Jumat, April 4, 2025
BerandaBerita TerbaruGundik Era Kolonial: Punya Suami, Jual Diri pada Serdadu di Tangsi Militer

Gundik Era Kolonial: Punya Suami, Jual Diri pada Serdadu di Tangsi Militer

Gundik merupakan istilah yang bermakna pelacur, sering digunakan pada era kolonial Belanda. Pergundikan sering dilakukan oleh bos-bos besar, tak terkecuali juga oleh prajurit.

Sejarah mencatat, prajurit tentara kolonial pernah berada dalam lingkaran pergundikan yang intens. Bahkan beberapa di antaranya terkena penyakit kelamin.

Salah satu yang sangat mengerikan, ini terjadi tidak pada orang Belanda saja, sebab ada juga serdadu Afrika yang ikut terlibat dalam pelacuran.

Baca Juga: Sejarah Zaman Malaise: Ekonomi Dunia Lesu, Pribumi Busung Lapar

Mereka semua disinyalir sebagai pecandu ‘ranjang’. Tak jarang memanfaatkan wanita nakal untuk melakukan persenggamaan di tempat yang tidak seharusnya dilakukan.

Nah pada kesempatan ini akan dibahas mengenai sejarah pergundikan dalam tangsi militer Belanda. Apa saja kisah menariknya, silahkan ikuti penjelasan berikut di bawah ini.

Gundik Era Kolonial dalam Tangsi Militer Disebut dengan Sarina

Orang Belanda memang hobi memberikan nama profesi rendahan yang diambil dari orang-orang pribumi. Salah satunya untuk menamakan pelacuran dengan sebutan Sarina.

Sarina merupakan bangsa pribumi yang berprofesi sebagai gundik. Awalnya ia hanya melayani dan mengurus keperluan hidup para serdadu Eropa yang bertugas di Hindia Belanda.

Namun lama kelamaan, Sarina dijadikan sebagai wanita pelacur oleh para prajurit tersebut. Sehingga nama Sarina kemudian dikenal sebagai istilah rahasia untuk menyebut pelacuran di dalam tangsi.

Sementara menurut Ineke van Kessel dalam Serdadu Afrika di Hindia Belanda 1831-1945 (2011: 211), Sarina berasal dari perempuan cantik dan genit.

Baca Juga: Sejarah Kelompok Pathuk dan Kisah Persahabatan Soeharto dengan Agen Spionase PKI

Akan tetapi banyak di antara para wanita pelacur yang memiliki umur di atas 30 tahun yang mengaku sebagai kelompok Sarina.

Artinya mereka ingin disamakan dengan para pelacur lainnya yang memiliki umur di bawah 30 tahun. Atau mereka merasa dirinya masih muda dan memiliki harga yang sama dengan pelacur muda.

Sarina ini memiliki kebiasaan yang mulia, sebab mereka sering berbagi makanan dengan para serdadu Eropa, atau berbagi tempat tidur dengan prajurit pribumi.

Sarina Punya Suami

Menurut Ineke, setiap perempuan yang berprofesi sebagai Sarina sebagian sudah memiliki suami. Lelaki pasangan mereka mendukung pekerjaannya sebagai pelacur.

Hal ini karena para suami memiliki hobi yang tidak terkendali seperti, mabuk-mabukan, berjudi, dan mencari pelacur.

Terkadang mereka bertemu dengan istrinya sendiri di tempat pelacuran. Akan tetapi sang suami menutup diri seolah tidak saling kenal mengenal.

Sedangkan laporan kolonial mencatat, para Sarina akan berhati-hati saat pulang bekerja. Apalagi dalam hal mengawasi uang hasil keringatnya sendiri.

Alasannya sangat sederhana namun ironis. Mereka tidak ingin uang itu dirampas oleh para suami untuk dibelikan minuman keras, melainkan hanya untuk menutupi kebutuhan sehari-hari.

Adapun yang perlu para pembaca ketahui bersama, profesi Sarina ini tidak menghilangkan unsur budaya rumah tangga. Sebab ketika di rumah mereka akan bersikap layaknya seorang istri.

