Berita Banjar, (harapanrakyat.com),– Rumah Suminah (42), warga Dusun Sindanggalih RT 4 RW 5, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar, Jawa Barat, yang kondisinya masih gelap karena belum mendapat akses listrik usai ditinjau pejabat Pemerintah Kota Banjar menuai kritik mahasiswa.
Ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota Banjar, Awal Muzaki menyayangkan lambannya penanganan dan belum adanya kebijakan nyata sebagai solusi yang diambil oleh pemerintah Kota Banjar untuk mengatasi permasalahan tersebut.
Baca Juga: Usai Ditinjau Para Pejabat Pemkot Banjar, Rumah Suminah Masih Gelap
Awal pun menilai belum adanya fasilitas bantuan yang dibutuhkan sebagai buruknya pelayanan dari pemerintahan Kota Banjar. Seharusnya, menurut Awal, pemerintah memberikan solusi terbaik untuk penerangan bagi warganya.
Untuk itu, kata Awal, ia pun mempertanyakan hasil tindak lanjut dari peninjauan yang dilakukan oleh para pejabat pemerintah beberapa waktu yang lalu.
“Kalau masih belum ada solusi. Habis tinjauan ngapain aja? Harusnya segera diambil langkah cepat mengingat urgensi kebutuhan warga itu penerangan. Ini saya kira bentuk kegagalan pelayanan publik bagi masyarakat,” kata Awal kepada HR Online, Kamis (15/10/2021).
Lanjutnya, semestinya setelah ada peninjauan lapangan yang kemarin itu Pemerintahan Kota Banjar langsung sigap memberikan alternatif solusi melalui kebijakan.
Selain itu, perlu juga dilakukan kebijakan jangka pendek maupun jangka menengah untuk fasilitas infrastruktur pengadaan instalasi kelistrikan yang dibutuhkan di lingkungan rumah Suminah.
Kemudian, lanjut Awal, pihak legislatif sebagai perwakilan dari masyarakat seharusnya juga bisa mengambil peran nyata. Salah satunya dengan mendorong pihak Pemkot untuk membantu masyarakat.
“Untuk saat ini ditinjau dari asas kemanfaatan saya kira solusi jangka pendek yang perlu menjadi prioritas. Harus segera dicarikan solusinya,” katanya.
Himpunan Mahasiswa Islam Kota Banjar: Pemerintah Harus Cari Solusi
Terpisah, Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Kota Banjar, Budi Nugraha, mengatakan, melihat kemajuan peradaban yang semakin maju sangat ironis melihat kesenjangan yang dialami salah satu warga di Dusun Sindanggalih, RT 04, RW 05, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari.
Terlebih lagi saat ini semua serba digital. Mulai dari belajar online, sekolah, perkuliahan semua online, termasuk mata kuliah ada google classroom. Tentunya saluran listrik sangat dibutuhkan untuk menunjang pembelajaran dan kebutuhan-kebutuhan yang lainnya.
“Prihatin melihat adanya kesenjangan dan ketidakmerataan saluran listrik di salah satu warga di kota banjar. Ini harus menjadi perhatian serius bagi pemerintah dalam menanggapi kesenjangan tersebut,” katanya.
Menurutnya, sudah menjadi tugas bagi para pemangku kebijakan untuk cepat tanggap dalam memberikan pelayanan untuk menyelesaikan persoalan kesenjangan tersebut.
Maka dari itu, kata Budi, pihaknya mendorong kepada pemerintah dan para pemangku kebijakan untuk segera mungkin menyelesaikan persoalan kesenjangan tersebut
“Kalau memang para pejabat publik ini serius terhadap kepentingan kepentingan masyarakat dan perkembangan kemajuan peradaban, tentunya sudah ada progres untuk solusinya,” ujarnya.
Sebelumnya, usai peninjauan yang dilakukan oleh Pemkot Banjar melalui Dinas PUPRKP pada tanggal 29 September lalu, Kepala UPTD Ketenagalistrikan Dinas PUPRKP Kota Banjar, Asep Bunyamin mengatakan, pihaknya akan mencarikan solusi untuk penerangan itu menggunakan mesin Genset agar lebih efisien.
Selain itu, bisa saja dibuatkan fasilitas menggunakan tenaga surya untuk penerangan. Untuk itu diperkirakan membutuhkan 3 tiang untuk membuat penerangan menggunakan tenaga Surya.
Hanya saja, penerangan tersebut tidak bisa untuk fasilitas yang lain seperti mengisi baterai handphone dan sebagainya. Sehingga akan lebih efisien jika menggunakan mesin generator genset.
“Alternatif untuk solusinya bisa menggunakan genset. Lebih efisien,” kata Asep Bunyamin pada waktu itu. (Muhlisin/R7/HR-Online/Editor-Ndu)