Berita Banjar, (harapanrakyat.com),- Sejumlah gelandangan dan pengemis (gepeng) serta manusia ‘silver’ terjaring razia Satpol PP Kota Banjar, Jawa Barat, Senin (1/11/2021). Mereka terkena razia saat mangkal di pusat keramaian jalan pusat kota Banjar.
Sementara dari sejumlah manusia silver dan gepeng yang petugas amankan tersebut, terdapat dua orang yang masih berusia anak-anak dengan status putus sekolah.
3 Gepeng Terjaring Razia Oleh Satpol PP Kota Banjar
Kepala Dinas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Banjar, Edi Nurjaman mengatakan, pihaknya akan terus dan gencar menertibkan anak-anak jalanan.
Gepeng termasuk manusia silver yang berhasil terjaring razia tersebut, sebanyak 3 orang.
“Dari 3 orang tersebut, 2 orang pengamen anak kecil. Saya lihat masih berusia anak-anak dan putus sekolah. Keduanya warga Banjar,” kata Edi kepada wartawan, Senin (1/11/2021).
Lebih lanjut Edi menambahkan, razia gelandangan dan pengemis tersebut bukan hanya untuk penertiban saja. Namun juga untuk meminimalisir hal lain. Seperti menghindari adanya kecelakaan lalu lintas bagi pengguna jalan.
Selain itu, razia tersebut juga untuk menuntaskan permasalahan penyakit sosial.
Baca Juga : Meresahkan Warga, Satpol PP Kota Banjar Amankan Pria Asal Ciamis
Akan tetapi untuk masalah penyakit sosial, menurutnya diperlukan analisis lebih lebih lanjut, untuk dicarikan solusinya oleh semua pihak terutama instansi terkait.
Edi mencontohkan, misalnya penanganan bagi 2 orang yang masih berstatus anak-anak dan mengalami putus sekolah. Maka perlu tindaklanjut sampai dengan kondisi ekonomi dan keluarganya.
“Ini bukan hanya persoalan penertiban yang oleh Satpol PP tangani saja. Tapi juga permasalahan ekonomi, yang dalam penuntasannya membutuhkan sinergi dari semua pihak,” ujarnya.
Putus Sekolah
Sementara itu, salah gepeng yang terjaring razia, Fika Afilia (16), mengaku sebagai warga Sumanding Kulon, Kelurahan Mekarsari, Kecamatan Banjar.
Ia mengaku sudah hampir satu tahun ini menjadi peminta-minta di jalan. Bukan hanya sendirian, namun ia bersama Fajar, temannya yang juga masih berusia anak-anak.
Fika menjadi peminta-minta karena selama ini sudah tidak lagi bersekolah jenjang SMP. Sekarang ia hanya tinggal bersama ibunya di lingkungan Sumanding Kulon.
“Pulangnya ke Sumanding Kulon. Biasanya pulang jam 3 sore. Sekarang udah nggak sekolah lagi, tapi kalau disekolahin ya mau aja,” kata Fika. (Muhlisin/R5/HR-Online/Editor : Adi Karyanto)