Bentuk orbit komet ketika mengorbit Matahari pada umumnya elips. Komet membutuhkan waktu hingga ratusan ribu tahun untuk menyelesaikan satu kali orbit.
Ketika komet mendekati Matahari, ia akan memanas dengan cepat. Alhasil, es padat berubah langsung menjadi gas melalui proses yang disebut sublimasi.
Gas itu mengandung karbon monoksida, karbon dioksida, uap air, dan zat lain. Akhirnya gas tersebut tersapu hingga ke dalam ekor komet.
Baca Juga: Pengertian Galaksi Black Eye, Galaksi Spiral yang Relatif Terisolasi
Para ilmuwan menyebut komet sebagai bola salju kotor, karena mereka mengandung lebih banyak bahan es atau puing-puing berbatu.
Klasifikasi Bentuk Orbit Komet
Komet merupakan bongkahan kecil es dari gas beku, batu, dan debu yang tersisa dari pembentukan tata surya kurang lebih 4,6 miliar tahun lalu.
Komet memiliki bentuk orbit yang panjang dan liar. Hampir semua komet mengorbit bintang dan berkaitan erat dengan pembentukan sistem.
Melansir Space.com, para astronom mengklasifikasikan komet berdasarkan orbitnya mengelilingi matahari.
Komet periode pendek memerlukan sekitar 200 tahun atau kurang untuk menyelesaikan satu orbit.
Sementara itu, komet periode panjang membutuhkan waktu lebih dari 200 tahun untuk mengorbit Matahari.
Komet periode pendek ini lebih dikenal sebagai komet periodik. Berasal dari pita objek es dengan bentuk cakram.
Komet periodik dikenal sebagai Sabuk Kuiper di luar orbit Neptunus. Interaksi gravitasi dengan planet luar menarik benda ke dalam.
Hal tersebut nantinya menjadi komet yang aktif. Sedangkan komet periode panjang kemungkinan berasal dari awan Oort.
Orbit komet mempunyai tiga bentuk, antara lain elips, hiperbola, dan parabola. Elips menjadi orbit tertutup yang mempunyai periode eksentrisitas 0-0.99.
Baca Juga: Komet Terbesar di Alam Semesta Pernah Dekati Bumi
Ini adalah orbit yang paling umum dan menarik. Pasalnya, kecepatan di orbit selalu kurang dari yang dibutuhkan untuk melepaskan diri dari objek pusat.
Orbit hiperbola merupakan orbit terbuka yang tidak menutup, eksentrisitas lebih dari satu. Kecepatan sepanjang orbit hiperbolik selalu lebih besar dari kecepatan lepas.
Sedangkan parabola merupakan orbit terbuka, namun memiliki kasus batas khusus dengan eksentrisitas sama dengan satu. Biasanya komet yang mempunyai bentuk orbit jenis ini adalah komet periode panjang.
Komponen Komet
Orbit komet yang paling umum dengan bentuk elips ini terdiri dari nukleus, koma, selubung hidrogen, debu, dan ekor plasma.
Para ilmuwan banyak melakukan analisis terhadap komponen tersebut. Tujuannya adalah untuk mempelajari ukuran dan lokasinya.
Komponen yang pertama adalah inti padat komet atau nukleus. Terdiri dari molekul beku termasuk air, karbon dioksida, karbon monoksida, amonia, metana, dan molekul organik lainnya.
Ketika komet mendekati Matahari, es di permukaan inti akan berubah menjadi gas. Kemudian membentuk awan di sekitar komet (koma).
Ukuran koma ini 1.000 kali lebih besar daripada nukleus. Selubung hidrogen akan semakin besar saat komet kian dekat dengan Matahari.
Selanjutnya ekor komet mempunyai dua jenis utama, yaitu gas dan debu. Sinar Matahari dan angin Matahari akan membentuk komet.
Menurut NASA, ekor komet akan bertambah panjang saat mendekati Matahari. Bahkan bisa berakhir pada jutaan mil.
Baca Juga: Perbedaan Komet dan Meteor, Berikut Penjelasannya
Ekor debu akan terbentuk saat angin Matahari mendorong partikel kecil dalam keadaan koma ke jalur melengkung yang panjang. Sementara ion tail terbentuk dari molekul gas yang bermuatan listrik.
Perlu Anda ketahui, bentuk orbit komet meninggalkan jejak puing-puing di belakangnya. Hal tersebut yang menyebabkan hujan meteor di Bumi.
Kita dapat melihat hujan meteor Perseid di setiap tahun, antara 9 dan 13 Agustus. Pasalnya, pada waktu itu Bumi melewati orbit komet Swift-Tuttle.
Komet Terkenal
Astronom Inggris bernama Edmond Halley menemukan komet periodik pada tahun 1758. Berdasarkan pengamatan, melintas paling dekat dengan Matahari pada 1759.
Komet tersebut lalu dinamai Halley. Komet Halley terkenal dan mengorbit Matahari setiap 76 tahun sekali.
Halley meneliti laporan tentang sebuah komet yang mendekati Bumi pada tahun 1531, 1607, dan 1682. Ia menyimpulkan jika ketiga komet tersebut adalah objek yang sama dan berulang kali kembali.
Akhirnya para ilmuwan melihat komet itu lebih dekat pada tahun 1986. Astronom juga mengirim beberapa pesawat ruang angkasa ke sekitar Halley untuk mengambil sampel komposisinya.
Selain itu, teleskop bertenaga tinggi juga mengamati komet saat posisi dekat Bumi. Untuk mempelajari komet, astronom menggunakan pesawat ruang angkasa dan mengumpulkan sampel.
Bentuk orbit komet memungkinkan menabrak Bumi jutaan tahun lalu. Sehingga membantu kehidupan organik berbasis karbon. Senyawa yang paling menarik adalah yang mengandung karbon, karena kemungkinan memegang kunci asal-usul kehidupan. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)