Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Sebuah desa di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat dikenal makmur sejak zaman penjajahan Belanda. Rakyatnya saat itu hidup berkecukupan, meskipun ada dalam cengkraman kolonial Belanda.
Ksatria bernama Wira Soma punya andil besar dalam merintis pembukaan hutan belantara menjadi sebuah desa yang makmur.
Wira Soma kesehariannya selalu tampil sederhana, namun lewat tangannya lah sebuah desa bernama Desa Karangbenda terbentuk.
Baca Juga: Film Santri Gudig, Kado Istimewa HSN 2021 Ponpes Assabaq Pangandaran
Desa Karangbenda saat ini berada di wilayah Kecamatan Parigi, Kabupaten Pangandaran.
Pada tahun 1918, wilayah Kecamatan Parigi sendiri masih berupa hutan belantara. Pribumi saat itu masih dalam jajahan Belanda, sehingga semua aturan pun ikut apa kata Belanda.
Baru pada tahun 1920 muncul sebuah wilayah di Kecamatan Parigi, namanya Karang Jetak atau orang juga biasa menyebutnya Legok Cenang. Saat ini wilayahnya masuk ke Dusun Karang Jaya.
Kepala Desa Karangbenda Kasih Senjaya mengatakan, Wira Soma saat itu memiliki cita-cita membangun sebuah Desa di wilayah Karang Jetak. Namun saat itu, ia bingung di mana lokasi untuk membangun desa.
“Bahkan Wira Soma juga bingung nama desanya apa?” katanya, Minggu (24/10/2021).
Lanjut Kasih Senjaya, akhirnya Wira Soma memutuskan untuk membangun desa di wilayah Karang Jetak atau Legok Cenong.
“Banyak pertimbangan sampai Wira Soma memilih Karang Jetak, salah satunya lokasinya itu mayoritas pegunungan,” jelasnya.
Bahkan, kata Kasih, masyarakatnya juga hidup makmur. Demikian juga dengan hasil alamnya yang melimpah.
“Ada kopi, kelapa, juga padi, yang membuat warga desa hidup makmur dan berkecukupan. Meskipun masih dalam jajahan Belanda,” katanya.
Hanya saja, lanjut Kasih, kehidupan pribumi pada zaman kolonial Belanda seperti halnya tamu di rumah sendiri.
“Hidup makmur tapi masih dikendalikan penjajah Belanda,” katanya.
Desa Karangbenda Pangandaran Diisi Keluarga Makmur dan Kaya Raya
Selanjutnya pada tahun 1920, pembentukan Desa pun mulai dirintis oleh masyarakat Kecamatan Parigi.
“Wira Soma menjadi Kuwu atau Kepala Desa Karang Jetak. Sementara, saudaranya yang bernama Munasan atau H. Abdul Mutholib ditunjuk sebagai juru tulis atau kalau sekarang Sekretaris Desa,” paparnya.
Selanjutnya H. Abdul Mutholib diangkat menjadi Sekretaris Kecamatan atau pada waktu itu disebut Kepala Gugat.
“Tahun 1925, jabatan Kepala Desa dijabat oleh H. Maksum yang tinggal di Blok Cibalong, saat ini jadi wilayah Karangbenda,” jelasnya.
Sejak saat itu, Pusat Pemerintahan Desa Karangjetak pun pindah ke Blok Cibalong. Lantaran Kepala Desa-nya yaitu H. Maksum berasal dari Cibalong.
“Desa digagas dan dirintis serta diisi oleh keluarga besar yang kaya raya, sehingga dari Karangjetak, nama Desa pun berubah menjadi Desa Karangbenda,” kata Kasih.
Karang sendiri merujuk pada arti kuat, sedangkan benda merujuk pada kekayaan. Sehingga Karangbenda berarti kekuatan harta kekayaan atau bisa juga berarti harta yang terkumpul. (Ceng2/R7/HR-Online/Editor-Ndu)