Planet berair dekat Bumi terdeteksi. Untuk pertama kalinya para astronom mempelajarinya dengan Teleskop Luar Angkasa Hubble. Teleskop tersebut telah mengungkap uap air di atmosfer pada planet yang mempunyai ukuran hampir sama dengan Bumi. Jauhnya sekitar 111 tahun cahaya.
Kisaran orbit untuk air cair di permukaannya cukup hangat. Kemudian planet ekstrasurya ini mengorbit pada bintang yang lebih kecil dari Matahari kita. Sehingga planet ini berada dalam zona layak huni bintang.
Penemuan Planet Berair Dekat Bumi, Berpotensi Ramah Kehidupan
Profesor Giovanna Tinetti dari University College London (UCL) merupakan ilmuwan utama dari penemuan tersebut. Temuan pencarian kehidupan asing ini dikenal sebagai K2-18b. Hubble akan menentukan apakah planet berair dekat Bumi ini mengandung gas dari organisme hidup.
Melansir laman bbc, planet layak huni ini masuk dalam kategori Bumi super. Untuk mempunyai air cari antara nol hingga 40 derajat Celcius, suhunya cukup dingin. Zona layak huni merupakan wilayah yang memiliki suhu cukup ramah untuk keberadaan air dalam bentuk cair di permukaannya.
Namun, karena jaraknya terlalu jauh, yakni 650 juta mil dari Bumi, maka akan sulit mengirim probe. Salah satu caranya dengan menggunakan teleskop ruang angkasa untuk mencari gas di atmosfernya. Gas tersebut pada umumnya hanya dihasilkan oleh organisme yang hidup.
Namun astronom dari Universitas Harvard, Professor David Charbonneau mengatakan tentang fakta jika atmosfer pada planet berair dekat Bumi ini tidak mendukung adanya kehidupan. Pasalnya, Hubble tidak dapat mendeteksi secara detail karena atmosfer sekunder tipis mirip dengan Bumi.
Untuk molekul kompleks bahan penyusunnya terlalu tinggi dan suhunya sangat panas. Tekanan dan suhu akan meningkat pada kedalaman tertentu sebelum mencapai permukaan berbatu. Bagian dalam planet ini hampir mirip Neptunus dengan kecenderungan memiliki interior atu dan es.
Baca Juga: Planet Raksasa Kepler-1704b Berusia 7,4 Miliar Tahun
Kondisi Layak Huni
Para astronom belum dapat memberikan persetujuan tentang kondisi yang diperlukan untuk planet berair dekat Bumi ini sebagai planet layak huni. Untuk itu, butuh survei komposisi kimia dan pemahaman tentang revolusinya.
Pada Tata Surya kita, Bumi sangat menonjol karena memiliki kandungan oksigen, air, dan ozon. Hal tersebut diperlukan di sekitar planet Bumi untuk mendukung kehidupan.
Kemudian yang mendasari pentingnya memahami mengenai ratusan planet agar dapat mengungkap kehidupan layak huni, jadi bukan hanya sebagian kecil saja.
Klasifikasi planet Bumi super pada planet ini kurang tepat. Para astronom mengklaim jika K2-18b sebagai Neptunus mini. Masalahnya planet ini lebih masih dari Bumi super.
Baca Juga: Planet Ekstrasurya PDS 70c, Disk Circumplanetary Terdeteksi ALMA
Kemungkinan Hujan
Inti padat dari batu atau es pada K2-18b dikelilingi oleh selubung hidrogen yang tebal. Selain itu, terdapat gas lain termasuk uap air.
Berdasarkan data Hubble, Kepler, dan Teleskop Luar Angkasa Spitzer, tim dari Universitas Montreal telah mengukur kilau atmosfer sementara dari planet berair dekat Bumi.
Keberadaan fraksi uap air ini signifikan secara statistik di atmosfer planet tersebut. Tim kemudian menganggapnya sebagai petunjuk tetesan air yang mengembun lebih dalam.
Sama halnya seperti kejadian di Bumi, akan terdapat interaksi antara kondensasi dengan penguapan. Sehingga akan ada siklus air aktif antara awan dan bagian gas dari atmosfer.
Pada bagian atmosfer K2-18b mempunyai suhu dan tekanan yang cukup. Sehingga akan membentuk tetesan air cari. Kemudian akan membentuk awan dan jatuh sebagai hujan.
Kemungkinan tidak ada permukaan di bawah selubung gas tebal. Apabila sampai ada, mungkin akan mengalami tekanan tinggi. Sehingga tim memastikan planet tersebut tidak layak huni, namun kehidupan yang ada mungkin hanya semacam mikroba ekstrim.
Untuk meneliti uap air di atmosfer planet berair dekat dengan Bumi ini, para astronom menggunakan Hubble. Penemuan K2-18b akan memberikan pemahaman mengenai cuaca asing yang akan memperkuat para astronom dalam mencari exoplanet layak huni. Kondisi yang terjadi di K2-18b kemungkinan terbentuk air cair atau hujan.
Tim akan menjadikan planet berair dekat Bumi ini menjadi target penelitian lanjutan. Mereka akan menggunakan Teleskop Luar Angkasa James Webb NASA dan ARIEL Badan Antariksa Eropa di masa depan. Pasalnya, Hubble tidak dapat melihat gas atmosfer lainnya seperti amonia, metana, dan karbondioksida. (R10/HR Online)
Editor: Jujang