Sejarah zaman Malaise mencatat dunia mengalami kelesuan ekonomi yang kemudian berdampak pada seluruh negara di dunia, tak terkecuali dengan Hindia Belanda (sekarang Indonesia).
Adapun dampak yang paling kelihatan di negara kolonial Belanda tersebut, antara lain fenomena kesulitan mencari lapangan pekerjaan, kemiskinan, bahkan kelaparan. Bahkan tak sedikit pribumi yang busung lapar.
Berikut ini beberapa fakta tersembunyi dari fenomena krisis dunia terparah yang terjadi antara tahun 1929-1930 tersebut.
Catatan Penting Sejarah Ekonomi Dunia pada Zaman Malaise
Terdapat fakta-fakta tersembunyi dari fenomena Malaise ini, salah satunya dalam catatan sejarah kolonial yang mengungkapkan situasi pada zaman tersebut.
Baca Juga: Jalur Rempah di Indonesia, Pulau Jawa Paling Subur
Pada zaman malaise juga ada kisah di mana seorang elit lokal bernama Tanzil Sutan Pamoentjak merelakan sebagian hartanya untuk memberdayakan masyarakat supaya bisa bekerja.
Melihat Situasi Malaise Lebih Dekat di Hindia Belanda
Situasi yang paling mencekik dari dampak yang ditimbulkan Zaman Malaise di Hindia Belanda bisa kita lihat di Yogyakarta.
Sekitar tahun 1930, kemiskinan yang begitu parah melanda Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan cerita zaman Malaise dari Djohan Sjahroezah (Anggota KNIP era Sukarno-Hatta).
Djohan Sjahroezah menemukan pemandangan yang menyedihkan di Yogyakarta, saat itu ia bertanya kepada seseorang gelandangan yang menangis di pinggir jalan.
Seorang fakir tersebut merupakan salah seorang yang terdampak Malaise. Sebelumnya ia merupakan seorang pekerja di sebuah perkebunan Deli Sumatera.
Namun kemudian ia dipulangkan karena para pengurus perkebunan tidak bisa lagi membayar upah mereka, sehingga ia pulang ke Yogyakarta dan mencari pekerjaan namun tak kunjung ada.
Zaman Malaise juga tidak hanya berdampak pada rakyat kecil. Beberapa elit lokal, dan pemerintah kolonial juga sulit untuk menemukan solusi dari jeratan masalah ekonomi tersebut.
Penjualan Komoditas di Hindia Belanda Mengalami Kemerosotan
Peristiwa ini juga berdampak pada penjualan komoditas kolonial yang semakin hari semakin merosot.
Tak ada lagi orang-orang Eropa yang memesan komoditas rempah ke Hindia Belanda. Tak ada lagi barang ekspor yang siap dikirim di pelabuhan, situasi lesunya ekonomi ini begitu parah.
Adapun beberapa komoditas yang penting dan laku di pasaran Eropa saat itu adalah Bahan Tekstil, Kertas, Karet, dan Bambu.
Saking tidak terkendalinya perekonomian di Hindia Belanda, banyak orang Eropa yang memilih pergi kembali ke negara asalnya.
Keluarga Tanzil S. Pamoentjak Membuka Lapangan Kerja
Adapun ayah dari Djohan Sjahroezah bernama Tanzil S. Pamoentjak yang berasal dari orang kaya kemudian membuka lapangan pekerjaan.
Lapangan kerja keluarga Tanzil ini berasal dari uang tabungan sisanya bekerja sebagai pegawai pemerintahan kolonial.
Baca Juga: Sejarah Eksekusi Terkejam di Indonesia: Terpidana Mati Sekarat 8 Hari
Hal ini selaras dengan pernyataan Riadi Ngasiran dalam bukunya berjudul “Kesabaran Revolusioner Djohan Sjahroezah: Pejuang Kemerdekaan Bawah Tanah”, (2015: 66).
Zaman Malaise ini kemudian mengantarkan banyak para pekerja ke keluarga Tanzil. Para pekerja akhirnya memperoleh biaya untuk membeli sesuap nasi untuk makan keluarganya di rumah.
Dengan Membuka Lapangan Kerja, Keluarga Tanzil Membentuk Kepercayaan Nasionalisme
Masih menurut Riadi Ngasiran (2015: 67), dengan membuka lapangan kerja, Tanzil dan keluarganya telah membentuk kepercayaan nasionalisme kepada para buruh.
Hal ini terjadi karena mereka merasa memiliki nasib yang sama, yaitu sebagai kelompok buruh yang tertindas dan merasa harus bebas dari segala perintah kolonial.
Mereka membandingkan kerja antara pihak kolonial dan kepada seorang atasan yang berasal dari pribumi (yang dimaksud keluarga Tanzil S. Pamoentjak).
Para buruh yang bekerja di sana kemudian mengatakan lebih bebas, dan nyaman bekerja sebagai buruh di perusahaan yang dimiliki orang pribumi layaknya keluarga “pak Tanzil”.
Selain dibayar dengan jumlah yang sesuai, mereka juga merasa diajarkan untuk menabung dan memanfaatkan koperasi dengan benar.
Sebab pada zaman itu, Bung Hatta mulai aktif dan memanfaatkan beberapa koperasi yang dibentuk sebelum Malaise terjadi tahun 1929 untuk kegiatan simpan pinjam orang-orang pribumi.
Peristiwa Malaise Membantu Pribumi Menjadi Pengusaha
Meskipun membebani keadaan ekonomi negara, pemerintah, dan penduduknya, peristiwa Malaise yang terjadi tahun 1930 ternyata telah membantu pribumi menjadi pengusaha.
Hal ini bisa kita lihat dari adanya kemunculan profesi pribumi dari tahun 1930-1945 yang baru dan berbasis wiraswasta.
Semisal ada yang membuka perusahaan; kursus tenun, membuka bank-bank daerah, dan beberapa koperasi di berbagai kota-kota besar seperti di Batavia, dan Yogyakarta.
Baca juga: Kumpulan Artikel Sejarah Indonesia
Selain itu, tumbuh juga jenis usaha yang berbasis kerajinan lokal. Nah itulah penggalan sejarah Zaman Malaise. Dengan berkaca pada sejarah, semoga kejadian itu tak terulang untuk kedua kalinya. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)