Kamis, April 3, 2025
BerandaBerita TerbaruSejarah PKI Madiun 1948, Musso Pemimpin Komunis yang Terlatih dari Soviet

Sejarah PKI Madiun 1948, Musso Pemimpin Komunis yang Terlatih dari Soviet

Jika kita membicarakan sejarah PKI Madiun 1948, maka tidak akan ada habisnya. Obrolan akan semakin panjang seperti, mulai dari sejarah pemberontakan yang gagal, hingga kisah pemimpin komunis terlatih dari Uni Soviet bernama Musso.

Pria yang identik dengan peci hitam di kepala ini memiliki peran andil dalam pemberontakan PKI yang terjadi di Madiun, Jawa Timur pada tahun 1948.

Ia menjadi salah satu tokoh paling bertanggungjawab atas terjadinya peristiwa tersebut.

Maka ketika ia tertangkap operasi militer untuk membasmi PKI 1948, tak lama kemudian eksekusi mati menghampirinya.

Dalam historiografi Indonesia, Musso sering terkenal sebagai pemberontak yang bodoh, tapi beberapa fakta menarik tentang tokoh radikal ini sangat mengejutkan.

Nah, pada kesempatan ini akan kami jelaskan, apa saja fakta menarik tentang Musso yang belum banyak terpublikasi.

Baca juga: Sejarah G30 S, Pemberantasan PKI di Banyuwangi yang Berakhir Tragis

Fakta-Fakta dari Sejarah PKI Madiun 1948

Belakangan Musso terkenal sebagai pemimpin PKI pasca peristiwa pemberontakan 1926-1927.

Ia juga pernam menjadi pentolan PKI Madiun yang sukses karena lolos dan kabur ke Uni Soviet, pasca pemberontakan PKI pertama di Hindia Belanda.

Selain pernah kabur ke Uni Soviet untuk pelarian, ia juga ternyata belajar gerakan-gerakan komunis yang tepat.

Pria bertubuh gempal ini juga merupakan salah satu kepercayaan Stalin dalam mengelola komunis di Indonesia.

Baca juga: Sejarah Pemberontakan PKI Madiun, Tragedi Berdarah Penuh Trauma

Pernah Kabur ke Uni Soviet

Pasca gagalnya pemberontakan komunis pada tahun 1926-1927 di Hindia Belanda, para pentolan komunis, tak terkecuali Musso kabur ke Uni Soviet.

Selain pergi karena pelarian, Musso juga memiliki misi di sana. Ia berupaya membangun komunis yang besar di wilayah Asia Tenggara, khususnya Hindia Belanda.

Kurang lebih 21 tahun, semenjak peristiwa berdarah yang gagal itu berlalu, pria yang memiliki julukan Paul Mussotte ini akhirnya kembali dari Soviet ke Indonesia.

Ia kembali bersama dengan konsul republik Indonesia bernama Soeparto pada tahun 1948. Hal ini sebagaimana tergambar dalam penelitian H. A. Poeze dalam “Madiun 1948 : PKI Bergerak”, (2011: 14).

Baca juga: Sejarah Tan Malaka, Pernah Buron hingga Menyamar dari Kejaran Komintern

Musso Kepercayaan Stalin dalam Mengelola Komunis di Indonesia

Berbeda dengan Tan Malaka yang cenderung memberontak dengan komunis Internasional, tampaknya lelaki asal Madiun yang lahir pada tahun 1897 ini sangat menurut dan tunduk dengan Komintern.

Sejarah PKI Madiun 1948 mencatat, Soemarsono seorang kolega Musso pernah mengatakan, sebelum berangkat ke Indonesia, Stalin menginstruksikan anak buahnya ini untuk mengelola PKI.

Stalin menginginkan kehadiran mereka berdua di Indonesia bisa membuat PKI selamat dari berbagai jebakan Amerika Serikat.

Tokoh komunis Uni Soviet yang terkenal sifat otoriternya yang kejam itu, menginginkan Indonesia sebagai negara yang memiliki sumbangsih besar untuk mengembangkan paham-paham komunis.

Pernah Menjadi Sekretaris Konsul Republik di Prague

H. A. Poeze (2011: 23) mengatakan, Soeripno seorang konsul Republik di Prague pernah mempekerjakan Musso sebagai sekretaris di kantornya.

Hal ini dipilih karena ia memiliki semangat yang tinggi untuk merancang konsep-konsep hubungan Uni Soviet dengan Republik Indonesia.

Selain itu, pemuda yang lama tinggal di Uni Soviet ini memiliki pemahaman yang cenderung luas tentang negara tirai besi tersebut.

