Gundik merupakan istilah yang bermakna pelacur, sering digunakan pada era kolonial Belanda. Pergundikan sering dilakukan oleh bos-bos besar, tak terkecuali juga oleh prajurit.
Sejarah mencatat, prajurit tentara kolonial pernah berada dalam lingkaran pergundikan yang intens. Bahkan beberapa di antaranya terkena penyakit kelamin.
Salah satu yang sangat mengerikan, ini terjadi tidak pada orang Belanda saja, sebab ada juga serdadu Afrika yang ikut terlibat dalam pelacuran.
Baca Juga: Sejarah Zaman Malaise: Ekonomi Dunia Lesu, Pribumi Busung Lapar
Mereka semua disinyalir sebagai pecandu ‘ranjang’. Tak jarang memanfaatkan wanita nakal untuk melakukan persenggamaan di tempat yang tidak seharusnya dilakukan.
Nah pada kesempatan ini akan dibahas mengenai sejarah pergundikan dalam tangsi militer Belanda. Apa saja kisah menariknya, silahkan ikuti penjelasan berikut di bawah ini.
Gundik Era Kolonial dalam Tangsi Militer Disebut dengan Sarina
Orang Belanda memang hobi memberikan nama profesi rendahan yang diambil dari orang-orang pribumi. Salah satunya untuk menamakan pelacuran dengan sebutan Sarina.
Sarina merupakan bangsa pribumi yang berprofesi sebagai gundik. Awalnya ia hanya melayani dan mengurus keperluan hidup para serdadu Eropa yang bertugas di Hindia Belanda.
Namun lama kelamaan, Sarina dijadikan sebagai wanita pelacur oleh para prajurit tersebut. Sehingga nama Sarina kemudian dikenal sebagai istilah rahasia untuk menyebut pelacuran di dalam tangsi.
Sementara menurut Ineke van Kessel dalam Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 (2011: 211), Sarina berasal dari perempuan cantik dan genit.
Baca Juga: Sejarah Kelompok Pathuk dan Kisah Persahabatan Soeharto dengan Agen Spionase PKI
Akan tetapi banyak di antara para wanita pelacur yang memiliki umur di atas 30 tahun yang mengaku sebagai kelompok Sarina.
Artinya mereka ingin disamakan dengan para pelacur lainnya yang memiliki umur di bawah 30 tahun. Atau mereka merasa dirinya masih muda dan memiliki harga yang sama dengan pelacur muda.
Sarina ini memiliki kebiasaan yang mulia, sebab mereka sering berbagi makanan dengan para serdadu Eropa, atau berbagi tempat tidur dengan prajurit pribumi.
Sarina Punya Suami
Menurut Ineke, setiap perempuan yang berprofesi sebagai Sarina sebagian sudah memiliki suami. Lelaki pasangan mereka mendukung pekerjaannya sebagai pelacur.
Hal ini karena para suami memiliki hobi yang tidak terkendali seperti, mabuk-mabukan, berjudi, dan mencari pelacur.
Terkadang mereka bertemu dengan istrinya sendiri di tempat pelacuran. Akan tetapi sang suami menutup diri seolah tidak saling kenal mengenal.
Sedangkan laporan kolonial mencatat, para Sarina akan berhati-hati saat pulang bekerja. Apalagi dalam hal mengawasi uang hasil keringatnya sendiri.
Alasannya sangat sederhana namun ironis. Mereka tidak ingin uang itu dirampas oleh para suami untuk dibelikan minuman keras, melainkan hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.
Adapun yang perlu para pembaca ketahui bersama, profesi Sarina ini tidak menghilangkan unsur budaya rumah tangga. Sebab ketika di rumah mereka akan bersikap layaknya seorang istri.
Melayani keluarga, anak, dan suami. Memasak nasi, lauk pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hanya yang membedakan dengan istri lainnya yaitu, mereka bekerja pada malam hari.
Tangsi Militer Tempat Ternyaman untuk ‘Mengeksekusi’ Sarina
Masih menurut Inneke van Kessel, tangsi militer kolonial Belanda zaman dulu merupakan tempat aktivitas ternyaman untuk melakukan persenggamaan antara para serdadu dan Sarina.
Meskipun secara fasilitas sangat terbatas, hanya bergelas ranjang kotor tanpa tirai, mereka asyik bercumbu di depan para prajurit yang lain.
Tradisi pergundikan dalam tangsi-tangsi militer ini berlangsung hingga pertengahan abad ke-20 masehi. Informasi ini sebagaimana mengutip Inneke (2011: 212).
Pergundikan di dalam Tangsi Berhenti Oleh Menteri Daerah Jajahan Beragama Protestan
Semenjak seorang menteri daerah jajahan beragama protestan bernama Kheenius melihat tradisi pelacuran dalam tangsi militer, akhirnya ia berupaya untuk memberhentikannya.
Baca Juga: Ismail Marzuki Jadi Google Doodle, Ini Kisah Cintanya yang Romantis
Ia memberikan satu peraturan baru yang memperbolehkan para serdadu Belanda yang sudah menikah, ketika bertugas di Hindia Belanda membawa istri dan keturunannya.
Hal ini bisa menjadi salah satu media strategis untuk meminimalisir terjadinya pelacuran di dalam lingkungan militer kolonial waktu itu.
Adapun yang lebih penting yaitu, supaya para prajurit perang tidak terkena dampak penyakit yang dapat menimbulkan kerugian.
Sebab tidak sedikit para prajurit kolonial Belanda, termasuk yang berasal dari serdadu Afrika terkena penyakit kelamin layaknya sifilis, atau Raja Singa.
Dengan demikian, keprihatinan Khenius juga dianggap sebagai alternatif jitu untuk mengatasi budaya pergundikan di Hindia Belanda. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)