Melayani keluarga, anak, dan suami. Memasak nasi, lauk pauk, dan kebutuhan rumah tangga lainnya. Hanya yang membedakan dengan istri lainnya yaitu, mereka bekerja pada malam hari.

Tangsi Militer Tempat Ternyaman untuk ‘Mengeksekusi’ Sarina

Masih menurut Inneke van Kessel, tangsi militer kolonial Belanda zaman dulu merupakan tempat aktivitas ternyaman untuk melakukan persenggamaan antara para serdadu dan Sarina.

Meskipun secara fasilitas sangat terbatas, hanya bergelas ranjang kotor tanpa tirai, mereka asyik bercumbu di depan para prajurit yang lain.

Tradisi pergundikan dalam tangsi-tangsi militer ini berlangsung hingga pertengahan abad ke-20 masehi. Informasi ini sebagaimana mengutip Inneke (2011: 212).

Pergundikan di dalam Tangsi Berhenti Oleh Menteri Daerah Jajahan Beragama Protestan

Semenjak seorang menteri daerah jajahan beragama protestan bernama Kheenius melihat tradisi pelacuran dalam tangsi militer, akhirnya ia berupaya untuk memberhentikannya.

Baca Juga: Ismail Marzuki Jadi Google Doodle, Ini Kisah Cintanya yang Romantis

Ia memberikan satu peraturan baru yang memperbolehkan para serdadu Belanda yang sudah menikah, ketika bertugas di Hindia Belanda membawa istri dan keturunannya.

Hal ini bisa menjadi salah satu media strategis untuk meminimalisir terjadinya pelacuran di dalam lingkungan militer kolonial waktu itu.

Adapun yang lebih penting yaitu, supaya para prajurit perang tidak terkena dampak penyakit yang dapat menimbulkan kerugian.

Sebab tidak sedikit para prajurit kolonial Belanda, termasuk yang berasal dari serdadu Afrika terkena penyakit kelamin layaknya sifilis, atau Raja Singa.

Dengan demikian, keprihatinan Khenius juga dianggap sebagai alternatif jitu untuk mengatasi budaya pergundikan di Hindia Belanda. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah Tuai Hujatan Pasca Akui Menyesal Ikut Ajang Pencarian Bakat

Nadin Amizah tuai hujatan pedas dari warganet. Ini merupakan buntut panjang pasca pengakuan Nadin yang menegaskan jika ia menyesal pernah ikut ajang pencarian bakat...
Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

Penampakan Kepadatan Arus Balik Lebaran di Jalur Selatan Garut Hari Ini

harapanrakyat.com,- Kepadatan arus balik lebaran di jalur selatan Garut, Jawa Barat, kembali terlihat pada Jumat (4/4/2025) pagi ini. Arus balik kendaraan dari arah Tasikmalaya,...
Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Aktor Senior Ray Sahetapy Meninggal Dunia Diusia 68 Tahun

Dunia hiburan tanah air kembali berduka, aktor senior Ray Sahetapy meninggal dunia pada usia 68 tahun. Artis Indonesia legendaris ini, menghembuskan nafas terakhirnya pada...
Pria Disabilitas Asal Grobogan

Pria Disabilitas Asal Grobogan Jadi Korban Curas di Sumedang, Polisi Buru Pelaku

harapanrakyat.com,- Seorang pria disabilitas asal Grobogan, Jawa Tengah, menjadi korban pencurian dengan kekerasan (curas) di Jalan Raya Sumedang-Subang. Tepatnya di Dusun Sela Awi, Desa...
Contraflow dan One Way

Jadwal Contraflow dan One Way Arus Balik Lebaran 2025

harapanrakyat.com,- Korlantas Polri menerapkan sistem contraflow dan one way guna mengantisipasi kepadatan kendaraan tujuan Jakarta pada arus balik Lebaran 2025. Kapolri Jenderal Pol. Listyo Sigit...
Layanan libur lebaran

Permudah Urus Dokumen Kependudukan, Disdukcapil Ciamis Buka Layanan saat Libur Lebaran, Catat Waktunya!

harapanrakyat.com,- Permudah masyarakat urus dokumen, Disdukcapil Ciamis menggelar pelayanan khusus di luar jam kerja. Acara ini berlangsung Kamis (3/4/2025) malam. Pelayanan di luar jam kerja...