Atas dasar kepercayaan dan kemampuan yang bisa dipertimbangkan ini, Soeripno menaruh perhatian khusus kepada sang kolega komunis asal Madiun dengan menjadikannya sekretaris.

Musso Menyusun Jalan Baru PKI

Selama menjadi sekretaris kedutaan besar RI di Prague, Musso bekerja pada Soeripno. Ia terarah untuk menyusun kembali risalah pergerakannya yang berjudul “Jalan Baru PKI”.

Secara teratur ia melapor ke Moskow tentang perkembangan gerakannya. Sembari dipantau oleh Stalin, Musso juga membuat konsep untuk mengembangkan komunis di Indonesia versi Soviet.

Sebab, menurut catatan sejarah PKI Madiun 1948, mengetahui Musso akan segera terbang ke Indonesia untuk urusan perjuangan.

Risalah yang sudah disiapkan itu tentu menjadi penting untuk menjelaskan perjuangan komunis pada para simpatisannya yang ada di Madiun dan sekitarnya.

Pemuda Jawa yang Lama di Soviet dan Pandai Bersilat Lidah

Pada tanggal 13 Agustus 1948, Soeripno (Kedubes Soviet) dengan pemuda Jawa yang selalu memakai kemeja putih itu akhirnya sampai di Istana Yogyakarta.

Mereka sampai ke Istana Agung Yogyakarta sekitar pagi menjelang siang. Sejarah PKI Madiun 1948 menggambarkan bagaimana Soekarno yang sangat berbahagia ketika Musso dan Soeripno tiba menghampiri dirinya.

Sukarno sangat berharap akan kehadiran kawan lamanya itu, terutama ikut andil dan berjuang untuk mempertahankan kedaulatan RI.

Tak panjang lebar, Musso membalas harapan Sukarno dengan senyuman yang diiringi ucapan dalam bahasa Belanda “ik kom hier om orde te scheppen” yang berarti “saya datang untuk menciptakan ketertiban”.

Namun perkataan manisnya itu hanya strategi penipuan belaka. Sebab tak lama kemudian kerusuhan karena PKI yang dipimpin Musso ini terjadi di Madiun.

Inilah sejarah PKI Madiun 1948 yang belum banyak terpublikasi. Dengan mempelajari penemuan-penemuan baru seperti ini, secara tidak langsung kita belajar mengenai pengertian sejarah yang sesungguhnya. (Erik/R6/HR-Online)

Jalur selatan Garut padat sejak pagi

Jalur Selatan Garut Padat Sejak Pagi, Arus Wisata dan Arus Balik Mendominasi

harapanrakyat.com,- Jalur selatan Garut, Jawa Barat, kembali padat oleh kendaraan sejak pagi, Kamis (3/4/2025). Kendaraan yang mengarah ke arus wisata dan sebagian arus balik...
anak disabilitas tertinggal di Sumedang

Orang Tuanya Panik Kejar Tas dalam Bus, Anak Disabilitas Tertinggal di Sumedang

harapanrakyat.com,- Seorang anak perempuan penyandang disabilitas bernama Alula Wafa Salsabila (8) tertinggal orang tuanya usai turun dari bus angkutan balik lebaran di Bundaran Binokasih,...
Wisatawan asal Bandung yang hilang di Pantai Pangandaran ditemukan meninggal dunia

Wisatawan Asal Bandung yang Hilang di Pantai Pangandaran Ditemukan Meninggal

harapanrakyat.com - Wisatawan asal Bandung yang hilang di pos 4 Pantai Barat Pangandaran bernama Suhendar, akhirnya ditemukan dalam keadaan meninggal dunia Kamis (3/4/2025). Tim...
Sungai Citalahab di Kertahayu

Sungai Citalahab di Kertahayu Ciamis Meluap, Satu Keluarga Terjebak Banjir

harapanrakyat.com,- Sungai Citalahab di Kertahayu, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap, relawan Sigab Persis Ciamis lakukan evakuasi satu keluarga yang terjebak banjir di...
Kolam Ikan Milik Warga

Hujan Deras di Kota Banjar, Sawah hingga Kolam Ikan Milik Warga Terendam Banjir

harapanrakyat.com,- Hujan deras yang melanda wilayah Kota Banjar, Jawa Barat, pada Rabu (2/4/2025) sore menyebabkan area persawahan hingga kolam ikan milik warga di Dusun...
Anak Sungai Citalahab Meluap

Hujan Mengguyur Pamarican Ciamis Sebabkan Anak Sungai Citalahab Meluap, 12 Rumah Terendam

harapanrakyat.com,- Curah hujan yang terus mengguyur membuat anak Sungai Citalahab di Desa Sukahurip, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, meluap. Akibatnya 12 rumah di...