Sejarah pembacaan teks proklamasi begitu menarik untuk kita pelajari. Setelah para tokoh bangsa menyelesaikan penyusunan teks itu, tepatnya 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia siap berbondong-bondong menuju lapangan Ikada, Jakarta.
Antusias mereka untuk menyaksikan pembacaan teks proklamasi begitu luar biasa. Namun, karena ada beberapa hal membuat rencana itu gagal.
Baca juga: Sejarah Nama Indonesia, Ternyata Ahli Etnologi Jerman Pencetusnya
Karena minimnya informasi kepada rakyat Indonesia saat itu, membuat kekeliruan yang menimbulkan pertanyaan, mengapa pembacaan teks proklamasi tidak di lapangan Ikada.
Seputar Sejarah Pembacaan Teks Proklamasi Kemerdekaan
Gagalnya pembacaan teks itu di lapangan Ikada ternyata karena banyak pertimbangan, termasuk masalah keamanan Ir Soekarno saat membacakannya.
Nah, berikut adalah beberapa penjelasan menarik yang mungkin bisa menambah wawasan Anda. Lalu apa saja kisah menarik itu? Berikut ulasannya.
Menghindari Kerusuhan
Hal pertama yang menyebabkan tidak terjadinya pembacaan teks proklamasi di lapangan Ikada yaitu karena Sukarno dan Hatta menghindari kerusuhan yang mungkin akan terjadi dengan Angkatan Militer Jepang.
Hal ini karena pada waktu itu kekuatan militer Jepang masih berada penuh di Indonesia, jadi risiko untuk saling bertabrakan dengan kekuatan masa sangat tinggi.
Baca juga: Sejarah Penyusunan Teks Proklamasi, Kediaman Orang Jepang Jadi Tempatnya
Inisiatif ini ternyata yang mengusulkan adalah Laksamana Maeda. Ia menganjurkan agar membatalkan pembacaan di lapang itu lantara berisiko bentrok.
Halaman Depan Rumah Soekarno
Ketika Laksamana Maerda memberikan usul untuk tidak membacakan teks proklamasi di Lapangan Ikada karena berbagai hal yang berisiko, akhirnya Soekarno dan Bung Hatta pun menyepakatinya.
Saat itu juga mereka langsung menetapkan tempat proklamasi yang aman, yaitu membacakannya di rumah Soekarno yang berada di jalan pengangsaan timur, no. 56, Jakarta.
Peristiwa sejarah pembacaan teks proklamasi ini pun menarik perhatian, bahkan mengundang banyak orang untuk menyaksikan kejadian penting yang akan segera terjadi pada masa depan bangsa Indonesia.
Peran Fatmawati
Sebagaimana catatan Walentina Waluyanti Dejonge dalam “Soekarno Hatta bukan Proklamator Paksaan” (2015 : 376), Fatmawati telah ikut peran serta dalam proklamasi kemerdekaan ini.
Fatmawati menyediakan bendera Merah Putih yang dijahitnya sendiri sejak lama. Betapa hebatnya ibu negara saat itu, beliau sangat loyal dan bersedia mendukung cita-cita besar sang suami, dan seluruh rakyat Indonesia untuk merdeka.
Baca juga: Sabotase Kemerdekaan, Sejarah Sekitar Proklamasi yang Terlupakan
Hingga saat ini, kisahnya melekat di ingatan masayarakat. Apalagi ia berperan besar dalam pembuatan bendera yang mana sebagai lambang negara.
Rakyat Bekali diri dengan Senjata Rumah Tangga
Saat pembacaan teks proklamasi, sejarah mencatat bahwa waktu itu tak banyak orang yang tahu bagaimana keadaan yang sesungguhnya.
Sebagaimana Soekarno ceritakan keadaannya saat itu, rumahnya sesak penuh rakyat yang membekali diri dengan senjata seadanya.
Hal tersebut mereka lakukan demi melindungi Seokarno dan Hatta dari kemungkinan adanya serangan militer Jepang.
Adapun perkakas yang mereka bawa antara lain, seperti bambu runcing, cangkul, arit, golok, dan lain sebagainya.
Melihat antusias rakyat melindungi Soekarno, dan Hatta, maka kita bisa melihat bagaimana semangat bangsa Indonesia yang ingin merdeka dari penjajah.
Oleh sebab itu, kita tidak pantas menyianyiakan perjuangan mereka dengan perbuatan yang merendahkan negara tercinta.
Kehadiaran Tokoh Penting PPKI
Sejarah pun mencatat terdapat beberapa tokoh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) turut hadir dan menyaksikan pembacaan teks proklamasi. Diantaranya dr. Boentaran, Martoatmodjo, Mr. A.A Maramis, Mr. Latuharhary, Abikoesno Tjokrosujoso.
Selain itu, ada juga Anwar Tjokroaminoto, Harsono Tjokroaminoto, Otto Iskandardinata, Ki Hadjar Dewantara, dan Sam Ratulangie. Kemudian K.H Mas Mansur, Mr. Sartono, Sayuti Melik, Pandu Kartawiguna, M. Tabrani, dr. Muwardi, dan A.G Pringgodigdo.
Tidak Sesuai Harapan bukan Berarti Kegagalan
Pada intinya, setiap orang harus memiliki prinsip bahwa, ketika keinginan kita bersama tidak sesuai dengan apa yang diharapkan, maka jangan cepat putus asa, atau meyakini itu sebagai kegagalan. Cara berpikir seperti itu adalah langkah menuju kesalahan.
Baca juga: Sejarah Presiden Soekarno, Masa Kecilnya Pernah Sakit-sakitan
Hal ini sudah dibuktikan deretan peristiwa pada sejarah proklamasi, dimana sebelumnya sudah menetapkan lapangan Ikada sebagai tempat untuk mengumandangkan teks proklamasi, namun rencana yang sudah sepakat ini akhirnya batal secara mendadak.
Meskipun sejarah pembacaan teks proklamasi demikian, itu bukanlah sebuah kegagalan proklamasi di akhir perjuangan. Sebab Tuhan yang maha tahu, Tuhan sudah merencanakan rumah Soekarno, di Jl. Pegangsaan Timur, No. 56 sebagai tempat yang aman untuk memperoleh kemerdekaan bangsa dan negara. (Erik/R6/HR-Online)