Salah satu fakta sejarah kerusuhan anti Cina di Indonesia yang jarang terungkap adalah pemerintah Republik Rakyat Tiongkok (RRT) ternyata pernah mengancam untuk memutuskan hubungan kenegaraan dengan Indonesia.
Sebagaimana yang sudah-sudah, konflik orang Cina ini antara lain karena faktor ras. Selain itu, kelompok yang disebut dengan masyarakat Hokkian ini kerap mengalami diskriminasi.
Baca Juga: Misionaris Kristen di Jawa Tahun 1920 dan Upaya PKO Membendungnya
Hal inilah salah satu yang menyebabkan Kedutaan Besar RI untuk RRT terancam putus hubungan kenegaraan.
Beginilah 5 Fakta Sejarah Kerusuhan Anti Cina di Indonesia Zaman Orba
Fakta-fakta berikut ini akan membantu Anda untuk memahami posisi strategis RRT bagi Indonesia saat itu.
Kerusuhan Anti Cina Meningkat dari Tahun ke Tahun
Sejak masa kolonial Belanda, hingga masa transisi Orde Baru ke Reformasi, kerusuhan yang sering terjadi pada golongan mereka meningkat dari tahun ke tahunnya.
Bayangkan saja betapa sedihnya mereka ketika merasa kelompok pribumi tidak mengharapkan mereka sama sekali. Bahkan yang ada mereka hanya menjadi penyebab kerusuhan yang terjadi dari waktu ke waktu.
Nah ketika meletus kerusuhan anti Cina di Indonesia pada era pemerintah Presiden Suharto, pemerintah Orde Baru ini cenderung pasif dan lalai dalam menanggapi kerusuhan.
Sepertinya tidak ada sama sekali tindakan yang bersifat menahan kerusuhan. Sebaliknya yang ada justru pemerintah orde baru seperti mempersilahkan konflik ini terus berkepanjangan.
Baca Juga: Penjara Wanita Zaman Belanda, Tahanan Disiksa Sampai Gangguan Jiwa
Penelitian Charles A. Coppel berjudul “Tionghoa Indonesia Dalam Krisis”, (1997: 153) mengungkapkan bahwa pemerintah terancam putus hubungan dengan RRT apabila mereka tidak bertindak untuk menenangkan kerusuhan tersebut.
Selain itu, pemerintah juga berupaya untuk tenang dan memiliki prinsip alias tidak takut dengan ancaman RRT, tatkala RRT berencana untuk memutuskan hubungan kenegaraan.
Rencana Menantang RRT Ternyata Gertakan Politik dari Orde Baru
Meskipun terlihat gagah dan berani dengan menantang RRT untuk memutuskan hubungan. Menurut catatan sejarah kerusuhan Cina di Indonesia itu hanya merupakan gertakan pemerintah Orde Baru.
Tujuannya untuk untuk menunjukan pemerintahan yang dipimpin Presiden Kedua RI ini tidak takut oleh siapapun.
Alih-alih jadi solusi, hal ini justru menjadi pemicu masalah yang sangat berarti bagi kerusuhan-kerusuhan anti Cina kala itu.
Bahkan pada saat itu banyak para pengusaha kaya yang berasal dari golongan Cina di Indonesia. Mereka berusaha mematuhi peraturan negara untuk lebih memiliki sikap yang moderat dan rajin bekerjasama dengan pemerintah.
Setelah mereka sepakat akan hal itu, baru kerusuhan yang sudah di ujung tanduk itu bisa diredam, dan tidak ada lagi isu rasial bagi kalangan orang Cina pasca reformasi hingga saat ini.
Pemerintah Orba Pernah Menutup Sekolah Asing
Menutup sekolah asing ternyata merupakan salah satu program pemerintah Orba untuk meredam isu-isu rasial yang ada di Indonesia. Termasuk juga menutup sekolah khusus orang Cina.
Namun langkah pemerintah dinilai buruk menanggapi hal ini. Bahkan RRT pernah mengecam untuk putus hubungan dengan Republik Indonesia karena tingkahnya ini.
Baca Juga: Asal-Usul Masyarakat Jawa, Sejarawan Kolonial Menyebut Berasal dari Laut Merah
RRT yang pada saat itu pernah dekat dengan Presiden pertama Sukarno juga merasa kecewa dan menyesali pemerintah Indonesia akan hal ini.
Sukarno Lengser 11 Maret 1966, Masyarakat Cina Indonesia Hilang Perlindungan
Sejarah kerusuhan anti Cina di Indonesia juga mengungkapkan bahwa, ketika lengsernya Sukarno pada tanggal 11 Maret 1966, banyak masyarakat Cina yang ada di Indonesia hilang perlindungan.
Mereka semakin sulit mencari kenyamanan hidup pada masa pemerintah Orde Baru. Zaman ini membuat etnis Cina dijadikan sebagai alat politik. Tujuannya untuk melancarkan kepentingan negara yang kemudian menimbulkan kecurigaan yang negatif di kalangan pribumi.
Hal ini juga yang menjadi pemicu terjadinya kerusuhan-kerusuhan yang tidak diinginkan oleh orang mereka, dan fenomena ini terus berjalan hingga tiga puluh dua tahun lamanya.
Para Peneliti Sosial Menilai Negatif Keputusan Pemerintah Orba
Saat RRT mengancam putus hubungan dengan Republik Indonesia, Pemerintah Orba menganggap itu sebagai lelucon yang tak perlu dipertimbangkan. Sikap itu justru menuai banyak pertentangan dari masyarakat.
Salah satu yang menarik dari peristiwa ini adalah respon para peneliti sosial tak terkecuali dengan Charless A. Coppel yang kemudian menilai fenomena ini sebagai keberanian yang tak terukur.
Saat itu penduduk Cina menjadi salah satu penyumbang ekonomi terbesar bagi Indonesia. Lahirnya para pengusaha sukses dari ras ini menjadi faktor pendukung keuangan negara.
Jika pada saat itu hubungan RRT dan RI putus, bayangkan saja bagaimana orang Cina yang katanya penyumbang ekonomi negara itu terpaksa pulang ke negaranya.
Nah itulah sedikit uraian dari fakta-fakta yang belum terungkap dari sejarah kerusuhan anti Cina di Indonesia. Terutama pada masa pemerintahan Orde Baru. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)