Sejarah kolonial mencatat bahwa jalur rempah di Indonesia pertama kalinya bersumber dari pulau Jawa. Wilayah tersebut menyimpan banyak kekayaan alam sehingga menarik orang Barat.
Selain menarik karena kekayaan alam berupa rempah-rempah, pulau ini juga sebagai salah satu daratan paling strategis antara jalur perdagangan antara Eropa dan Asia Tenggara.
Baca juga: Sejarah Sarekat Abangan, Perkumpulan Ahli Mistik Jawa yang Berpolitik
Sejarah Jalur Rempah di Indonesia, Khusunya di Pulau Jawa
Jika kita mengulas jalur perdagangan yang terjadi sejak zaman kolonial, tentu sangat menarik, apalagi banyak fakta-fakta unik yang belum diketahui oleh banyak orang.
Salah satu yang menarik dari sejarah pulau Jawa ini antara lain, kisah sumber daya alam berasal dari hutan yang menghasilkan banyak keuntungan bagi orang Eropa.
Baca juga: Sejarah Senjata Tradisional Suku Jawa yang Beracun dan Mematikan
Pulau Jawa Paling Subur
Catatan arsip yang mengulas jalur rempah di Indonesia menyebut bahwa pulau Jawa pernah mendapatkan julukan wilayah paling subur yang ada di daratan Asia Tenggara.
Sebab pulau tersebut adalah sumber ladang bagi para petualang Eropa yang sedang mencari komoditas rempah-rempah yang paling laku di pasaran dunia.
Selain mencari rempah-rempah, pulau Jawa juga sangat strategis apabila menjadi pusat kolonial menanam modal produksi dari hasil menjual komoditas tersebut.
Adapun yang paling penting, sebagaimana Raffles katakan, pulau Jawa merupakan satu-satunya daratan di dunia yang bisa menghasilkan negara kompeni menjadi kaya dan sejahtera.
Kelompok Kolonial Memanfaatkan Kerajaan di Jawa
Sejak bangsa Eropa datang ke Jawa, banyak di antara para kompeni kolonial yang akhirnya memanfaatkan kerajaan di Jawa terutama dalam hal kepentingan dagang.
Sejarah jalur rempah di Indonesia mencatat bahwa orang kolonial sangat pandai dalam hal menipu kerajaan lokal yang ada di Jawa.
Hal ini sebagaimana catatan J.J. Stockdale dalam bukunya berjudul “The Island of Java”, (2016: 241). Ia menyebut bahwa orang kolonial telah melakukan rekayasa jabatan kerajaan Jawa.
Rekayasa tersebut adalah sebuah politik mengalah untuk menang orang Eropa pada elit kerajaan lokal yang ada di Jawa.
Meskipun demikian, mereka tidak sepenuhnya mengalah. Tetap saja ia menempatkan diri sebagai seorang golongan yang berasal dari ras tertinggi, meski dengan orang Jawa sekalipun ia adalah raja.
Orang Jawa Diperbudak oleh Kelompok Kolonial
Fenomena memanfaatkan elit kerajaan lokal yang ada di Jawa, akhirnya pemerintah kolonial secara tidak langsung bisa memperbudak seluruh rakyatnya.
Hal ini karena dalam perjanjian sebelumnya, orang kolonial akan bekerjasama dengan raja untuk kepentingan dagang yang melimpah asal di bantu oleh kekuatan rakyatnya.
Sejarah jalur rempah Indonesia juga mengungkapkan bahwa hal ini merupakan satu kekeliruan dari elit lokal kerajaan yang saat itu tumbuh di pulau Jawa.
Sementara pendapat lain menyebutkan bahwa hal ini terjadi karena banyak raja-raja saat itu yang tidak ingin kehilangan jabatannya, mengingat orang kolonial sudah mendominasi pulau Jawa.
Pribumi Tertekan
Sejak terjadi perbudakan oleh kelompok kolonial, banyak di antara para pribumi yang akhirnya tertekan. Sebab, harus menyetorkan hasil alam secara paksa untuk orang Eropa.
Dalam sejarah jalur rempah Indonesia juga menyebut bahwa pada tahun 1602 orang kolonial yang mendominasi adalah orang Belanda yang mana mendirikan kongsi dagang bernama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie).
Sejak saat itulah masyarakat pribumi yang ada di Jawa tumbuh menjadi golongan dengan mental perbudakan. Jiwanya terkonstruk untuk patuh dan hormat pada kolonial hingga tahun 1945.
Meskipun demikian, kebiasaan buruk ini justru menjadi kunci paling tepat untuk kemudian mengadakan banyak perlawanan agar terlepas dari belenggu penjajahan.
Jumlah Penduduk Jawa tahun 1738-1777 Mengalami Penurunan
Pada saat rakyat pribumi menyadari ini merupakan penjajahan dari orang kulit putih, akhirnya pemberontakan terjadi di mana-mana.
Salah satu yang paling terkenal adalah meletusnya pemberontakan Diponegoro yang terjadi di Yogyakarta, dan wilayah Jawa Tengah sekitarnya.
Terjadi sejak tahun 1830 sampai dengan 1835. Hal ini juga menjadi salah satu sebab penurunan jumlah penduduk yang ada di Jawa. Nah begitulah kisah jalur rempah Indonesia yang perlu kita ketahui sebagai salah satu pembelajaran sejarah kepulauan di Indonesia. Semoga bermanfaat. (Erik/R6/HR-Online)