Sabtu, April 5, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah Diskriminasi Tionghoa di Indonesia yang Dianggap Selalu Mujur

Sejarah Diskriminasi Tionghoa di Indonesia yang Dianggap Selalu Mujur

Masyarakat Tionghoa senang hidup berkelompok, hal tersebut bukannya tanpa alasan. Mereka kerap mendapatkan perlakuan diskriminasi dari pribumi. Lantas bagaimana sebenarnya sejarah diskriminasi masyarakat Tionghoa di Indonesia?

Tak banyak orang yang paham bagaimana sejarah budaya masyarakat asal Timur Asing ini berlalu. Pada zaman kolonial dahulu kelompok tersebut sering dipandang negatif oleh para pribumi.

Adapun artikel singkat ini bertujuan untuk membahas beberapa alasan, mengapa orang Tionghoa di Indonesia gemar berkelompok dan takut diskriminasi.

Mengulas Sejarah Diskriminasi terhadap Tionghoa di Indonesia

Orang Tionghoa biasa juga disebut dengan Cina, merupakan sebuah kelompok asal Timur Asing yang hobi melakukan migrasi.

Hal ini nampaknya menjadi salah satu alasan terpenting dari sejarah masyarakat Cina yang ada di Indonesia hingga saat ini.

Namun di dalam perkembangannya, mereka ternyata kurang bisa beradaptasi dengan baik. Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan pribumi mendiskriminasi kelompok mereka.

Stereotip Orang Tionghoa di Indonesia Negatif

Charles A. Coppel dalam penelitiannya berjudul “Tionghoa Indonesia Dalam Krisis”, (1994: 26), mengungkapkan sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia berasal dari stereotip negative terhadap masyarakat Cina.

Baca Juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik

Hal inilah yang kemudian menjadi salah satu penyebab mengapa mereka hobi berkumpul dengan ras-nya dan cenderung takut akan adanya diskriminasi dari para pribumi.

Para pribumi menengah terus menggaungkan stereotip negatif tersebut melalui surat kabar. Seperti halnya surat kabar yang menjelekan satu ras.

Terkadang mereka mengungkapkan bahwa orang-orang Asing itu hidupnya suka berkelompok. Mereka menjauhkan diri dari pergaulan sosial, dan lebih suka tinggal di kawasan tersendiri.

Sejarah diskriminasi terhadap masyarakat Tionghoa di Indonesia juga mencatat pandangan pribumi yang menganggap mereka sebagai orang yang tidak mencintai tanah air.

Adapun jika orang asal Tiongkok tersebut membela tanah air, maka pribumi menganggap mereka terpaksa atau karena adanya kepentingan oportunis saja.

Mementingkan Uang Daripada Asas Kekeluargaan

Penelitian Copple (1994: 25-26), menyebutkan pula bahwa orang Tionghoa ini hobinya mementingkan uang saja daripada mengutamakan asas kekeluargaan.

Berbeda halnya dengan masyarakat pribumi yang saat itu mengalami kesusahan. Mereka lebih memilih asas kekeluargaan untuk pertolongan hidup sesama bangsa.

Selain mementingkan uang, rupanya kebencian pribumi terhadap para asing ini disebabkan oleh kecemburuan sosial.

Banyaknya kelompok Tionghoa yang diberikan kedudukan penting oleh pemerintah kolonial Belanda, yang menyebabkan mereka mampu mendominasi ekonomi Indonesia pada masa berikutnya. Hal ini tentu menjadi masalah bagi kehidupan sosial antara Tionghoa dan pribumi.

Baca Juga: Jejak Budaya Tionghoa di Indonesia, Punya Bioskop dan Klenteng Mewah

Sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia mencatat, selain karena mereka mampu mendominasi ekonomi negara, ternyata mereka juga terlibat dalam masalah subversif ekonomi.

Sebagaimana Coppel menyebut, “akar budaya penyogokan dan penyelundupan yang paling baik di Indonesia saat ini, ternyata berasal dari kebiasaan buruk masyarakat Tionghoa pada era kolonial dahulu”.

Mempersempit Kawasan Tempat Tinggal

Karena kebiasaan hidupnya yang takut dengan eksistensi pribumi, banyak warga Tionghoa yang akhirnya mempersempit kawasan tempat tinggal di berbagai daerah.

Sebut saja misalnya pembangunan kampung Cina atau China Town. Perkampungan Cina yang sekarang sering kita jumpai ini, awalnya merupakan pola kekhawatiran mereka terhadap adanya ancaman diskriminasi dari para penduduk pribumi.

