, dengan harga kedelai sekarang ini yang terus melambung tinggi membuatnya keberatan. Pasalnya, ia harus mengeluarkan modal cukup besar untuk membeli kedelai.
“Di Koperasi Tahu Tempe Indonesia juga ada kedelai. Namun harganya juga sama atau tidak jauh beda. Jadi percuma saja,” ucapnya.
Siasat Pedagang Tahu Ciamis di Tengah Kenaikan Harga Kedelai
Hal senada juga diungkapkan Parman, perajin tahu asal Desa Cisadap. Menurutnya, dengan harga kedelai saat ini, pihaknya tidak menaikan harga tahu di pasaran. Pasalnya, ia tidak ingin pelanggannya lari jika harga tahunya naik.
“Kita sama aja dengan perajin lain, paling ukurannya saya perkecil. Jadi tidak ada kenaikan harga,” ucapnya kepada HR Online, Jumat (18/2/2022).
Parman berharap harga kedelai ini bisa cepat turun, kalau bisa sampai Rp 9.000 per kilogram atau bahkan bisa turun lagi. Supaya, para perajin tidak menjerit dengan harga kedelai saat ini.
“Mudah-mudahan cepat turun lagi. Saya minta kepada pemerintah juga ikut membantu keluhan para perajin tahu dan tempe saat ini,” pungkasnya.
Pantauan HR Online, dengan kenaikan harga kedelai saat ini, ada juga perajin tahu dan tempe di Desa Cisadap, Kabupaten Ciamis, yang berhenti produksi. (Ferry/R5/HR-Online/Editor-Adi)