Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),- Meriahkan Hari Santri Nasional 2021, sejumlah santri Ponpes Assabaq di Dusun Poris, Desa/Kecamatan Mangunjaya, Kabupaten Pangandaran berikan kado berupa film santri gudig.
Film tersebut terdiri dari 2 jenis, yakni potret keseharian santri dari mulai bangun hingga tidur lagi. Sedangkan yang satunya lagi berjudul Santri Gudig itu sendiri.
Yusuf (27), penulis naskah, menjelaskan, gagasan pembuatan film tersebut sebenarnya hanya spontan dan mendandak, apalagi dalam sekitar 3 minggu lalu persiapannya.
Dengan berbagai keterbatasan, mulai kemampuan akting pemain, peralatan yang terbatas dan personel seadanya.
“Kebetulan pemainnya santri semua. Kita pakai alat seadanya dan pengetahuan perfilman yang masih terbatas, termasuk juga alatnya masih ala kadarnya. Namun, kita ingin ada karya di momen hari yang istimewa ini,” katanya, Jumat (22/10/2021).
baca juga: Hari Santri 2021, Siswa Ziarah ke Makam Tokoh Islam di Pangandaran
Inspirasi Pembuatan Film Santri Gudig
Yusuf menyebut, inspirasi mengangkat santri gudig tersebut berawal dari ia bersama kru tertarik dengan fenomena tersebut.
Sebab, menurutnya, kebanyakan siapa saja yang pernah mengenyam pendidikan pesantren sempat mengalami gatal-gatal pada tubuh mereka. Bahkan, hingga sampai kondisi paling parah.
Meski berbagai upaya telah diantisipasi, baik dari pihak pesantren maupun anak itu sendiri, namun cobaan santri yang sedang belajar ilmu agama itu tetap datang.
“Jadi ini menariknya bagi kami. Namun dari semua itu, banyak hikmah yang kita dapatkan, salah satunya adalah melatih kesabaran saat menuntut ilmu agama,” ujarnya.
Ia pun berharap, ke depan kemampuan santri dapat berkembang selain bidang agama saja, namun keahlian lain juga sangat penting dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa.
Sementara itu, Ketua Yayasan Assabaq, Rohmat Nurhidayat, mengapresiasi kreativitas para santri yang juga sebagian lulusan BLK Assabaq.
Menurutnya, karya berupa film dokumenter tersebut merupakan kado terindah bagi pihaknya. Apalagi dengan segala keterbatasan justru membuat mereka tak putus asa dalam berinovasi.
“Jadi, santri itu tidak hanya bisa mengaji saja, tapi memang harus memiliki banyak kemampuan. Apalagi jika itu yang memang dibutuhkan oleh masyarakat,” katanya.
Ke depannya, pihaknya pun akan terus memberikan dukungan kepada seluruh santri yang ingin mengembangkan diri dan bekreasi untuk memajukan yayasan maupun pesantren.
“Terlebih dalam film santri gudig ini pesan moralnya sangat bagus. Semoga ke depan bisa lebih baik lagi,” pungkasnya. (Muhafid/R6/HR-Online)