Lambda varian menjadi salah satu bentuk mutasi virus Corona yang mengkhawatirkan sejumlah orang di seluruh dunia. Adanya lonjakan mengenai kasus Corona yang terjadi di sejumlah negara banyak yang menyebut sebagai akibat dari varian terbaru Covid-19.
Dengan virus yang bermutasi ini membuat timbulnya gejala baru pada pasien yang terpapar. Sejumlah verian terbaru yang menjadi perhatian ilmuwan sekarang ini cukup banyak. Antara lain Kappa, Lambda juga Delta.
Keberadaan varian terbaru ini juga mengkhawatirkan tentang pemberian vaksin kepada pasien. Pasalnya terdapat varian yang memiliki kekebalan terhadap sejumlah jenis vaksin. Karena inilah masyarakat patut waspada dan mengenal Lambda varian agar mewaspadai penularan virus tersebut.
Mengenal Lambda Varian
Organisasi kesehatan Dunia yakni WHO mengelompokan varian-varian baru corona ke dalam VOC juga VOI. Adapun VOC ialah daftar Varian of Concern. Sementara kelompok VOI ialah Variant of Interest. Salah satu jenis varian yang sejauh ini sudah terdeteksi oleh dunia adalah Lambda varian.
Varian terbaru dari virus Corona dengan nama C.37 ini kemudian WHO beri nama sebagai Lambda. Badan WHO melabelinya sebagai Variant of Interest sejak pertengahan bulan Juni 2021 lalu. Varian tersebut pertama kali Teridentifikasi di kawasan Peru pada bulan Agustus tahun 2020 lalu.
Sekarang keberadaannya sudah tersebar hingga dalam 29 negara lainnya di dunia. Ahli virology dari pihak WHO yakni Jeiro Mendez Rico memberikan pendapatnya mengenai varian ini. Pihaknya berkata jika tak menemukan kalau Lambda lebih agresif daripad jenis varian lain.
Ia berkata jika terdapat kemungkinan varian ini menunjukkan tingkat infeksi cenderung lebih tinggi. Akan tetapi mereka belum mempunyai cukup data yang bisa ilmuwan andalkan sebagai perbandingan dengan Delta maupun Gamma.
Pablo Tsukayama yakni seorang ahli virology lain juga sudah melakukan pelacakan serta identifikasi berbulan lamanya pada varian ini. Ia menyebut kecepatan transmisi pada Lambda varian lebih tinggi daripada jenis lainnya yang WHO anggap jauh begitu berbahaya.
Gejala Varian Lambda
Masyarakat diharapkan berhati-hati terhapad Lambda varian yang kini sudah beredar di sejumlah negara. NHS atau National Health Service dari kawasan Inggris mengelompokan gejala Corona dari varian ini yang patut masyarakat waspadai.
Adapun gejala pertama adalah suhu tubuh yang tergolong tinggi. Gejala berikutnya ialah sakit batuk yang terus menerus juga berkepanjangan. Selain itu gejala selanjutnya kehilangan maupun perubahan yang terjadi pada indera penciuman ataupun perasa.
Berdasarkan laporan dari badan WHO, mereka menyebut jika mutasi varian jenis ini bisa meningkatkan penularan pada penderita. Senada dengan pernyataan WHO, ahli virology di kawasan Peru juga mengeluarkan pendapatnya.
Sang ahli berkata jika varian tersebut lebih cepat menyebar daripada strain yang orang anggap berbahaya. Bahkan tingkat penyebarannya mengalahkan varian gamma yang sudah merajalela di negara Brasil.
Ahli virology tersebut juga menekankan jika Lambda mudah menular serta menyebar lebih cepat di kawasan Peru. Negara tersebut dengan 187 ribu angka kematian dan merupakan jumlah tertinggi di dunia.
Sehingga mereka mengemukakan jika negara paling berjuang dalam menghadapi virus Corona. Karena itulah menurutnya tak heran jika varian terbaru sudah mualai dari Peru. Meskipun begitu, Public Health England menyatakan belum ada bukti jika Lambda menyebabkan penyakit yang begitu parah.
Juga pihak tersebut belum menemukan jika Lambda menyebabkan pemberian vaksin kurang efektif. Tetapi varian ini sudah menyumbang sekitar 82 persen kasus terbaru pegara tersebut. Sehingga satu dari 3 kasus yang terkonfirmasi di kawasan Chili adalah varian C.37 ini.
