Minggu, April 6, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Zaman Malaise: Ekonomi Dunia Lesu, Pribumi Busung Lapar

Sejarah Zaman Malaise: Ekonomi Dunia Lesu, Pribumi Busung Lapar

Sejarah zaman Malaise mencatat dunia mengalami kelesuan ekonomi yang kemudian berdampak pada seluruh negara di dunia, tak terkecuali dengan Hindia Belanda (sekarang Indonesia).

Adapun dampak yang paling kelihatan di negara kolonial Belanda tersebut, antara lain fenomena kesulitan mencari lapangan pekerjaan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Bahkan tak sedikit pribumi yang busung lapar.

Berikut ini beberapa fakta tersembunyi dari fenomena krisis dunia terparah yang terjadi antara tahun 1929-1930 tersebut.

Catatan Penting Sejarah Ekonomi Dunia pada Zaman Malaise

Terdapat fakta-fakta tersembunyi dari fenomena Malaise ini, salah satunya dalam catatan sejarah kolonial yang mengungkapkan situasi pada zaman tersebut.

Baca Juga: Jalur Rempah di Indonesia, Pulau Jawa Paling Subur

Pada zaman malaise juga ada kisah di mana seorang elit lokal bernama Tanzil Sutan Pamoentjak merelakan sebagian hartanya untuk memberdayakan masyarakat supaya bisa bekerja.

Melihat Situasi Malaise Lebih Dekat di Hindia Belanda

Situasi yang paling mencekik dari dampak yang ditimbulkan Zaman Malaise di Hindia Belanda bisa kita lihat di Yogyakarta.

Sekitar tahun 1930, kemiskinan yang begitu parah melanda Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan cerita zaman Malaise dari Djohan Sjahroezah (Anggota KNIP era Sukarno-Hatta).

Djohan Sjahroezah menemukan pemandangan yang menyedihkan di Yogyakarta, saat itu ia bertanya kepada seseorang gelandangan yang menangis di pinggir jalan.

Seorang fakir tersebut merupakan salah seorang yang terdampak Malaise. Sebelumnya ia merupakan seorang pekerja di sebuah perkebunan Deli Sumatera.

Namun kemudian ia dipulangkan karena para pengurus perkebunan tidak bisa lagi membayar upah mereka, sehingga ia pulang ke Yogyakarta dan mencari pekerjaan namun tak kunjung ada.

Zaman Malaise juga tidak hanya berdampak pada rakyat kecil. Beberapa elit lokal, dan pemerintah kolonial juga sulit untuk menemukan solusi dari jeratan masalah ekonomi tersebut.

Penjualan Komoditas di Hindia Belanda Mengalami Kemerosotan

Peristiwa ini juga berdampak pada penjualan komoditas kolonial yang semakin hari semakin merosot.

Tak ada lagi orang-orang Eropa yang memesan komoditas rempah ke Hindia Belanda. Tak ada lagi barang ekspor yang siap dikirim di pelabuhan, situasi lesunya ekonomi ini begitu parah.

Adapun beberapa komoditas yang penting dan laku di pasaran Eropa saat itu adalah Bahan Tekstil, Kertas, Karet, dan Bambu.

Saking tidak terkendalinya perekonomian di Hindia Belanda, banyak orang Eropa yang memilih pergi kembali ke negara asalnya.

Keluarga Tanzil S. Pamoentjak Membuka Lapangan Kerja

Adapun ayah dari Djohan Sjahroezah bernama Tanzil S. Pamoentjak yang berasal dari orang kaya kemudian membuka lapangan pekerjaan.

Lapangan kerja keluarga Tanzil ini berasal dari uang tabungan sisanya bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial.

Baca Juga: Sejarah Eksekusi Terkejam di Indonesia: Terpidana Mati Sekarat 8 Hari

Hal ini selaras dengan pernyataan Riadi Ngasiran dalam bukunya berjudul “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah: Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah”, (2015: 66).

Zaman Malaise ini kemudian mengantarkan banyak para pekerja ke keluarga Tanzil. Para pekerja akhirnya memperoleh biaya untuk membeli sesuap nasi untuk makan keluarganya di rumah.

Dengan Membuka Lapangan Kerja, Keluarga Tanzil Membentuk Kepercayaan Nasionalisme

Masih menurut Riadi Ngasiran (2015: 67), dengan membuka lapangan kerja, Tanzil dan keluarganya telah membentuk kepercayaan nasionalisme kepada para buruh.

