Black hole terbesar di alam semesta berukuran miliaran kali lebih besar dari matahari. Ukuran fantastis tersebut membuat lubang hitam ini memiliki sebutan monster alam semesta.
Lubang hitam atau black hole raksasa terbesar memiliki nama J2157, pertama kali ditemukan oleh peneliti dari Australian National University (ANU). Mereka memperkirakan lubang hitam ini memiliki 34 miliar kali massa matahari.
Baca Juga: Dimensi Alam Semesta Berupa Dunia Paralel? Ini Teorinya
Bisa kamu bayangkan sebesar apa black hole di tata surya kita. Sehingga melebihi besar matahari yang menjadi sumber energi terbesar di alam semesta.
Misteri Black Hole Terbesar di Alam Semesta
Alam semesta masih menyimpan banyak misteri yang belum terpecahkan. Salah satunya adalah black hole.
Seperti namanya, black hole adalah lubang sangat besar dan gelap yang ada di alam semesta. Lubang ini tidak bisa menyerap cahaya apapun sehingga membuatnya sangat gelap dan berwarna hitam.
Para ahli astrologi sudah melakukan penelitian untuk mengetahui penyebab terjadinya black hole ini. Mereka memperkirakan usia dari benda misterius tersebut kurang dari 1 miliar tahun, tepatnya 875 juta tahun.
Sementara itu, ilmu pengetahuan manusia saat ini memperkirakan alam semesta baru berusia 13,8 tahun. Itu berarti black hole telah ada bahkan sebelum alam semesta tercipta.
Hingga saat ini belum ada satu pun peneliti yang bisa memasuki black hole. Penelitian yang terjadi hanya dengan mengamati reaksi benda-benda luar angkasa di sekitar black hole terbesar di alam semesta tersebut.
Gagasan prediksi lubang hitam di alam semesta sudah muncul bahkan sejak puluhan tahun lalu dalam Teori Relativitas Umum Albert Einstein. Black hole selama ini digambarkan sebagai benda luar angkasa yang sangat mengerikan.
Baca Juga: Gunung Tertinggi di Tata Surya, Tiga Kali Lebih Besar dari Everest!
Gelap, pekat, dan selalu lapar. Black hole seperti akan melahap benda apa saja yang mereka lalui untuk tumbuh semakin besar. Padahal dalam kenyataannya, lubang hitam tidaklah semengerikan itu.
Black hole hanyalah sebuah lubang hitam pekat tua yang bergerak dengan sangat lambat. Sehingga mustahil mereka bisa memakan benda-benda di sekitarnya.
Bagaimana Black Hole Terbentuk?
Hingga saat ini masih belum ada seorang pun yang dapat dengan pasti mengatakan proses terjadinya black hole.
Namun beberapa teori menyatakan bahwa black hole terbesar di alam semesta terbentuk dari bintang-bintang yang hancur.
Bintang-bintang yang hancur setelah dentuman besar 200 juta tahun lalu akan berkumpul lubang hitam. Proses hingga terjadinya black hole tidak singkat.
Baca Juga: Bintik Hitam Matahari Sebagai Penanda Aktivitas Tertinggi
Butuh sekitar 13,5 miliar tahun untuk tumbuh hingga memiliki massa miliaran kali lebih besar dari matahari.
Black hole ini bahkan sudah ada sejak semesta masih sangat muda atau mungkin belum terbentuk. Bahkan ada yang mengatakan bahwa sebagian besar bintang yang ada di alam semesta ini berada di dalam black hole.
Lubang hitam memiliki sebuah batasan cekung yang bernama Cakrawala Kejadian atau Event Horizon. Cahaya, energi, dan materi yang terperangkap di dalam cekungan itu tidak akan bisa melepaskan diri.
Di dalam lubang hitam terbesar di alam semesta, ruang dan waktu juga memiliki aturan yang berbeda. Bahkan hukum fisika sekalipun tidak dapat menjelaskan cara kerja di dalam sana.
Tetapi, tepat di luar Cakrawala Peristiwa lubang hitam akan berputar dan menarik materi yang ada di dekatnya menjadi cakram panas. Cakram tersebut bisa mencapai suhu lebih dari 10 juta Celcius.
Seorang peneliti lubang hitam dari L’Institut d’Astro physique de Paris, Marta Volonteri mengungkap bahwa black hole adalah sebuah mesin paling efisien dan efektif di alam semesta. Hal itu karena black hole bisa mengubah massa menjadi energi hingga 40 persen.
Pada awal tahun 2021, para astronom memberikan kabar mengenai adanya perbedaan kecil dalam radiasi 45 pulsar yang terdeteksi. Sekumpulan bintang tersebut melepaskan cahayanya secara berkala.
Baca Juga: Warna Planet di Tata Surya Berbeda, Cari Tahu Penyebabnya di Sini!
Kabar tersebut belum terkonfirmasi, tetapi para peneliti juga menyampaikan bahwa hal ini terjadi karena latar belakang gravitasi yang tercipta akibat penggabungan black hole supermasif.
Penelitian Masih Terus Berlanjut
Hingga saat ini penelitian mengenai black hole masih terus berlanjut. Alat yang para peneliti gunakan adalah teleskop luar angkasa yang bisa menangkap gambar hingga sejauh miliaran cahaya.
Namun pada tahun 2030 mendatang, Badan Luar Angkasa Eropa bersama NASA akan meluncurkan sebuah Antena Laser Interferometer Luar Angkasa (LISA).
Hal ini untuk melakukan observasi black hole terbesar di alam semesta. Alat tersebut akan memiliki tiga satelit terbang dengan sisi yang panjang hingga 2,5 juta kilometer. (R10/HR-Online/Editor-Ndu)