Berita Pangandaran, (harapanrakyat.com),– Sebagian besar produsen tempe tahu di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat, tidak mau memakai kedelai lokal sebagai bahan baku.
Mereka lebih memilih kedelai impor dari Amerika. Akibatnya para petani kedelai kesulitan memasarkan hasil panennya di pasaran.
Sementara produktivitas kedelai di Kabupaten Pangandaran sendiri cukup baik. Selain itu juga tingkat kesuburannya maksimal.
Lantas apa alasan produsen tempe tahu di Pangandaran lebih suka menggunakan kedelai impor dibanding kedelai lokal?
Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura di Dinas Pertanian Kabupaten Pangandaran, Aep Haris menjelaskan, para produsen tempe tahu menilai kedelai lokal memiliki beberapa kelemahan.
“Katanya, kedelai lokal itu ukurannya kecil atau tidak seragam,” kata Aep, Senin (31/5/2021).
Alasan Produsen Tempe Tahu Tak Menggunakan Kedelai Lokal
Selain itu, kelemahan lainnya dari kedelai lokal menurut para produsen tempe tahu adalah kedelai lokal kurang bersih. Sehingga pada saat proses pencucian kulit ari kacang sulit terkelupas. Akibatnya proses peragian pun memakan waktu lama.
“Kalau dilihat dari nilai gizi sebenarnya kedelai lokal ini lebih unggul daripada kedelai impor yang sudah melalui perlakuan rekayasa saat penanaman,” jelas Aep.
Harga kedelai impor juga lebih murah dibanding harga kedelai lokal. Hal inilah yang membuat produsen tempe tahu di Pangandaran lebih memilih kedelai impor.
Bukan hanya di Pangandaran, fenomena ini juga terjadi di tingkat nasional. Hal ini terlihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan impor kedelai ke Indonesia sepanjang semester 2020 mencapai 1,27 juta ton.
“Pernah Guru Besar Bidang Pangan, Gizi, dan Kesehatan IPB memberikan pernyataan produktivitas kedelai di Indonesia hanya setengahnya dari produktivitas kedelai di Amerika,” jelasnya.
Sementara data secara nasional menunjukkan tingkat produksi kedelai di Indonesia sekitar 2 ton per hektar. Jauh berbeda apabila dibandingkan dengan tingkat produksi di AS yang mencapai 4 ton per hektar.
“Impor kedelai dari Amerika 2 juta ton itu, 70 persen dialokasikan untuk produksi tempe. Sementara 25 persen untuk produksi tahu,” jelasnya.
Saat ini produksi kedelai lokal secara nasional menyusut drastis hingga di bawah 800.000 ton per tahun. Hal ini berbanding terbalik dengan kebutuhan nasional yang mencapai 2,5 juta ton.
“Ini juga yang menjadi kesulitan petani kedelai lokal di Pangandaran. Hasil produksinya belum bisa bersaing di pasaran,” tandas Aep. (Ceng2/R7/HR-Online)
Editor: Ndu