Hal ini terjadi karena mereka merasa memiliki nasib yang sama, yaitu sebagai kelompok buruh yang tertindas dan merasa harus bebas dari segala perintah kolonial.

Mereka membandingkan kerja antara pihak kolonial dan kepada seorang atasan yang berasal dari pribumi (yang dimaksud keluarga Tanzil S. Pamoentjak).

Para buruh yang bekerja di sana kemudian mengatakan lebih bebas, dan nyaman bekerja sebagai buruh di perusahaan yang dimiliki orang pribumi layaknya keluarga “pak Tanzil”.

Selain dibayar dengan jumlah yang sesuai, mereka juga merasa diajarkan untuk menabung dan memanfaatkan koperasi dengan benar.

Sebab pada zaman itu, Bung Hatta mulai aktif dan memanfaatkan beberapa koperasi yang dibentuk sebelum Malaise terjadi tahun 1929 untuk kegiatan simpan pinjam orang-orang pribumi.

Peristiwa Malaise Membantu Pribumi Menjadi Pengusaha

Meskipun membebani keadaan ekonomi negara, pemerintah, dan penduduknya, peristiwa Malaise yang terjadi tahun 1930 ternyata telah membantu pribumi menjadi pengusaha.

Hal ini bisa kita lihat dari adanya kemunculan profesi pribumi dari tahun 1930-1945 yang baru dan berbasis wiraswasta.

Semisal ada yang membuka perusahaan; kursus tenun, membuka bank-bank daerah, dan beberapa koperasi di berbagai kota-kota besar seperti di Batavia, dan Yogyakarta.

Baca juga: Kumpulan Artikel Sejarah Indonesia

Selain itu, tumbuh juga jenis usaha yang berbasis kerajinan lokal. Nah itulah penggalan sejarah Zaman Malaise. Dengan berkaca pada sejarah, semoga kejadian itu tak terulang untuk kedua kalinya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Infinix Note 50x, Waktunya HP 5G Makin Terjangkau

Infinix Note 50x, Waktunya HP 5G Makin Terjangkau

Infinix kembali menggebrak pasar ponsel kelas menengah dengan peluncuran Infinix Note 50x pada 27 Maret 2025 lalu. Sebagai model paling terjangkau dalam seri Note...
Hasyim bin Abdu Manaf, Leluhur Rasulullah SAW yang Berpengaruh

Hasyim bin Abdu Manaf, Leluhur Rasulullah SAW yang Berpengaruh

Nama Hasyim bin Abdu Manaf mungkin tidak sepopuler Nabi Muhammad SAW. Tapi perannya sangat besar dalam sejarah Islam. Ia adalah bagian penting dalam rantai...
Lenovo Yoga 9i 2-in-1 Aura Edition, Laptop Premium Bertenaga

Lenovo Yoga 9i 2-in-1 Aura Edition, Laptop Premium Bertenaga

Lenovo Yoga 9i 2-in-1 Aura Edition menjadi salah satu produk andalan Lenovo yang siap meluncur tahun ini. Laptop premium ini sudah mulai tersedia di...
Wisatawan Tewas di Kolam Renang Cipanas Garut

Wisatawan Tewas di Kolam Renang Cipanas Garut, Polisi Olah TKP

harapanrakyat.com,- Seorang wisatawan kolam renang di Cipanas Garut, Jawa Barat, ditemukan tewas tenggelam saat rekreasi, Minggu (6/4/2025). Petugas kepolisian dari Polsek Tarogong Kaler bersama...
Hujan Meteor Lyrid 2025, Fenomena Langit Spektakuler di Bulan April

Hujan Meteor Lyrid 2025, Fenomena Langit Spektakuler di Bulan April

Setiap tahun, langit malam bulan April dihiasi oleh salah satu fenomena alam yang paling dinanti, yaitu hujan meteor Lyrid 2025. Hujan meteor ini berasal...
gebrakan 100 hari kerja

Tokoh Masyarakat Tasikmalaya Menanti Gebrakan 100 Hari Kerja Viman-Dicky

harapanrakyat.com,- Tokoh masyarakat menanti gebrakan 100 hari kerja Viman Alfarizi Ramadah-Diky Chandra, Walikota - Wakil Wali Kota Tasikmalaya. Apalagi sejak dilantik sampai saat ini...