Di kawasan Chili sendiri sebanyak 32 persen kasus Lambda varian sudah terdeteksi dalam kurun waktu 60 hari terakhir.
Menjadi Varian Yang Ilmuwan Khawatirkan
Keberadaan varian Delta dari virus corona sudah menyebabkan gelombang kedua pandemi di negara India pada bulan Mei serta April. Bahkan lonjakan kasus tersebut sudah terjadi hampir di seluruh dunia. Saat perlawanan terhadap varian Delta sedang berlangsung kini muncul jenis lain yakni Kappa serta Lambda varian.
Kemunculan varian ini sudah membuat sejumlah ahli di bidang kesehatan menjadi wasapada. Varian Lambda masuk dalam VOI oleh organisasi kesehatan di dunia yakni WHO masing-masing di bulan April serta Juni.
Menurut WHO, VOI merupakan varian yang sudah Teridentifikasi menjadi penyebab penularan sejumlah kluster Covid-19. Juga sudah terdeteksi di banyak negara dunia. Kedua varian Lambda juga Kappa mereka katakana mempunyai banyak mutasi pada protein lonjakan kasus.
Selain itu juga sebagai faktor yang menjadi penyebab penyebaran virus. Meskipun belum terdapat kasus varian ini yang mereka temukan di India, sejumlah ahli khawatir jika membuka perjalanan internasional bisa membawa varian ini.
Dalam laporannya di tanggal 25 Juni lalu, PHE memperingati jika Lambda mempunyai potensi tingkat penularan. Serta kemungkinan dapat meningkatkan resistensi pada antibody manusia. Varian tersebut masuk dalam garis keturunan virus B.1.1.1.
Sementar itu, tingkat efektivitas vaksin yang ada belum ahli ujicoba baik pada Kappa maupun Lambda varian. Para ahli tengah melakukan pengurutan genom yang berasal dari varian muncul. Tujuannya untuk memahami baik gejala serta tingkat keparahan variannya.
Lebih Kebal Vaksin Juga Cepat Menular
Para peneliti di kawasan Chili menunjukan data terbaru terkait keberadaan Lambda varian. Mereka mengatakan jika varian ini berpotensi lebih menulat daripada jenis lainnya seperti Delta, Gamma maupun Alpha.
Selain itu pemberian vaksin Covid-19 kemungkinan tak memberikan perlindungan cukup guna melakukan perlawanan terhadap varian tersebut. Para peneliti menunjukan untuk pertama kalinya tentang protein lonjakan Lambda memberikan pelepasan tentang antibody penawar juga peningkatan terkait infektivitas.
Menurut WHO, negara di kawasan Amerika Latin tersebut mempunyai tingkat kematian tertinggi di dunia sebagai akibat dari penularan virus tersebut. Sedangkan pada negara terdekat yakni Chili, varian sau ini menyumbang hampir satu pertiga dari jumlah kasus yang belum lama ini terjadi.
Kemunculan Lambda menjadi kekhawatiran untuk sejumlah ahli yang ada di kawasan Amerika Latin. Selain itu kemunculannya juga membuat para ahli menjadi bingung. Hal ini karena bentuk mutasinya yang tak biasa.
Laporan tentang Lambda juga berasal dari Direktur Welcome Sanger Institute yakni Jeff Barrett. Ia berkata jika Lambda mempunyai pola yang tergolong unik dari tujuh mutasi Hal ini terkait protein lonjakan yang virus gunakan guna menginfeksi sel di dalm tubuh manusia.
Para peneliti begitu tertarik pada salah satu mutasi yang bernama L452Q. Mutasi tersebut memiliki kemiripan dengan L452R yang berkontribusi penularan cukup tinggi dari varian bernama Delta. Laporan sejumlah ilmuwan mengungkap terdapat kekhawatiran jika vaksin yang ada saat ini tidak begitu efektif untuk menetralkan varian virus Lambda.
Karena itulah, masyarakat patut waspada pada varian ini meskipun belum masuk ke Indonesia. Patuhi semua protokol kesehatan yang sudah pemerintah tetapkan juga mengikuti program vaksinasi. Dengan begitu kita berharap terhindar dari virus termasuk Lambda varian yang kini menghantui.