Masyarakat Tionghoa senang hidup berkelompok, hal tersebut bukannya tanpa alasan. Mereka kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi dari pribumi. Lantas bagaimana sebenarnya sejarah diskriminasi masyarakat Tionghoa di Indonesia?
Tak banyak orang yang paham bagaimana sejarah budaya masyarakat asal Timur Asing ini berlalu. Pada zaman kolonial dahulu kelompok tersebut sering dipandang negatif oleh para pribumi.
Adapun artikel singkat ini bertujuan untuk membahas beberapa alasan, mengapa orang Tionghoa di Indonesia gemar berkelompok dan takut diskriminasi.
Mengulas Sejarah Diskriminasi terhadap Tionghoa di Indonesia
Orang Tionghoa biasa juga disebut dengan Cina, merupakan sebuah kelompok asal Timur Asing yang hobi melakukan migrasi.
Hal ini nampaknya menjadi salah satu alasan terpenting dari sejarah masyarakat Cina yang ada di Indonesia hingga saat ini.
Namun di dalam perkembangannya, mereka ternyata kurang bisa beradaptasi dengan baik. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan pribumi mendiskriminasi kelompok mereka.
Stereotip Orang Tionghoa di Indonesia Negatif
Charles A. Coppel dalam penelitiannya berjudul “Tionghoa Indonesia Dalam Krisis”, (1994: 26), mengungkapkan sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia berasal dari stereotip negative terhadap masyarakat Cina.
Baca Juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik
Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab mengapa mereka hobi berkumpul dengan ras-nya dan cenderung takut akan adanya diskriminasi dari para pribumi.
Para pribumi menengah terus menggaungkan stereotip negatif tersebut melalui surat kabar. Seperti halnya surat kabar yang menjelekan satu ras.
Terkadang mereka mengungkapkan bahwa orang-orang Asing itu hidupnya suka berkelompok. Mereka menjauhkan diri dari pergaulan sosial, dan lebih suka tinggal di kawasan tersendiri.
Sejarah diskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia juga mencatat pandangan pribumi yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak mencintai tanah air.
Adapun jika orang asal Tiongkok tersebut membela tanah air, maka pribumi menganggap mereka terpaksa atau karena adanya kepentingan oportunis saja.
Mementingkan Uang Daripada Asas Kekeluargaan
Penelitian Copple (1994: 25-26), menyebutkan pula bahwa orang Tionghoa ini hobinya mementingkan uang saja daripada mengutamakan asas kekeluargaan.
Berbeda halnya dengan masyarakat pribumi yang saat itu mengalami kesusahan. Mereka lebih memilih asas kekeluargaan untuk pertolongan hidup sesama bangsa.
Selain mementingkan uang, rupanya kebencian pribumi terhadap para asing ini disebabkan oleh kecemburuan sosial.
Banyaknya kelompok Tionghoa yang diberikan kedudukan penting oleh pemerintah kolonial Belanda, yang menyebabkan mereka mampu mendominasi ekonomi Indonesia pada masa berikutnya. Hal ini tentu menjadi masalah bagi kehidupan sosial antara Tionghoa dan pribumi.
Baca Juga: Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah
Sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia mencatat, selain karena mereka mampu mendominasi ekonomi negara, ternyata mereka juga terlibat dalam masalah subversif ekonomi.
Sebagaimana Coppel menyebut, “akar budaya penyogokan dan penyelundupan yang paling baik di Indonesia saat ini, ternyata berasal dari kebiasaan buruk masyarakat Tionghoa pada era kolonial dahulu”.
Mempersempit Kawasan Tempat Tinggal
Karena kebiasaan hidupnya yang takut dengan eksistensi pribumi, banyak warga Tionghoa yang akhirnya mempersempit kawasan tempat tinggal di berbagai daerah.
Sebut saja misalnya pembangunan kampung Cina atau China Town. Perkampungan Cina yang sekarang sering kita jumpai ini, awalnya merupakan pola kekhawatiran mereka terhadap adanya ancaman diskriminasi dari para penduduk pribumi.
Selain karena sulit bergaul dan hobi berkelompok, sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia juga menyebutkan para pribumi kesal karena kebiasaan tinggal di kawasan tertentu ini identik dengan budaya masyarakat Yahudi bernama Ghetto.
Selain itu juga, secara tidak langsung mereka mampu mendominasi wilayah perkotaan. Tidak saja mendominasi secara sosial, tetapi juga ekonomi dan budaya terkena dampak negatif yang besar.
Diangkat Menjadi Mandor Pengawas Kolonial Belanda
Kecemburuan sosial juga sering muncul dari para pribumi sejak zaman kolonial Belanda. Semenjak orang kolonial datang ke Hindia Belanda, masyarakat asing sering dijadikan sebagai staff penting pemerintah.
Misalnya saja terdapat orang Tionghoa yang diangkat menjadi mandor pengawas untuk mengurusi migrasi yang terjadi dari belahan Timur Asing.
Dalam catatan sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia menyebutkan, setelah banyaknya mandor yang berasal dari Tionghoa ini, kemudian membuat mereka semakin berpencar ke wilayah pedesaan, dan setelah mendominasi perkotaan mereka juga menguasai wilayah pedesaan.
Sejarah Tionghoa di Indonesia mencatat, terdapat 30.000 jiwa yang berasal dari Tiongkok, masuk dan tinggal di wilayah pedesaan Jawa pada tahun 1890.
Baca Juga: Sejarah BAPERKI, Organisasi Sosial Tionghoa yang Dicap Identik dengan PKI
Menara Pusat Orang Tionghoa di Sumatera dan Kalimantan
Di Sumatera, ribuan orang Hokkian didatangkan untuk bekerja menjadi kuli di perkebunan tembakau. Sementara sebagiannya bekerja sebagai penambang timah.
Sedangkan di Kalimantan, banyak orang Timur Asing ini melakukan migrasi demi bekerja sebagai penambang emas.
Bahkan hingga tahun 1930, tercatat banyak masyarakat Tionghoa yang sukses menjadi penambang emas di Kalimantan, dan memilih hidup di perkotaan dengan gaya berkualitas.
Nah begitulah sejarah Tionghoa di Indonesia yang perlu Anda ketahui termasuk awal mula diskriminasi yang mereka hadapi dari pribumi. Ternyata selain hidupnya suka berkelompok, diskriminasi itu muncul karena keresahan orang pribumi terhadap orang Tionghoa yang selalu memiliki nasib yang mujur. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)