Pada tahun 1800-an, banyak kerajaan-kerajaan di Jawa yang masih berkuasa, salah satunya seperti kerajaan Mataram di Jawa Tengah dan sekitarnya. Menurut catatan kolonial, setiap kerajaan-kerajaan yang berdiri di Jawa pernah memiliki Raja yang unik dengan karakter yang berbeda.
Catatan mengenai kebiasaan dan karakteristik penguasa kerajaan di Jawa tahun 1800- an adalah salah satu bukti yang pernah ditemukan sejarawan untuk menafsirkan sistem pemerintahan feodalis, khas kerajaan-kerajaan kuno di seluruh belahan dunia.
Lalu apa saja kebiasaan dan karakter unik penguasa kerajaan di Jawa itu, berikut akan dijelaskan lima kebiasaan dan karakter unik Raja Jawa yang tak pernah diketahui sebelumnya.
5 Kebiasaan dan Karakter Unik Raja Jawa
Bersifat Hedonis
Satu kebiasaan dan karakter yang dimiliki oleh Raja Jawa yaitu mewarisi sifat hedonis, atau kebiasaan menghambur-hamburkan harta untuk sesuatu hal yang tak penting. Pesta pora kerajaan yang terkenal selalu mewah adalah salah satu artefak nyata dari warisan leluhur.
Selain berbentuk pesta pora, dan menghambur-hamburkan harta kepada suatu hal yang tak penting, terkadang hedonisme jabatan juga sering dilakukan oleh Raja Jawa. Terkadang juga ia melakukan tindakan sewenang-wenang.
Baca Juga: Sejarah Batavia Tahun 1800-an, Pernah dijuluki Kota Terbesar dan Terkaya
Jhon Stamford Raffles dalam History of Java (2008: 171), menyebutkan ketika raja berkuasa dalam satu kerajaan, maka kebiasaan yang dilakukan adalah menundukan wilayah kerajaan-kerajaan lainnya yang ada di Hindia Belanda.
Strategi Pecah Jabatan
Selain bersifat hedonis, Raja Jawa juga sering melakukan politik pemerintahan yang bersifat strategi pecah jabatan. Karakter unik dari Raja Jawa ini termasuk mencoba memecah jabatan kenegaraan yang sebetulnya tak perlu dilakukan. Sebab jabatan yang tidak perlu di pecah itu sebetulnya tidak akan membuat sistem negaranya menjadi mundur.
Namun karena warisan hedonisme yang kuat, dan memiliki sifat yang selalu curiga dengan penghianatan dalam pemerintahan, Raja kemudian memiliki strategi pecah jabatan. Dalam sumber yang sama menyebutkan jika raja sangat menyukai bagi-bagi jabatan.
Beberapa karakter atau sifat Raja ini selain muncul karena faktor terbiasa diasuh oleh kemewahan, ternyata bagi Raffles hal ini merupakan strategi politik untuk melanggengkan kekuasaan Raja. Raja berusaha untuk melegitimasi dirinya seumur hidup memerintah.
Adapun beberapa hasil dari strategi pecah jabatan ini adalah pembagian jabatan seperti; bopati, pateh, dan mantri.
Bagi pandangan pemerintah Belanda ini adalah pemborosan anggaran negara. Sebab untuk menyelesaikan banyak permasalahan sebetulnya bisa saja dilakukan oleh satu jabatan tertentu. Karena itulah kebiasaan senang bagi-bagi jabatan ini dianggap sebagai karakter unik yang ada pada diri Raja Jawa.
Gemar Memerintah
Barangkali ini suatu hal yang menggelitik bagi sebagian orang. Sebab Raja yang gemar memerintah tentu itu sifat kodratiah penguasa di mana pun berada. Namun bagi Raffles ini merupakan suatu hal yang aneh, sebab dalam pemerintahan negaranya di Eropa, Raja akan memerintah pada bawahannya dalam beberapa keadaan mendesak saja.
Namun tidak seperti halnya Raja di Jawa yang sangat manja. Sebab hanya untuk menikmati buah saja harus disediakan dan disuapi. Selain itu dalam urusan pemerintahan dalam negeri dan luar negeri juga Raja akan memerintah bawahannya. Padahal menurut Raffles ini merupakan peluang dari orang Eropa untuk menguras habis kekayaan alam Nusantara.
Baca Juga: Thomas Stamford Raffles Ungkap Karakteristik Orang Jawa Masa Kolonial
Adapun pembagian jabatan yang mengurus hubungan dalam negeri dikerjakan oleh Patih Dalem. Ia mengurus segala kepentingan kerajaan yang bersifat antar wilayah kekuasaan. Kedua yaitu jabatan yang mengurus hubungan luar negeri dikerjakan oleh Patih Luar. Ia mengurus segala kepentingan kerajaan yang berhubungan dengan luar negeri, biasanya urusan bisnis yang mengarah pada perdagangan.
Mewarisi Sifat Feodalisme yang Kuat
Karakter unik raja di Jawa membuatnya berbeda dengan Raja Eropa pada era feodal. Raja di Jawa lebih mewarisi sifat feodalisme yang kuat dibandingkan dengan pemimpin kerajaan yang ada di Eropa.
Orang berkulit putih sudah tidak mengharapkan feodalisme tumbuh karena dampak yang ditimbulkan justru penindasan bagi rakyat, namun Raja di Jawa mengira itu bukan penindasan namun perbudakan.
Perbudakan dan penindasan di mata Raja Jawa sangatlah berbeda. Sebab perbudakan adalah hak kerajaan untuk memerintah budak-budaknya yang sebagian besar terdiri dari rakyatnya, sementara penindasan adalah perbudakan di luar rakyatnya.
Sifat feodalis yang kuat ini dipercaya berasal dari tradisi yang telah turun temurun. Prinsip utama dari sistem feodal yang bentuk dasar dari seluruh bangunan besar sistem feodal adalah tanah sebagai hak milik raja. Sedangkan penduduk yang ada di wilayah tersebut adalah budak raja.
Meskipun Banyak Kekurangan, Raja Harus Tampil Berwibawa
Raja juga dituntut untuk terus tampil dengan wibawa yang kuat. Meskipun banyak kekurangan dalam memerintah, raja harus menyembunyikannya dengan tampil penuh kharisma.
Selain dituntut berwibawa, karakter dan kebiasaan Raja Jawa juga sangat dilarang menarik ucapan yang sudah ditetapkan karena perintah raja sama dengan perintah semesta.
Baca Juga: 5 Komoditas Ekspor Impor Era Kolonial, Salah Satunya Opium
Raja Pemegang Tanggung Jawab Rakyatnya
Secara garis besar Raja merupakan pemegang tanggung jawab atas rakyatnya. Segala putusan raja adalah pertimbangan dari alam semesta yang diberikan untuk rakyatnya. Tak jarang ini yang membuat raja selalu bermeditasi sebelumnya untuk memutuskan kebijakan bagi rakyatnya.
Jika raja atau pemegang jabatan penting lainnya seperti, Bupati, Adipati, dan Mantri tidak bekerja sesuai dengan harapan rakyatnya, maka itu sama dengan burung elang yang terbang tinggi berkeliaran di udara, tapi menurun rendah ke bumi untuk mencari dan mencuri makanan. Ia termasuk orang yang tidak bisa dipercaya dan pendusta.
Itulah beberapa kebiasaan dan karakter unik dari Raja Jawa yang diungkap Sir Jhon Stamford Raffles dalam History of Java. (Erik/R7/HR-Online)
Editor: Ndu