Selain karena sulit bergaul dan hobi berkelompok, sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia juga menyebutkan para pribumi kesal karena kebiasaan tinggal di kawasan tertentu ini identik dengan budaya masyarakat Yahudi bernama Ghetto.

Selain itu juga, secara tidak langsung mereka mampu mendominasi wilayah perkotaan. Tidak saja mendominasi secara sosial, tetapi juga ekonomi dan budaya terkena dampak negatif yang besar.

Diangkat Menjadi Mandor Pengawas Kolonial Belanda

Kecemburuan sosial juga sering muncul dari para pribumi sejak zaman kolonial Belanda. Semenjak orang kolonial datang ke Hindia Belanda, masyarakat asing sering dijadikan sebagai staff penting pemerintah.

Misalnya saja terdapat orang Tionghoa yang diangkat menjadi mandor pengawas untuk mengurusi migrasi yang terjadi dari belahan Timur Asing.

Dalam catatan sejarah diskriminasi Tionghoa di Indonesia menyebutkan, setelah banyaknya mandor yang berasal dari Tionghoa ini, kemudian membuat mereka semakin berpencar ke wilayah pedesaan, dan setelah mendominasi perkotaan mereka juga menguasai wilayah pedesaan.

Sejarah Tionghoa di Indonesia mencatat, terdapat 30.000 jiwa yang berasal dari Tiongkok, masuk dan tinggal di wilayah pedesaan Jawa pada tahun 1890.

Baca Juga: Sejarah BAPERKI, Organisasi Sosial Tionghoa yang Dicap Identik dengan PKI

Menara Pusat Orang Tionghoa di Sumatera dan Kalimantan

Di Sumatera, ribuan orang Hokkian didatangkan untuk bekerja menjadi kuli di perkebunan tembakau. Sementara sebagiannya bekerja sebagai penambang timah.

Sedangkan di Kalimantan, banyak orang Timur Asing ini melakukan migrasi demi bekerja sebagai penambang emas.

Bahkan hingga tahun 1930, tercatat banyak masyarakat Tionghoa yang sukses menjadi penambang emas di Kalimantan, dan memilih hidup di perkotaan dengan gaya berkualitas.

Nah begitulah sejarah Tionghoa di Indonesia yang perlu Anda ketahui termasuk awal mula diskriminasi yang mereka hadapi dari pribumi. Ternyata selain hidupnya suka berkelompok, diskriminasi itu muncul karena keresahan orang pribumi terhadap orang Tionghoa yang selalu memiliki nasib yang mujur. (Erik/R7/HR-Online/Editor-Ndu)

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Sejarah Tumenggung Kopek, Jejak yang Penuh Misteri

Tidak semua tokoh besar mendapat tempat dalam buku sejarah Indonesia. Beberapa nama tetap hidup melalui cerita lisan yang diwariskan turun-temurun. Sejarah Tumenggung Kopek adalah...
Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan Micra EV 2025, Transformasi Ikonik ke Era Listrik

Nissan baru saja memperkenalkan generasi terbaru dari Nissan Micra EV 2025. Mobil Nissan terbaru tersebut kini bertransformasi menjadi kendaraan listrik sepenuhnya. Nissan Micra atau...
Pemandian Air Panas

Menikmati Wisata Pemandian Air Panas Cileungsing Sumedang Saat Libur Lebaran

harapanrakyat.com,- Obyek wisata Pemandian Air Panas Cileungsing di Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Sumedang, Jawa Barat, kembali menarik ribuan wisatawan pada libur Lebaran 2025. Destinasi wisata ini...
Obyek Wisata Sepi Pengunjung

Obyek Wisata Sepi Pengunjung Saat Libur Lebaran, Wali Kota Banjar: Perlu Ada Perubahan

harapanrakyat.com,- Wali Kota Banjar, Jawa Barat, Sudarsono, menanggapi perihal sejumlah obyek wisata sepi pengunjung pada momen libur Lebaran 2025. Sudarsono mengatakan, Pemerintah Kota Banjar ke...
Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone Armor 30 Pro Rilis dengan Inovasi dan Fitur Canggih

Ulefone baru saja merilis Armor 30 Pro, sebuah smartphone tangguh yang menggabungkan daya tahan luar biasa dengan teknologi terkini. Dirancang khusus untuk pengguna yang...
Pergerakan Tanah di Neglasari

Pergerakan Tanah di Neglasari Ciamis, Sejumlah Rumah dan Jalan Desa Alami Kerusakan

harapanrakyat.com,- Akibat adanya pergerakan tanah di Neglasari, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, beberapa rumah warga mengalami kerusakan. Selain itu, ruas jalan desa juga mengalami...