Sejarah kelompok Pathuk di Yogyakarta tampaknya sangat seru dan menarik untuk kita bahas. Hal ini karena ada peran Soeharto dan seorang spionase PKI bernama Sjam Kamaruzzaman.
Intelijen PKI itu dikenal banyak sejarawan, sebagai sosok yang pernah dekat dengan pak Harto masa muda.
Mereka bergabung dalam kelompok Pathuk yang hobinya melakukan sabotase gelap.
Hal ini sebagaimana ungkapan sejarawan Indonesia Agung Dwi Hartanto dalam bukunya berjudul “The Missing Link G30S: Misteri Sjam Kamaruzzaman dan Biro Chusus PKI”, (2011: 4).
Baca juga: Sejarah Biro Chusus PKI, Mata-Mata Komunis Kontroversial yang Masih Teka-teki
Kisah Menarik dari Sejarah Kelompok Pathuk
Adapun pada kesempatan kali ini, artikel kami bermaksud untuk menguraikan kembali sejarah yang masih tersembunyi atau disembunyikan.
Dengan mengangkat kisah kedekatan Soeharto dengan Tokoh Komunis penting bernama Sjam Kamaruzzaman, tampaknya menjadi sebuah euforia dari kebebasan menulis sejarah saat ini.
Sejarah Sjam Kamaruzzaman Kenal Kelompok Pathuk dari Sekolah Taman Siswa
Agung Dwi Hartanto menyebutkan, Intelijen hebat PKI ini pertama kali kenal kelompok Pathuk karena temannya yang sekolah di Taman Siswa.
Kisah ini bermula saat Sjam putus sekolah pada tahun 1942. Namun karena kegigihannya menuntut ilmu, akhirnya ia kembali nekat untuk sekolah di Yogyakarta pada tahun 1943.
Selepas berada di Yogyakarta, Sjam kemudian mendaftar dan sekolah di sekolah menengah dagang.
Sementara dulu waktu di Surabaya ia putus saat menyelesaikan studinya di jurusan pertanian.
Di sela-sela lenggangnya waktu bersekolah, ia pun diajak main dan berdiskusi soal gerakan bawah tanah dengan para pemuda Pathuk di Yogyakarta.
Karena jiwa yang berani tumbuh sejak remaja, bagi Sjam Kamaruzzaman kalau sekadar mencelakai serdadu Jepang itu hal yang biasa.
Akhirnya banyak di antara para pemuda Pathuk yang melakukan hal tersebut. Bahkan tak jarang mereka mencelakai serdadu Jepang hingga tewas secara mengenaskan.
Baca juga: Ideologi Komunis di Indonesia: Menyusup ke Sekolah, Berkembang Lewat Jalur Kereta
Sjam dan Teman-teman Pathuk Memburu Tentara Jepang
Peran Sjam, masih dalam sejarah kelompok Pathuk, tidak sampai mencelakai serdadu Jepang hingga tewas secara mengenaskan.
Intelijen berpangkat tinggi dalam tubuh PKI ini juga makin percaya diri tatkala dia bergabung dengan kawan-kawannya, termasuk Soeharto dalam kelompok pemuda Pathuk.
Mereka tergabung dalam kelompok militer bawah tanah yang bertugas mencelakai tentara Jepang yang lewat jalan Kota Baru, setelah usai bermain dengan pelacur di sekitar stasiun Pasar Kembang.
Hal ini mereka lakukan sekitar September tahun 1945. Kekerasan yang sering itu kian hari makin dikenal oleh kalangan luas. Bahkan tentara Jepang saat itu sampai ketakutan.
Baca juga: PKI dan Sarekat Islam, Sejarah Dua Kompetitor Politik yang Saling Sindir
Ki Hadjar Dewantara Tahu Aksi Kelompok Pathuk
Menurut catatan sejarah kelompok Pathuk, aksi yang sering mereka buat di Kota Baru makin diketahui oleh para sesepuh kebangsaan, yaitu Ki Hadjar Dewantara.
Pelopor pendidikan Taman Siswa itu menyarankan para pemuda Pathuk untuk menghentikan aksinya. Sebab, hal ini bisa memicu timbulnya perpecahan antara Jepang dan masyarakat sekitar.
Tentu situasi kacau seperti ini tidak ada yang menginginkan. Maka dari itu kemudian Ki Hadjar memberikan arahan agar mereka kembali pada jalan yang benar.
Selain itu, beliau juga membuatkan satu wadah pelatihan militer bernama Pembela Tanah Air (PETA) sebagai salah satu ranah latihan pemuda dalam menggunakan senjata api.
Pada akhirnya juga PETA bermanfaat bagi para pemuda untuk mengusir Jepang dan Belanda pada zaman Agresi Militer di Indonesia. Saran Ki Hadjar sangat membantu dan menginspirasi pemuda.
Turunkan Bendera Jepang
Masih menurut Agung Dwi Hartanto, rupanya Sjam Kamaruzzaman dengan teman-temannya yang juga mantan anggota Pathuk pernah secara ramai menurunkan Hinomaru di Istana Agung.
Istana Agung Yogyakarta saat ini menjadi istana Presiden yang terletak di jalan ujung Malioboro.
Di sana mereka berebut aksi menurunkan bendera Jepang pasca kekalahannya pada Sekutu (1945).
Dalam catatan sejarah kelompok Pathuk, Sjam dan kawan-kawannya juga pernah mengintimidasi para anggota PETA yang masih bersikeras patuh pada kekuasaan Jepang di Yogyakarta.
Mereka lakukan intimidasi dengan cara mengacung-acungkan senjata api (tanpa ditembak) yang merupakan senjata hasil rampasan dari gudang peluru Jepang di Kota Pelajar tersebut.
Pernah Dekat dengan Pak Harto Muda
Kedekatan kepala biro chusus PKI urusan Intelijen ini dengan Pak Harto makin terbuka di publik.
Hal ini sebagaimana catatan Agung Dwi Hartanto (2011: 4) yang menyebutkan bahwa Sjam kerap sekali menginap di rumah Soeharto yang ada di Yogyakarta.
Selain itu, ia juga pernah satu pasukan perang dengan Soeharto pada saat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 berkecamuk.
Desas-desus saat itu Sjam juga terkenal sebagai sosok yang loyal terhadap pasukannya, hingga membawanya kenal pada CIA dan badan Intelijen Belanda bernama Recomba.
Baca juga: Kumpulan Artikel Sejarah PKI
Hal inilah yang paling unik dan mengejutkan dari sejarah kelompok pathuk. Hingga saat ini kisah tersebut masih tersembunyi yang diselimuti misteri. (Erik/R6/HR-Online)