Spesies Oculudentavis naga berupa tengkorak seekor burung kecil menjadi penemuan terbaru. Tim ilmuwan mengawetkannya dalam damar Myanmar berusia 100 juta tahun. Berdasarkan makalah yang terbit di jurnal ilmiah terkenal Nature, temuan tersebut berasal dari periode Kapur.
Ilmuwan Menemukan Spesies Oculudentavis Naga
Tengkorak mempunyai panjang 14 milimeter, jadi lebih kecil daripada burung kolibri lebah, yakni burung terkecil yang masih hidup. Sehingga Oculudentavis khaungraae menjadi spesies terbaru dinosaurus terkecil.
Baca juga: Fosil Bayi Tyrannosaurus di Kanada, Ukurannya Sebesar Anjing Dewasa
Mengutip chinadaily.com.cn, tengkorak fosil terpelihara dengan baik. Kemudian Spesies Oculudentavis naga mempunyai deretan hampir 100 gigi memanjang di bawah matanya yang besar. Selain itu, mendapat dukungan cincin sklera atau tulang mata dari struktur yang unik.
Jumlah gigi yang luar biasa banyak dan bentuk mata unik sangat menyulitkan ahli paleontologi. Dalam hal mengklasifikasikan spesimen yang mendapat julukan Teenie Weenie.
Ahli paleontologi di China University of Geosciences, Xing Lida adalah pemimpin dari penelitian ini. Ia kagum saat pertama kali melihat gambar pada tahun 2016.
Spesies Oculudentavis naga terlalu aneh, seperti anak panah kecil dengan paruh panjang dan mata besar. Hanya burung yang mempunyai karakteristik seperti demikian. Namun, fosil itu mempunyai gigi terlalu banyak. Pada umumnya lebih banyak dari burung-burung kapur awal.
Baca Juga: Spesies Dinosaurus Australotitan Cooperensis, Terbesar di Australia
Spesimen Terkecil
Oculudentavis sebenarnya merupakan spesimen baru yang tidak pasti. Penafsiran baru dan penempatan filogenetik menyoroti kasus langka evolusi konvergen dalam proporsi tengkorak. Namun, tampaknya tidak dalam karakter morfologis.
Terlihat fosil spesies Oculudentavis naga memiliki prosesus rahang atas yang mempunyai proses skuamosa panjang dari postorbital. Kemudian tempurung otak relatif lebih kecil. Proses basi pterygoid pendek dan meluas ke distal.
Para ilmuwan berspekulasi jika sekitar 100 juta tahun lalu burung ini hidup di Lembah Hukawng tropis. Merupakan daerah lembab di Myanmar utara, tempat ambar ditambang.
Namun sayangnya, hewan terperangkap oleh gumpalan resin yang telah jatuh dari pohon. Sehingga meninggalkannya dan terawetkan di dalam damar.
Hal paling menarik tentang spesimennya adalah ukuran yang sangat kecil. Ahli paleontologi mencatat jika hewan kecil ini harus menghadapi masalah baru. Seperti saat menyesuaikan organ sensorik yang terdapat di kepala yang sangat kecil.
Selain itu, bagaimana mempertahankan panas tubuh. Proses ini sering disebut miniaturisasi yang terjadi di lingkungan terisolasi seperti pulau. Hewan biasanya akan kehilangan gigi dan mata yang membesar selama miniaturisasi.
Meskipun ukurannya kecil, spesies Oculudentavis naga mempunyai banyak gigi daripada fosil burung yang lain. Sejumlah besar gigi menunjukkan jika hewan tersebut predator.
Kemudian hal aneh lain terdapat pada mata yang berdiameter 4 mm. Untuk membantu menopang mata, burung ini mempunyai cincin tulang. Sebuah morfologi yang sebelumnya tidak ada pada beberapa kadal hidup.
Fitur tersebut sangat membingungkan dalam spesimen ini. Sebelumnya belum ada hewan hidup yang memakai jenis sistem visual seperti itu. Sehingga sulit memahami bagaimana mata spesies Oculudentavis naga akan berfungsi.
Baca Juga: Spesies Dinosaurus Tlatolophus Galorum di Meksiko Sangat Komunikatif
Karakteristik Tengkorak
Karena fosil hanya berupa tengkorak, maka belum ada kejelasan bagaimana menghubungkannya dengan burung lain. Para peneliti mengatakan jika tengkorak tersebut mempunyai bentuk hanya pada burung dan beberapa dinosaurus. Tidak ada morfologi tengkorak khusus yang mendefinisikannya, bisa jadi dinosaurus atau hewan lain.
Spesies Oculudentavis naga faktanya memiliki beberapa karakteristik. Burung bahkan dinosaurus lain tidak memilikinya. Namun, saat ini tim beranggapan jika kesimpulan yang paling mungkin bila melihat karakteristik tengkorak adalah sebagai dinosaurus atau burung.
Karena bagi ahli paleontologi burung adalah dinosaurus. Spesimen ini kemungkinan akan mewakili batas terendah ukuran tubuh selama jaman dinosaurus.
Analisis menunjukkan jika burung kecil itu sangat primitif. Oculudentavis kemungkinan mempunyai ekor panjang, seperti dinosaurus non unggas.
Sebagai penghormatan pada kolektor yang menemukannya, Kahung Ra, maka nama burung tersebut adalah Oculudentavis khaungraae. Keuntungan terbesar dari amber adalah pada pelestarian kualitas tinggi dari detail halus tengkorak.
Misalnya saja fitur jaringan lunak yang belum diawetkan dari spesimen lain, seperti benjolan kecil pada kepala. Selain itu, seperti cincin tulang yang menopang mata.
Penemuan spesies Oculudentavis naga bermanfaat untuk mempelajari vertebrata kecil dari zaman dinosaurus. Spesimen tersebut dapat mewakili kelas ukuran kecil dalam endapan fosil. Namun hewan itu terlalu kecil untuk diawetkan sebagai fosil untuk kepentingan identifikasi. (R10/HR Online)