Sejarah Idul Adha di dalam Islam sangat menarik. Sebagai umat muslim, wajib mengetahui sejarah dari Idul Adha ini. Tentu saja karena dalam ajaran Islam Idul Adha adalah salah satu hari raya penting bagi umat muslim.
Di dalam Islam, ada dua hari raya yang sangat penting, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha. Keduanya terjadi satu kali selama satu tahun, jadi sangat spesial.
Hari Raya Idul Adha jatuh pada 10 Dzulhijjah. Nama lain dari Idul Adha sebenarnya adalah Hari Raya Haji, karena bertepatan dengan ibadah haji.
Sejarah Idul Adha dalam Islam
Sebagai umat muslim, tentu saja kita perlu mengetahui apa itu Hari Raya Idul Adha. Hari raya satu ini identik dengan qurban.
Tentunya Hari Raya Idul Adha juga sudah tidak asing karena terjadi setiap tahun. Semua umat muslim di seluruh dunia pasti merayakannya.
Jangan sampai kita merayakan Hari Raya Idul Adha tanpa tahu maknanya. Untuk memahami makna tersebut, kita perlu mempelajari sejarahnya yang tepat.
Idul Adha terjadi beberapa bulan setelah hari Raya Idul Fitri. Perayaan dari Idul Adha ini juga berbeda karena identik dengan qurban.
Qurban sendiri adalah pemotongan hewan ternak. Orang yang berkurban akan mendapatkan berbagai keutamaan dari Allah SWT.
Ternyata, semua amalan di Idul Adha ini ada maknanya. Berikut penjelasan lengkap mengenai sejarah Hari Raya Haji ini.
Kisah Nabi Ibrahim dan Ismail
Sejarah Idul Adha ini bermula dari kisah teladan Nabi Ibrahim dan juga sang anak, Nabi Ismail. Keduanya merupakan Nabi yang wajib umat Islam ketahui.
Peristiwa bermula saat Nabi Ibrahim mendapat perintah untuk mengorbankan putranya, Nabi Ismail. Hal tersebut ia lakukan sebagai bentuk kepatuhannya kepada Allah SWT.
Kala itu, Nabi Ibrahim berusia lanjut, bahkan suatu riwayat menyebutkan usia Ibrahim saat itu berusia 85 tahun, belum memiliki anak bersama sang istri yang bernama Siti Hajar.
Nabi Ibrahim pun berdoa kepada Allah SWT untuk mendapatkan keturunan. Doa tersebut ada di dalam Al-Qur’an surat Ash-Shaffat ayat 100:
رَبِّ هَبْ لِي مِنَ الصَّالِحِينَ
Artinya: Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.
Melalui doa tersebut, Allah SWT akhirnya mewujudkan keinginan Nabi Ibrahim. Pada akhirnya, lahirlah seorang anak laki-laki bernama Ismail.
Mendapat Mimpi
Setelah kelahiran Nabi Ismail, sejarah Idul Adha dimulai. Ketika Nabi Ismail masih bayi, sang ibu Siti Hajar dan Nabi Ibrahim harus berpisah.
Nabi Ibrahim saat itu mendapatkan tugas besar dari Allah SWT. Pada akhirnya, keluarga tersebut bertemu kembali di padang Arafah.
Dalam perjalanan pulang, mereka bermalam di Masya’ir Haram karena kelelahan. Pada saat itu, Nabi Ibrahim bermimpi.
Di dalam mimpi tersebut, Nabi Ibrahim AS diminta untuk membunuh sang anak. Bahkan ketika rindu kepada sang anak ia tinggalkan hingga dewasa karena tugas mulia belum terbayarkan.
Pada saat itu nabi Ibrahim merasa Allah SWT memberikan ujian yang berat untuknya dan keluarganya.
Menyembelih Anak Kandung
Sejarah Idul Adha tertuang di dalam Al-Qur’an surat As-Saffat ayat 102 yang menjelaskan perintah Allah SWT agar Ibrahim mengorbankan Ismail.
Dengan bijaksana dan lembut, Ismail berkata kepada sang ayah bahwa itu adalah perintah Allah SWT. Ia meminta sang ayah untuk melakukannya.
Setelah semua ikhlas dan percaya bahwa itu adalah perintah Allah SWT yang mulia, akhirnya Ibrahim akan menyembelih Ismail.
Sebelum menyembelih, Ismail meminta Ibrahim untuk mengikatnya dengan kuat agar dirinya tidak bisa bergerak dan merepotkan ayahnya.
Ismail bahkan meminta sang ayah untuk menanggalkan pakaiannya agar tidak terkena darah dan mempercepat proses penyembelihan. Dengan demikian, ia berharap rasa sakit akan berkurang.
Terakhir, Ismail juga meminta sang ayah untuk memberikan pakaiannya kepada sang ibu untuk menghibur kesedihannya.
Setelah mencium dan memeluk ismail, Ibrahim meneteskan air mata sambil mendekatkan parang tajam ke arah leher sang anak.
Akan tetapi, secara mengejutkan benda tersebut menjadi tumpul dan tidak berfungsi. Ternyata, itulah mukjizat dari Allah SWT.
Meski ujian bagi Ibrahim dan Ismail, Allah akan senantiasa memberikan pertolongan kepada mereka. Setelah itu, Allah memerintahkan Ibrahim untuk mengganti Ismail dengan domba yang gemuk.
Pada akhirnya, domba terikat di pohon dekat Gunung Tsubait. Nabi Ibrahim pun menyembelih domba tersebut di Mina.
Itulah sejarah Idul Adha yang penuh haru. Nabi Ibrahim AS dan Siti Hajar rela mengorbankan sang anak demi perintah Allah SWT, begitu juga dengan Ismail. (R10/HR-Online)